Maharlika Igarani
Sep 5, 2018 · 1 min read

Alamat yang paling jauh ketika kita mencarinya adalah alamat yang tak diketahui letaknya. Maka, hal yang harus dilakukan adalah mencari kepastian. Disamping itu, ada yang harus diupayakan. Yaitu kepercayaan.

Dunia yang paling menyesakkan adalah saat-saat tidak ada cahaya. Dengan adanya cahaya, bila ada pecahan-pecahan kaca di depan kita sanggup mengambil jalan yang lain. Mencari celah. Namun, terkadang mata kita enggan memandang, enggan terbuka untuk menyambut arah cahaya. Sehingga, ketika cahaya itu datang, kita sendiri yang meredupkan.

Hati yang paling tak bisa tersentuh adalah hati yang telah dimatikan. Dan tak sembarangan, kalau tangan-tangan Allah sendiri yang mematikannya, dari mana lagi kita sanggup menghidupkan? Maka yang tak kalah penting adalah menjauhkannya dari noda-noda, ceceran tinta yang menutupi selaputnya.

Cinta yang paling menyakitkan adalah mendahulukan selain Allah di atas segala-galanya. Tercermin dari bagaimana cara mengusahakannya, bagaimana cara meraihnya, hingga tujuannya. Kalaupun cara-caranya terasa tak biasa, jauh dari kebanyakan. Obat dari segala kegetiran itu hanyalah keberadaan berkahnya.

Kita yang lebih jauh berjalan seharusnya lebih mengetahui medan. Agar bukan hanya kita yang dapat menghindar dari kesalahan, tetapi juga sekitar. Oleh sebab itu jangan lupakan menangis ditepi-tepi malam, hari ini apa yang kulakukan?

    Maharlika Igarani

    Written by

    Berasal dari Saturnus, lagi dinas di bumi.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade