Tentang Seseorang yang Gemar Meminta Ciuman

foto oleh majenis panggar besi

: untuk kukilaku, dengan sepenuh rindu

Hidup ini, dan segala yang membuat kita terpisah, haruskah dipersalahkan? Tetapi tidak, mungkin akan lebih adil seandainya kita menyalahkan laba-laba yang mengenalkan kita. Pertunjukan telah usai. Tirai penutup panggung telah lama diturunkan. Lampu terakhir pun telah juga padam. Lalu sepotong pagi itu datang, memenuhi kepalaku.

Meninggalkan atau ditinggalkan itu sama mudahnya. Yang berat adalah melewati jeda waktu sesudahnya. Maukah, maukah kau mengingatku? Maukah kau mengingat bahwa kita pernah berjalan berdampingan seperti ini? Berjalan berdampingan di antara batu nisan yang membeku, dan menghitung berapa kuntum kamboja yang berguguran di tiup angin.

Pagi itu, kamu kelihatan kacau sekali. Ada semacam perasaan yang mendesak bahwa kamu… Ah, entahlah. Belakangan memang kamu sering tak terbaca, olehku.

Sampai kapan kamu akan seperti ini?” Won mengecup tatto pada lengan kiri Nzam, lalu melanjutkan, “kau sungguh membuatku takut.”

“Aku… Kau tahu aku tak pernah membuat semuanya menjadi sedemikian rumit. Tapi ini sungguh di luar kemampuanku. Ketika aku sadar, aku telah terseret ke dalam dirimu dengan demikian jauh.”

Sebuah percakapan melintas di kepalamu, aku menanggapinya dengan mengeratkan genggamanku pada lenganmu.

Pemakaman pada pagi hari demikian sunyi. Hanya ada sisa embun pada daun-daun yang berayun, juga asap dupa yang semakin menyesakkan dada.

“Seperti apa kamu akan mengingatku kelak?”

“Aku akan mengingatmu dengan sebuah foto yang menjadi pembatas buku.”

“Bukan, bukan dengan cara apa kamu mengingatku. Tapi lebih kepada, seperti apa aku yang hidup dalam ingatanmu.”

Kamu tersenyum, kemudian menjawab dengan mata yang masih menyipit karena cinta, “Aku akan mengingatmu, sebagai seseorang yang gemar meminta ciuman.”

Like what you read? Give majenis panggar besi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.