Hidup?

“Hidup, apa itu hidup?”

Pertanyaan yang sungguh misterius. Banyak dari kita terbius akan kehidupan itu sendiri. Melenakan dalam segala bentuknya. Tapi apa itu memang “kehidupan”?

Matahari hari ini seperti enggan bertemu. Ditemani awan berwarna abu-abu kegelapan kulalui hari seperti biasanya. Anak kecil keluar dari rumah diiringi kejaran ibu mereka yang menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu. Mereka merasa tidak ada waktu lagi. Mereka ingin bertemu dengan teman-teman mereka, menghabiskan waktu liburan yang bisa dia ceritakan nanti ketika masuk sekolah lagi.

Gang-gang kecil seperti tidak menjadi masalah mereka untuk bermain. Setiap bertemu mereka akan tertawa lepas, hanya bersenang-senang. Sapaan pagi juga aku terima dari orang yang bertemu denganku.

Ya, jika kuingat kembali, aku sudah cukup lama tinggal disini. Kota yang menjadi tujuan para perantau. Kota yang mempunyai banyak sisi. Kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.

Ditempat ini juga aku pertama kali mendaratkan diri. Semua hanya berasal dari informasi teman yang sudah duluan tinggal di kota ini. Hanya disini aku bisa hidup dengan biaya yang ada.

Pekerjaanku yang dikatakan belum tentu, membuat harus hidup dalam kecukupan versi diriku sendiri. Kadang iri hati menghinggap pada diri ini. “Kapan aku bisa menikmati kehidupanku?”. Pertanyaan yang juga aku tanyakan tentang hidup.

Semua pertanyaan seperti mengumpul dalam diri. Tidak juga menemukan jawaban karena aku tidak tahu harus mencari jawaban kemana. Aku hanya teringat kata orang-orang yang lebih tua dari aku. “Jalani aja mas, nggak usah terlalu dipikirin. Nanti juga kecapai apa yang mas inginin”.

Semoga, dalam hatiku.

Hari ini aku mendapatkan pekerjaan sebagai seorang OB (Office Boy). Pekerjaan ini kudapatkan dari teman yang juga bekerja di kantor ini. Ketika aku berfikir pekerjaan ini, aku merasa tertawa sendiri. Pekerjaan yang biasanya kulakukan ketika di rumah, di kota ini ternyata sangat berarti.

Besih-bersih, bikin kopi, beliin makanan kadang juga disuruh foto kopi. Cerita mengenai pekerjaan ini sudah kudapatkan dari temanku. Jadi aku hanya harus melakukan apa yang disuruh. Jika ada yang tidak aku mengerti tinggal tanyain ke temanku saja.

Di hari pertama aku merasa tidak banyak yang merepotkan. Tentu aku juga tidak lupa memperkenalkan diriku kepada orang-orang kantor sebagai pegawai baru di kantor ini.

Waktu seakan berlalu begitu cepat. Detik menghiraukan setiap kegiatan hari ini. Tak terasa sore sudah kujumpa. Di dekat jendela aku melihat semburat warna oranye. Teduh sekali. Akhirnya matahari menjumpai diriku di penghujung hari.

“Jo, bersih-bersih dulu ya sebelum pulang. Terus matiin semua lampu dan AC-nya”

“Iya, pak” Sahutku.

Dalam sore itu, akupun masih bertanya, “Apa itu hidup?”. Menggelayut dalam hati. Mungkin akan kutemui nanti. Bukan saat ini. Hanya perlu bersabar saja.

Like what you read? Give psycho ink a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.