Yang Pecah di Dadaku Sebelum Tumpah Melalui Mataku

foto dok. pribadi

Kosong lima kosong lima pagi pecah di dadaku.

Aku membelah diriku berkali-kali, tapi tetap tak kutemukan diriku.

Dimana?

Dimana?

Aku membelah bagian belakang tubuhku, tapi yang ku temukan hanyalah dirimu sedang berganti baju. Sesudah mandi.

Celana dalam biru tuamu memelukku, hangat.

Aku menutup bagian belakang diriku dengan menjerit.

Lirih.

Menahan tikaman tikaman perih.

Dimana diriku?

Kosong lima sepuluh. Lima menit berlalu.

Aku memilih terjaga, tapi tetap tak dapat ku temukan diriku.

Mataku adalah matamu, bibirku adalah bibirmu.

Pipi, hidung, dahi, bahkan alis ini bukan diriku lagi.

Aku ketakutan, aku kedinginan.

Aku ingin berlindung pada hangat ketiakmu, pada bulu-bulu halus yang tumbuh disana, juga aroma kesegaran yang berdiam pada tiap lipatannya.

Dimana diriku?

Aku masih belum menemukannya.

Aku menggenangi ketiakmu, yang bahkan genangan itu bukanlah lagi genanganku.

Kembalikan diriku, kembalikan yang telah kau curi dariku.

Kembalikanlah, yang tanpanya, aku bukanlah diriku lagi.

Demi setan, aku berhak hidup, tanpamu.

*foto saya ambil pada suatu pagi akhir Maret 2016 di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.