Koran Minggu Pagi, 9 November 2018


Di Kota Penyair

sepanjang kota jogja hingga pesisir parangtritis
temaram menampar muka
orang-orang berjalan menutup mata
barangkali sembunyi dari kesunyian
sedang kalah, mungkin telah mengintai dari liur yang rembes
dari mimpi yang belum beres

sementara malam tersendat di atap-atap rumah
bulan lelap ke segala arah
serta kata-kata, berkejaran mencari metaforanya
memalingkan muka
memulangkan luka

Bantul, oktober 2018

Sebuah Misi Kemustahilan

sepertiga malam, waktu akrab dengan deru, cipratan air yang lesu dari sumur yang bisu :
semenjak jalan parangtritis kurobek saban hari saban waktu, ini tubuh akrab dengan dingin yang mengobrakabrik rongga leher, rongga dada, dan segala rongga di mana usia bermukim, membatu lalu berkabung dengan segala maut

sedang yang luput dari pagutan udara : nafas kita timbul tenggelam menelusuri kabar dukanya sendiri tanpa tahu kapan Tuhan berkelakar atau malaikat meniupkan tanda bubar
dan yang tersisa dari perjalanan hanyalah debu : menyumbat kerongkongan sampai lelap kita tersedak, kalap kita meledak atasnama keterasingan, atasnama keputusasaan

Bantul, September 2018

Diorama Masa Lampau

pagi mengering sebab embun telah berpaling
hari-hari resah sebab sunyi enggan menampung kalah
yang nisbi dari apa yang kumiliki hanya hamba dari nasib
di antara berpasang-pasang kaki melangkah
meninggalkan jejak lalu menanggalkan pasrah

altar telah memulai perjamuan
seraya tubuhku menjelma domba yang kehilangan gembala
segalanya gelap
tirai telah mengatup, doa-doa mengatakan cukup

Bantul, oktober 2018

Hari-hari yang Kalah

Nun, pada hari-hari yang kalah di mana waktu menautkan pasrah
langit telah bosan memanggang cuaca
sengit masih kerasan menyalakan bara
dan yang kaunamakan rahasia adalah pagi yang ungu
kala mataku ditampar temaram dan lunglai setelah bercumbu di pelupuk malam

darimu, Nun, aku belajar menabung kantuk
sebelum liur membenamkan rembes
sebelum dengkur mengacak mimpi yang belum beres
sebab, bila kulelap sedikit saja, taka nada jarum jam sedia berhenti
takkan ada tambal sulam untuk merekatkan nadi

Nun : doa-doa yang belum sampai atas kemarau dan dahaga
atas segala racau menikam dada

Nun : cinta dan cita-cita yang damai atas dingin di malam jelaga
Atas buai, yang usang dipeluk usia

Bantul, Oktober 2018

Adalah Tubuh

sampah daun kering terbakar di pembuangan
di mana asap membumbung ke langit
sementara abu entah ke mana

Bantul, September 2018

Dimuat di Harian Minggu Pagi, 9 November 2018