Saat “Low-bat “ pun tiba, ada hal yang memudahkan segalanya untuk menutup hari

Kramotak adalah fase dimana otak kita seakan kram, tapi dimana pegalnya otot-otot otak ini?

Ternyata keseharian manusia dalam mengawali satu rutinitas, mendapatkan momentum tertinggi dalam kurun waktu 2–3 jam pertama, selanjutnya pintar-pintar kitalah mengatur ritme agar tidak berujung brain drain.

Sosmed dan kawanannya memecah atensi dan fokus, membuat multi-tasking hanya akan menambah parah brain drain, lowbat.

Jangan mencari solusi lewat sebuah teknologi, yang ternyata kedepannya justru membutuhkan lagi-lagi peran teknologi dalam perjalanannya.

Ambience dengan 432Hz-nya.

Frekuensi 432Hz membuktikan efek manfaatnya lebih baik secara emosional daripada 440Hz. Masaru Emoto membuktikan sama, via water love words experiment-nya.

Mengubah semua musik — ambiens yang saya dengar di kala brain drain dengan 432Hz, solutif.

Disconnected.

Airplane mode, jauhkan charger-an dari samping tempat tidur, biarkanlah sang gadget juga ikutan low-bat, serupa majikannya.

Tidak perlu fear of missing out, ketakutan cek sedikit-sedikit.

Apa yang terjadi di luar sana, dunia maya, yang kita sendiri juga belum menjamahnya semua, tidak akan kenapa-kenapa sekalipun malam ini terlewatinya.

Banjuran air hangat diiringi adukan busa shampoo di atas kepala, sekarang biarkan sehelai handuk bekerja mengeringkan yang basah.

Secangkir teh manis hangat dicampur sesendok madu, menemani fase menunggu kantuk dengan sebuah buku digenggaman tangan saya.

Sepuluh, lima belas, tak terasa tiga puluh menit berjalan.

Saatnya merebahkan badan disamping makhluk mungil bertudung jaring sebagai pelindung bobo-nya.

Ayah, Almagest dan Bunda menyambut malam.