Kwatrin Rabu

: untuk langit kedai kopi Legit

foto: google.com

Paru — paru mu terjemur di rabu
semayam cinta jadikanmu atma
Lekas garu tembakau agar tak bengu
Likas batu di dada mata air jemawa

Warna lampu di kotamu sepanjang rabu
Benar — benar menyimpan biru dan ungu
Biru — ungu cahayamu lekang cemburu pada kelabu
: Benar — benar serdadu berkubu dari perintahmu

Luka — duka menganga jelas di rabu
Pecah gerimis pada hujan, pada gelap yang ganas
Bumi muntah, dan isi perutnya yang kuadru
Tuhfatulajnas: dikemas dari magma — magma panas

Rabu, benar kau itu rabu
pada janji bisumu, adalah ombak, dari batu
 Juga pohon kayu gaharu
Di halaman rumah ibu — Jadi sebait lagu

O, Rabu duhai, nahas kau itu
Ketika serdadu, panglima dan raja (Ramses II)
: Ingat kita, saat hari panas magma
Tenggelamkan segala tipu daya di rabu

Betapa rabu juga rabu
Sekali meski kembali ke rabu
Aduhai rabu, hilanglah ragu
Paru — paru kali ke tujuh di tiap minggu

Di rabu dewa — dewa antusias terjaga
Jelaganya melantan, didengar pepohonan
dari hutan paling dalam, kita picisan:
anak sarwa dikawal dewa –Doa adam dan hawa

Rabu sore di dermaga cinta
Melukis gelisah pesan gendewa
Istiwa — istiwa kembali ke cinta,
tak lagi kenal kecewa, purba, ke nun jauh paling rawa

Rabu sebisu kopimu, hitam/kelabu tak menentu
sepucat dadu gelas cangkirmu
gula-gula jadi beku, jadi kelu
Gemericik airmatamu terdengar di atas batu

Batu rabu di hatimu, semoga jadi abu.
Aku yang setia kepadamu, mendengar suara 
gerak air Mengalir dari dentum jiwa mu paling syahdu:
Akuilah aku, — hamba lah batu paling saru.

Di rabu, ingatku pada getar pepohonan bukit Ubud.
Rabu di Kairo mendekamku seminggu dalam penjara.
Dari Jeddah ke Makkah, pernahku didera rindu akut.
Tapi di Khartoum debu-debu puisi, aku tulis kepadamu hanya

Di rabu, ingin ku titipkan cerah langit Khartoum di keningmu,
lalu kau kirim sepotong senja Jakarta bagi sepasang kakiku.
“Tapi atasnama rindu, aku rela jadi tabah batu,
Menanti waktu, menjadikannya abu”

(Jeddah-Khartoum 2016–2017)

Like what you read? Give Tajul Mafachir a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.