Surat kepada Walisongo FC

Menjadi bagian dari keluarga besar Walisongo FC adalah sebuah kehormatan. Hal ini aku rasakan sejak pertama kali gabung di Walisongo FC sekitar 3 tahun yang lalu. Seperti keluarga kecil yang membangun semangat berdarah dan merekatkan arti kebersamaan.

Aku ingin bercerita tentang dirimu, Walisongo FC. Saat aku berusia 19 tahun, aku mengenalmu melalui perkenalan singkat ketika kakak seniorku mengajak untuk bertatap muka di Sekretariat KSW. Kita mengucapkan salam dan saling bersalaman. Seperti ada pengaruh batin yang menjadikan kedekatan kita semakin erat. Sebetulnya, perkenalan kita terbilang biasa-biasa saja dan sederhana. Aku bertambah dewasa, dan sekarang kau semakin berjaya.

Namaku Paijho (nama samaran). Sekarang, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan Walisongo. Aku tidak tahu kenapa? Tentu tidak banyak hal yang bisa aku jelaskan, bahwa Walisongo bagian dari nama panjangku. Tetapi aku punya pendapat lain. Walisongo itu bisa tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih mengerikan. Mereka bilang Walisongo kesurupan, bocah KSW edan-edan (gila). Bagiku, di sela-sela seabrek kesibukanku, hanya keluarga Walisongo yang bisa menghiburku.

Banyak tahun telah mendukung hari-harimu menjadi juara. Sebuah kebahagiaan yang berlimpah ruah menjadi saksi sejarah. Hari ini, aku dengar kau telah merayakan ribuan terima kasih kepada orang asing yang berjasa besar dalam kesuksesanmu. Kalimat demi kalimat hujan lebat membasahi kelopak mataku. Kebisingan lagu itu menumbuhkan biji-biji kenangan. Ada sebuah tetesan airmata saat pemutaran film itu menyentuh jantung puisi ini. Seperti ada jalan yang mengantarkan kamar tidurku dengan jantung puisimu.

Satu persatu kalian tiba di rumah perayaan. Kalian membawa senyuman dan mengucapkan selamat malam. Malam itu aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Di depan kalian, aku merasa bahagia . (*)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.