Minggu Sore
It’s a Sunday afternoon the rain fall’s lightly on my window…
Gitu kata Raisa di lagunya yang berjudul Let Me Be (I Do). Kalau kata Rahmi di lagunya (baru rilis tadi siang di kamar mandi) yang berjudul Tetaplah Hari Minggu:
Tetaplah hari Minggu, jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia.
Silakan nyanyi sendiri pakai nada punya Tulus. Jangan nada Lagu Syantik, kagak bakal masuk dan aku gerah dengernya. Hari liburku cuman Minggu, alias sedikit banget, tapi aku gak pengen banyak ngeluh lagi. Jadinya aku nyanyi sama nulis aja. Syukur-syukur ada yang kehibur, wkwkw.
Aku yakin segala kesulitan yang aku rasakan sekarang akan jadi bahan tertawaan atau senyumanku di masa depan. Ditambah lagi, Tuhan tidak pernah tidur. Aku harus lebih banyak berusaha dan berdoa. Iya, kan?
Ah, iya Tuhan-ku… ini intermezzo, tapi doa boleh dimana saja, kan? Mumpung lagi terlintas di benak.
Tuhan, terima kasih atas segala yang Kau berikan pada hamba. Dari detik hamba dilahirkan hingga detik hamba menulis postingan ini. Bahkan untuk waktu-waktu di masa depan, apabila hamba masih diberi nikmati hidup. Terima kasih sudah memberi hamba Ibu yang luar biasa, teteh yang hebat, aa yang baik, ponakan yang cantik, emih dan ema yang penyayang, keluarga yang selalu terbuka. Terima kasih hamba masih diberi kesempatan untuk mengenal bapak sebelum bapak gak ada, meskipun cuman sampai kelas 2 SD, bagi hamba itu sudah sangat disyukuri. Terima kasih atas rezeki yang kau limpahkan dari berbagai cara dan perantara. Hamba bukan orang kaya, bukan orang yang berpenghasilan tinggi, tapi hamba masih dapat hidup nyaman. Bahkan Kau masih memberi hamba reminder biar hamba gak lupa sama yang lebih membutuhkan. Terima kasih atas nikmat sehatnya juga, ya Tuhan. Nafas masih lancar, penglihatan masih baik, badan masih kuat, lari masih kencang. Semoga hamba tidak kufur nikmat dan tahu caranya bersyukur dengan menggunakan seluruh anggota tubuh ini untuk beribadah kepada-Mu. Tuhan, hamba belum menjadi wanita yang shalehah. Belum pakai kerudung besar. Belum pakai gamis syar’i kalau orang bilang di zaman sekarang. Belum pakai cadar. Hamba masih pakai make-up, pakai parfum, kalau keluar rumah. Hamba masih pakai celana panjang, hamba masih suka main, suka nonton, suka lama mikirin pengen makan apa. Hamba suka habisin uang buat beli siomay, beli buku, beli kuota. Hamba masih suka main game, ngabisin waktu seharian di rumah dengan soliter yang gak mau bersosialisasi. Hamba masih banyak ngeluh, masih banyak marah. Bentar lagi Senin, hamba murung. Kalah terus push rank dapet temen afk pengen banting hp. Dapat siswa bandel bikin pengen langsung pulang sekolah dan pengen resign. Hal-hal kecil kayak gitu suka hamba besar-besarin. Lebay memang hamba ini. Maaf ya Tuhan, semoga Engkau masih mau menerima maaf-maaf ku yang bejibun ini. Semoga Kau masih mau bimbing dan temani hamba untuk berubah, perlahan-lahan, ke arah yang lebih baik. Aamiin.
Oh iya, satu lagi. Aduh maafin hanba banyak maunya. Ya Allah pertemukan hamba dengan orang yang baik, ya, untuk jadi teman hidup hamba. Saat ini banyak orang yang berlalu lalang di hidup hamba. Namun apa gunanya berlalu lalang tanpa pernah berhenti? We’re all have to settled down. Datanglah ke rumah, temui Ibu dan minta izinnya apabila ingin menghabiskan hidup denganku, itu yang hamba inginkan. Kan rasanya sudah umurnya, ya. Namun hamba tidak tahu apakah salah satu dari mereka adalah calon imam hamba? Atau sebenarnya kami belum bertemu? Hamba tidak merasa terburu-buru, namun hamba banyak berdoa dari sekarang. Ya Tuhan, jangan biarkan aku seorang diri… aamiin. Hehe.
