Ada hal-hal kecil yang harus kauperhatikan. Boleh saja, kaumengabaikanku sesampai kauletih karena sikapku. Namun, jangan pernah kau mengabaikan dirimu sendiri. Itu saja.

Hari ini, tepat satu minggu kau tak membalas pesanku. Baik. Itu adalah hakmu. Mungkin pesan itu tidak begitu penting. Mungkin kau benar-benar sedang sibuk dengan aktivitasmu. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk melakukan hal-hal yang berkaitan denganku. Karena, sejak kecil,
orangtua telah mendidikku untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Dan kau adalah salahsatu dari orang lain itu.

Kuberitahu, saat kau tak membalas pesan dariku. Bahwa aku tak perduli dangan balasanmu, hanya aku ingin tahu bagaimana kabar kesehatanmu. Karena kesehatan adalah caraku untuk memperhatikanmu. Bagimu, aku adalah laki-laki cerewet yang selalu sabar menanyakan hal sepele, yaitu kabar. Namun bagiku, kabar adalah hal terbaik yang paling aku rindukan darimu. Kau sendiri pernah berpesan: “Mas, Sesibuk apapun di sana, jangan lupa, jagalah kesehatanmu.” Kurang lebihnya seperti itu kata-kata yang kuingat darimu.

Dari situ, aku belajar bagaimana cara menghargai seseorang dalam mengenai hal kabar. Walaupun kau tak menyempatkan waktu kepadaku, paling tidak kau bisa menjaga kesehatanmu di sana. Saat ini, boleh dikatakan aku sedang tidak butuh yang namanya perhatian darimu, cukup kau belajar sendiri; bagaimana cara memperhatikan dirimu sendiri.

“saat ini, aku ingin belajar sendiri dari kenangan-kenanganmu”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.