Kiki…

Malam ini gundah itu kembali lagi. Seketika membuatku merasa terpojok diruangan yang memang sudah sempit ini. Mengusir kantuk dari tempatnya bersemayam, sampai mata tak lagi nyaman terpejam.

Sebagai satu-satunya orang yang ‘ada’ disini, kau tentu tau bagaimana perasaan itu. Tapi, biarkan aku tetap bercerita untukmu. Setidaknya hingga aku merasa nyaman sampai tertidur di sampingmu.

Kau tahu aku, kan? Sangat mudah membuatku merenung dan gundah, terutama ketika aku sadar dimana aku berada.

Kali ini pun sama, Rio. Satu hal sederhana saja membuat seluruh perasaan itu meletup sampai permukaan. Kuharap bukan air mata yang akan keluar.

Sesederhana melihat ia bercengkrama dengan orang-orang hebat. Hanya itu. Kenapa dia, dan bukan aku? Kenapa aku malah teronggok lemas, tidur diatas busa yang juga telah kempis karena tua.

Apakah aku juga akan seperti itu, Rio? Apakah petualangan itu juga hanya akan menjadi cerita kapuk yang akan terbang menjauh terkena angin? Sementara aku disini terus mengulangnya, lalu ia menghilang lagi.

Melihat ia tersenyum dengan kumpulan orang luar biasa, membuatku merasa apa yang sudah aku lakukan sudah usang dan tak lagi relevan. Singkatnya, ia jauh lebih menawan daripada dirimu yang sekarang, yang hanya mempedulikan hal seremeh ‘esok makan apa’.

‘Itu dulu, dan sekarang bukan apa-apa lagi. Kau bukan apa-apa sekarang.’

Rasanya aku tak memiliki muka untuk bertemu dengan orang-orang tersayangku. Mungkin hanya senyum kecut yang tampak tak berdosa.

Setidaknya, saat itu tiba, aku bukan orang yang penuh salah. Tapi juga bukan orang yang membahagiakam, kau tahu. Tak mampu berbuat apa-apa.

Terbayang tak, bagaimana beratnya jika aku mencoba sejajar dengannya? Bahkan aku tak sanggup jika harus mendengar orang lain bertanya ‘kamu siapa?’.

Gundah ini mencekikku, erat.

Tapi, tertidur tanpa melakukan sesuatu juga membuat gundahku semakin luas. Kamu tahu itu juga. Aku tak menginginkannya.

I’ve to do something. Yeah!

Tapi… Apa?

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Impianku terlalu banyak. Imajinasiku tak sebanding dengan kecil badan dan nominal koinku.

Layaknya sebuah tangan yang ingin mengambil seember air di laut. Impian itu terasa berat. Tak adakah sesuatu yang mudah untuk dicapai?

Sayangnya tidak. Hanya untuk mencari makan pun aku harus bekerja siang sampai malam.

Sejenak hatiku tenang, tapi kini kembali gundah, Rio. Semua terlihat begitu berat, hingga akhirnya hanya terpendam dalam.

Saat seperti ini, aku hanya bisa mengingat Allah, dan tentu saja Muhammad. Tapi tetap saja dengan kelemahanku.

Tunggu, Muhammad?

Ia, yang besar tanpa sesuatu yang memperbanyak dunianya. Ia yang sempurna karena kesederhanaannya. Bukankah seperti itu? Bahkan sebelum genap sepuluh tahun ia telah yatim piatu!

Bagaimana bisa?

Aku rasa, inilah hal yang selalu dikatakan orang tua ku, jika aku harus meneladani beliau. Dua milyar pengikut sampai hari ini, jumlah yang bahkan impianku tak seberapa.

Yang perlu aku lakukan hanya memperjuangkannya setiap hari, bukan begitu Rio? Sama seperti yang diajarkan Rasul. Tak peduli seberapa lama, sebuah ibadah akan lebih berar jika dilakukan dengan konsesten, kan?

Baiklah Rio, ini mungkin jadi gundah terakhitku hari ini. Diwaktu yang akan datang, setidaknya sampai aku menemukan seorang yang membuatku nyaman, aku akan terus merepotkanmu. Terima kasih.

Like what you read? Give Natsir Arie a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.