“Jangan lagi melangkah, Kalbu”

Semua berawal dari kesepakatan menjelajah. Keputusan entitas-entitas yang menyuarakan dirinya berada pada payung harmoni. Padahal setiap berganti hari, hanya egoisme diri yang menjadi-jadi. Tertutup kabut harmoni yang berasal dari kondensasi lontaran diksi-diksi penuh inspirasi. Kesempatan menjadi pelaku atas tertorehnya sejarah baru, tentu terdengar syahdu. Tetapi banyak yang tak berpijak bahwa sejatinya hanya ada satu pandu. Yaitu akal dan nurani yang berpadu.

Kehadirannya sebagai entitas adalah suatu keniscayaan yang rutenya telah ditulis dalam aksara. Dan tertera pada lembaran-lembaran jalan kehidupan dunia. Dia, berinvestasi pada entitas ini dengan dilahirkan dalam kemurnian dan kepercayaan untuk menjalani kehidupan.

Sang entitas ini berjalan sesuai rutenya. Menjejaki jalan para pendahulunya. Di tengah perjalanan ia bertemu 2 entitas lain. Mereka terhenti di dua persimpangan dengan saling berargumen. Meninggikan ego, memainkan kata, menghebatkan diri, menendang yang tak disenangi.

Biarlah kau tetap di sana. Berjalan di atas garis-garis yang kau pilih sendiri. Agar tiada keberpihakan semu. Keberpihakan yang membutakanmu. Tetaplah menetap di bawah atap luhurmu. Biar kamu menjadi saksi masih adakah nurani dalam setiap pergerakan.