Suatu hari seekor marmut baru saja menamatkan pendidikan dasarnya sebagai seekor marmut di sekolah khusus marmut. Marmut muda yang idealis yang merasa memiliki cukup bekal untuk menghadapi dunia. Berbekal keyakinan yang didapatnya dari para guru yang telah mengajarkan banyak nilai kehidupan di sekolahnya, dia memutuskan untuk mengembara memperluas cakrawala pemahamannya akan dunia.

Bagi marmut, semua yang ada di dunia ini sama seperti dirinya. Karenanya dia tidak akan merasa kesulitan dalam menyesuaikan diri. Baginya, satu-satunya kebenaran adalah semua yang diajarkan oleh guru-gurunya di sekolahnya. Walau sebelum dia memutuskan untuk mengembara, gurunya berpesan bahwa di luar sana dirinya akan bertemu dengan bermacam-macam hewan, dari berbagai macam sekolah yang pastinya akan memiliki pemikiran yang berbeda-beda.

Akhirnya takdir membawa sang marmut menuju sebuah sekolah yang cukup ternama yang menjadi pusat pendidikan bagi semua hewan. Marmut muda adalah sosok yang penuh pertimbangan, tidak banyak bicara, dan selalu membaca keadaan disekelilingnya. Dia selalu berfikir sebelum mengutarakan sesuatu. Dan karena kebetulan marmut muda adalah satu-satunya marmut yang ada di kelasnya, akhirnya marmut muda ini pun menjadi jarang sekali bicara.

Kecocokan, rasa nyaman dalam bergaul dan berteman bagi marmut adalah bawaan alami dan dorongan alam. Dia tidak memilih teman, tetapi dorongan alaminyalah yang membuatnya untuk berteman hanya dengan beberapa teman. Untuk pertama kalinya marmut memiliki teman selain dari bangsanya. Rasa nyaman karena memiliki corak pemikiran yang sama membuat sang marmut betah bersama teman-temannya. Bagi marmut, teman tidak harus banyak. Satu teman pun cukup, asalkan dia setia dan bisa dipercaya.

Memiliki teman yang memiliki corak pemikiran yang sama makin mengukuhkan kebenaran yang diyakini si marmut. Fase pengembaraan dalam menuntut ilmu sejatinya adalah fase pendidikan yang sebenarnya bagi seorang pelajar dalam pembentukan nilai-nilai kehidupan. Teman, lingkungan memiliki peranan penting dalam mewarnainya. Merasa bahwa nilai-nilai yang dianutnya benar, marmut pun menyimpulkan bahwa itulah satu-satunya kebenaran mutlak. Masih dengan sempitnya dunianya, marmut merasa bahwa dia telah memahami dunia seutuhnya. Karenanya saat ada nilai yang berbeda dari semua yang diketahuinya, marmut merasa bahwa hal tersebut salah. Bahwa penganutnya adalah salah. Hanya saja marmut menganut kuat sebuah prinsip “Bahwa tingginya ilmu diukur dari keluhuran budi”. Indahnya sesuatu bukan diukur dari penampilan fisik, tapi akal dan budi pekerti.

Hingga suatu hari dengan tidak sengaja marmut berkenalan dengan seekor kelinci putih di sebuah perpustakaan. Pertemuan sederhana yang merupakan bagian dari takdir dan rencana Tuhan. Sang kelinci adalah sosok yang memiliki corak pemikiran yang bertolak belakang dengan marmut. Seperti air dan minyak yang takkan mungkin untuk disatukan. Namun sesuai kodratnya, walau tak bisa disatukan mereka bisa berjalan berdampingan.

Dunia yang ideal, pemikiran yang ideal dan benar menurut marmut terbantahkan dengan semua argumen sang kelinci. Inilah kali pertama marmut mengenal sebuah corak pemikiran yang berbeda dengan pemikirannya. Sejak saat itu marmut mulai memikirkan ulang segala hal dan nilai-nilai yang diyakininya. Mempertanyakan dan meneliti ulang.

Sang kelinci mengajari marmut muda tentang kebijaksanaan, rasa saling menghargai, menghormati, lebih dari itu rasa persaudaraan. Bagi marmut sang kelinci adalah guru, teman, juga sahabat yang sangat berarti. Tanpa pernah dikatakan, entah kapan mereka mulai berteman. Tanpa pernah diketahui oleh dunia dan teman-teman lainnya. Mereka mulai bersahabat. Mereka berbicara tentang banyak hal, dari masalah ilmu sampai kehidupan. Sang kelinci membawa marmut pada dunia yg baru dan membantunya beradaptasi.

Kebaikan dan budi adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan materi. Materi tidak bisa membeli hati. Sementara kebaikan hati bisa membeli materi, meluluhkan besi. Namun, walaupun seperti itu seharusnya. Ada juga besi yang tidak bias luluh dengan ketulusan maupun kebaikan hati. Dunia yang penuh nilai-nilai kebijaksanaan, dunia yang penuh kedamaian dimana semuanya bisa hidup berdampingan adalah impian sang marmut. Sang kelincilah yang telah membantunya menemukan mimpi juga tujuan yang ingin dicapainya. 

Namun, ternyata dunia tidaklah sesimpel dan semudah itu untuk ditaklukkan. Suatu kali keyakinan ini diuji dan dibenturkan pada pilihan. Betapapun kerasnya marmut melawan digdaya dunia yang tak mengenal nilai ketulusan, walau merasa yakin bahwa suatu hari ketulusan akan mengubah bagian dunia yang dipenuhi oleh kebencian, namun pada akhirnya marmut harus menyerah pada keadaan dan kenyataan. Dan yang paling menyakitkan dari semua kekalahan ini adalah marmut harus merelakan sang kelinci pada kedigdayaan dunia. 
“ Kenapa kamu juga harus pergi?” Tanya marmut pada sang kelinci.
“ Karena bagaimanapun kupikirkan, ternyata ada bagian dari diri kita yang tidak bisa hidup di dunia yang sama.” Ujar sang kelinci sedih.
“ Kenapa tidak bisa, bukankah kamu yang mengatakan padaku bahwa kesabaran adalah kuci kemenangan? Bahwa semuanya bisa hidup saling berdampingan?” 
“ Mungkin aku salah, ternyata semua bayangan ideal kita mungkin akan sulit diterima sebagian besar dunia, karena tidak banyak yang berfikir sama seperti kita.” 
“ Kenapa kamu menyerah pada dunia yang seperti itu?” Tanya marmut terluka.
“ Karena kita tidak hidup sendirian. Masing-masing dari kita terikat pada nilai dan masyarakat yang berbeda. Keluarga, teman, adat istiadat adalah sesuatu yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Terkadang nilai ideal pun akan sulit memberikan keputusan saat dihadapkan pada ikatan-ikatan kasat mata. Mungkin karena kita masih muda, pemikiran idealis mendominasi. Kita merasa bisa menaklukkan dunia. Jika kita sebatang kara di dunia ini mungkin mudah memutuskan dan mengikuti jalan yang kita yakini. Mengabaikan semuanya. Tapi pada akhirnya masing-masing dari kita terikat satu sama lain pada sebuah ikatan kuat yang tak bisa kita lawan.”
“ Kenapa kita harus hidup terpisah saat kita bisa hidup bersama?” 
“ Karena dunia saat ini tak mengizinkannya untuk kita bisa hidup bersama-sama.”
“ lalu siapa yg harus kusalahkan, kamu ataukah dunia?”
“ Mungkin kita berdua tidak bersalah. Mungkin dunia hanya memerlukan waktu untuk menerima nilai yang berbeda. Selama kita tidak kehilangan keyakinan untuk merubah dunia. Entah kapan, suatu saat dunia akan berubah dan memahami semuanya. Kamu berjuang disana dan aku disana, walau berada di tempat yang berbeda tetapi kita tetap berada di dunia yang sama dan bisa menatap langit sama. “
Akhirnya dengan berat hati marmut merelakan kepergian sahabat yang sangat berarti dalam hidupnya. Nilai hidup yang mereka anut tidaklah salah, hanya saja mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk memahamkan dunia tentang semuanya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mai Humairoh’s story.