Data Science dan Peluangnya di Era Digital

Di saat trend dunia IT sedang diramaikan oleh machine learning dan Artificial Intelligence (AI), jangan lupakan pula bagaimana data analytics akan menentukan arah bisnis di masa depan. Menurut Forrester, seperti dikutip dari Forbes, pasar insight-as-a-service (IAAS) di 2018 akan meningkat dua kali lipat, dengan 80% perusahaan sangat tergantung pada insight yang disediakan oleh insight provider.

Artinya, data mining dan analisa terhadap data memiliki peran sentral dalam memberikan konteks terhadap arah perusahaan di era big data seperti sekarang ini. Maka, tak dapat dihindari, bahwa kebutuhan terhadap data scientist juga akan terus meningkat tajam.

Menurut riset McKinsey & Company, pada 2018 diperkirakan ada kebutuhan 140 ribu — 190 ribu data scientist yang harus dipenuhi. Dari catatan LinkedIn pada 2017, pekerjaan data scientist mengalami peningkatan 6.5 kali lipat daripada 5 tahun sebelumnya. Bahkan, data scientist juga muncul menjadi salah satu lowongan teratas yang dibutuhkan oleh perusahaan, di samping Machine Learning Engineers.

Data science sendiri adalah bidang keahlian yang mempelajari bagaimana memanfaatkan data-data yang terserak, baik yang terstruktur maupun tak terstruktur, untuk digunakan dan dianalisa sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Menurut Direktur Penjualan SAS Indonesia Peter Sugiapranata, dalam perusahaan biasanya terjadi kesenjangan antara TI, data, dan bisnis. Nah, data scientist ini adalah orang yang menjembatani ketiga hal di atas.

Tak hanya berguna untuk memberikan insight bagi perusahaan, data science juga bisa digunakan untuk kepentingan lain, seperti politik, misalnya. PoliticaWave sempat melakukan analisis data di Twitter, Facebok, berita online dan blog-blog terkait dengan pemilihan kepala daerah di Jawa Barat. Saat itu mereka memprediksi pasangan Aher-Deddy menjadi pemenang. Ternyata hasil analisanya tak berbeda jauh dengan hasil quick count berbagai lembaga survei.

Dan yang tak kalah menarik adalah besaran gaji yang bisa didapat oleh seorang data scientist. Menurut Glassdoor, gaji rata-rata seorang data scientist di Amerika Serikat, bisa mencapai US$ 110.000 atau sekitar Rp 1,46 miliar. Menarik bukan?