“ Dalam Kebingungan “

Aku membaca pesan baru yang ada di hang outku. Sejenak aku terkejut. Bagaimana pesan dan kesedihan yang kutulis terjawab. Aku masih heran dan bertanya- tanya, akan tetapi pesan itu nyata adanya. Pesan itu berasal darinya, lelaki yang pernah kugantungkan mimpiku bersamanya. Hanya sebuah pesan singkat “ Katanya ingin berteman seperti biasa… tapi sikapmu tak seperti biasa”.

Aku tertegun, terdiam sejenak. Rasa malu menjalari dadaku. Kebingungan melanda tentang bagaimana aku harus meresponnya. Atau kata apa yang tepat untuk memberikan rangkaian jawaban padanya. Karena, seperti apapun jawabanku, akan selalu tampak sebagai sebuah alasan. Dan mungkin itu memang alasan yang sengaja kubuat untuk menenangkan gejolak yang kurasakan.

Sudah limah puluh lima hari berlalu sejak saat itu. Sejak terakhir kalinya dia meminta maaf dan memutuskan ikatan antara kami berdua. Dan sampai saat ini hatiku masih terasa sakit tiap kali mengingatnya, merasa kecewa tiap kali memikirkannya. Ada luka yang tak pernah kering, walau isak di mata mulai mereda.

Saat dia memberitahuku tentang keputusan keluarganya, hatiku berkecamuk. Apa yang sebenarnya kurasakan saat itu, sejujurnya aku tak merasakan apa-apa. Ketenangan yang membuatku selalu melamun dengan fikiran kosong dan saat kata-katanya terngiang, loncatan butir-butir air mata jatuh dengan riangnya. Membasahi luka yang berdarah. Kenyataan pahit saat menyadari aku takkan pernah jadi siapa-siapa lagi baginya. Kenyataan bahwa ada batas-batas dunia yang tak bisa kuseberangi. Kemarahan dan kesedihan yang tidak tahu harus kuapakan. Kuremas guling untuk meredakan gejolak jiwaku. Aku ingin menangis dibahu seseorang, nyatanya saat orang itu datang. Ekspresiku kembali dingin, dan aku bisa tertawa riang walau hanya sebuah kepura-puraan.

Semuanya berubah sejak saat itu. Aku memaksakan pada diriku untuk menerima kenyataan. Aku katakan pada diriku bahwa aku baik-baik saja. Namun di saat yang sama, aku menyadari bahwa aku tak pernah baik-baik saja. Apalagi sejak melihat bagaimana dia menperlakukanku. Walau aku tahu mungkin ini demi kebaikanku. Akan tetapi aku takut kami benar-benar menjadi orang asing. Karenanya kuminta agar kami tetap bisa menjadi teman.

Tetapi benarkah kami bisa menjadi teman seperti biasa? Lalu seperti apa biasa menurut kami dulu? Aku tak mau ambil pusing memikirkannya, selama aku bisa menjangkaunya itu tak masalah.

Kebiasaan, bagiku dia adalah sebuah kebiasaan. Bangun pagi dengan sapaannya, bersikap manja, di depannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Bersikap jujur apa adanya. Karenanya aku pun bersikap seperti apa adanya.

Melihatnya dalam jangkauanku, hatiku tenang sekaligus merasa sakit. Dia ada dalam jangkauan yang berpenghalang. Dan selamanya, aku tak diizinkan untuk melewati penghalang itu. Aku mengerti, batas itu tercipta kuat.

Aku marah pada dunia yang menciptakan batas itu. Marah karena batas-batas itu merenggut semua mimpiku. Namun di saat yg sama aku tersadar, batas-batas itu akan hilang jika dia sendiri mau melewatinya. Saat menemukan fakta baru dalam perenunganku, satu luka baru pun tumbuh. Aku tertawa dalam tangisku. Memaki diriku setiap kali kulihat dirinya tertawa dan tidak merasa sedih seperti diriku.

Laki-laki dengan kelogisannya dan perempuan dengan perasaannya. Tak jarang kusadari, betapa dia menuntutku untuk menjadi seperti dirinya. Dia selalu mengatakan aku berlebihan dengan perasaanku, keras kepala dengan keyakinanku. Karenanya tak jarang dia bersikap keras. Memberiku segudang alasan logis, dan terkadang dia mengabaikan kelogisan yang juga kumiliki.

Karenanya apa yang benar-benar kurasakan saat ini? Mungkin rasa takut. Rasa takut yang sama akibat peristiwa tersebut. Rasa sakit tiap kali memikirkan bahwa dia sudah menemukan seseorang yang lain. Rasa sedih karena melihatnya menyesali hubungan kami. Lalu berbagai macam tanya yg tak pernah memiliki jawaban. Kepalaku penuh, lalu jiwaku terluka. Dahulu,,saat kami hanya teman biasa padanya aku mengadukan segenap hari-hari yang menyakitkan. Akan tetapi sekarang ini, kalaupun aku datang sebagai teman dia takkan bisa menerimaku seperti dulu. Karena seseorang yang membuatku terluka tak lain adalah dirinya. Karena aku yakin, dia pun akan bingung bagaimana seharusnya.

Lalu bisakah kita menjadi teman seperti biasa? Biasa yang seperti apa?

Terkadang,,aku masih berharap dia akan kembali pada keluarganya dan memohon untuk hubungan kami. Tapi aku sadar, dia takkan melakukan itu untukku. Karenanya, saat itu dia langsung mengakhirinya seperti yang telah kuperkirakan.

Dalam kebingunganku,,saat dia tak bisa menerimaku, maka berbicara pada dirinya di tempat lain yang tak pernah dia tahu adalah satu-satunya ketenangan yang kumiliki. Aku tidak memiliki teman yang bisa membuatku merasa benar-benar nyaman sepertinya. Karenanya aku sangat terkejut saat dia membalas pesanku. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan, aku juga tidak tahu.

Tapi satu hal yang kutahu, mungkin selama ini aku adalah beban baginya. Karena keegoisanku dia pun bersikap seperti itu. Semua yang diputuskannya bagaimanapun akan menyakitiku. Mungkin dia pun bertanya-tanya, bisakah kami tetap menjadi teman seperti sebelumnya. Bisakah aku melupakan perasaanku padanya sesudah ini?

Aku tak tahu. Yang kutahu,,, kami benar-benar saling mengenal satu sama lain. Aku selalu terluka saat memikirkannya bersama gadis lain, selalu menangis saat dia mengacuhkanku. Selalu merasa sedih dan takut saat keluargaku memaksaku melihat orang lain.

Dalam kebingunganku yang seperti ini,,tubuhku terasa panas, semuanya terasa sakit hingga saat ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mai Humairoh’s story.