Konsep Ashram Modern yang Menyatu dengan Alam

Lahan hijau di Bali kian tergerus untuk pemukiman. Benarkah demikian? Dewasa ini memang sulit kita temui kawasan hijau yang asri di tengah kota, baik kota kecil maupun kota-kota besar. Perubahan lingkungan yang sangat pesat tentu akibat dari berbagai kemajuan teknologi yang tiada henti-hentinya bertransformasi. Seiring perkembangan zaman dan bertambah padatnya jumlah penduduk, mengakibatkan semakin banyaknya lahan hijau disulap menjadi barbagai bentuk pemukiman warga. Hal ini tentu tidak dapat dipungkiri, karena rumah merupakan keperluan pokok manusia sebagai tempat tinggal dan tempat untuk berlindung dari berbagai perubahan cuaca. Walaupun demikian, di daerah Bali khususnya, ternyata masih banyak tempat-tempat lahan hijau yang telah dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan hijau tersebut menjadi sebuah ashram. Di Bali masih banyak kita temui ashram-ashram, meski tempatnya sedikit terpelosok dan cenderung terletak di desa.

Secara etimologi kata Ashram berakar dari bahasa Sanskerta yaitu “aashraya”, yang berarti perlindungan. Dalam bahasa Indonesia, kata Ashram berubah menjadi Asrama. Namun, pada konteks ini kata ashram dengan asrama memiliki arti yang berbeda. Sebab, ashram merupakan suatu tempat yang bukan berisikan bangunan saja, tetapi memiliki lahan hijau yang luas dan sangat dekat dengan alam terbuka. Sedangkan asrama telah memiliki perluasan arti yang bisa menjadi tempat tinggal siapa saja di dalam suatu lingkungan maupun suatu bangunan, contohnya seperti Asrama Kodim, Asrama Polisi maupun Asrama Kampus. Pada zaman dulu Ashram didefinisikan sebagai tempat orang suci melakukan pertapaan di tengah-tengah alam dan juga merupakan tempat tinggal bagi para siswa yang sedang menuntut ilmu dengan sang guru. Namun kini, telah banyak ashram dibangun dengan memiliki tujuan-tujuan tersendiri sesuai dengan visi dan misi dari ashram tersebut, seperti sebagai panti asuhan umat Hindu, sebagai tempat belajar dan melakukan persembahan tertentu terhadap Dewa maupun Dewi yang dipuja, maupun sebagai laboratorium sosial yang memiliki pendekatan terhadap masyarakat dan juga lingkungan.

Ashram Gandhi Puri “Sevagram” Klungkung merupakan ashram Hindu yang letaknya sangat dekat dengan pusat kota Kabupaten Klungkung. Ashram ini berfungsi sebagai laboratorium sosial yang memiliki pendekatan terhadap masyarakat dan juga lingkungan. Di era zaman pembangunan seperti saat ini, tipe ashram seperti ini lah yang sangat diperlukan. Suasana asri dengan pepohanan serta berbagai jenis tanaman yang rimbun tumbuh dengan subur di ashram ini. Jenis tanaman yang ada di ashram ini sengaja hanya untuk tumbuhan yang dapat menghasilkan buah, bunga termasuk berbagai jenis tanaman sayur-sayuran dan juga umbi-umbian. Tujuannya adalah agar para penghuni ashram dapat memanfaatkan secara langsung hasil dari setiap tanaman yang ada tanpa perlu membeli di pasar. Hal ini tentu merupakan suatu metode yang sangat efektif dan efesien mengingat segala hasil alam dapat dimanfaatkan dengan maksimal, selain itu hal ini juga secara tidak langsung telah mengamalkan pelaksanaan Undang Undang №23 Tahun 1997 yakni tentang tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup.

Pemilik dari Ashram Gandhi Puri “Sevagram” Klungkung yaitu Guruji Indra Udayana yang membangun serta merintis ashram ini sejak tahun 1995 silam. Di atas tanah seluas 1,3 hektar are ini lah ashram ini di bangun. Karena tempatnya yang sangat asri dan sunyi kemudian letaknya juga sangat dekat dengan daerah bukit dan sungai yakni Bukit Mandean dan Sungai Kali Unda. Sehingga hal ini menyebabkan berbagai instansi-instasi pendidikan tertentu seperti sekolah maupun kampus menggunakan Ashram Gandhi Puri “Sevagram” Klungkung ini sebagai tempat untuk berkemah dan melakukan kegiatan hiking. Tak jarang Ashram Gandhi ini didatangi oleh tamu-tamu Internasional yang rela menginap dan berbagi ilmu kepada anak-anak ashram. Konsep yang diusung oleh ashram ini patut dijadikan contoh karena sangat memperhatikan dan dapat memanfaatkan potensi alam dan lingkungan dengan baik. Sehingga senantiasa memiliki hubungan yang sangat erat dan dapat membawa keuntungan antara satu sama lain yaitu manusia dengan alam lingkungan. (dga)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.