Mengenal Internet of Thing

Perkembangan teknologi informatika yang begitu pesat, melahirkan revolusi begitu rupa terhadap produk, terutama produk yang memiliki keterkaitan terhadap komponen mekanik dan komponen elektronik. Berkat kemajuan IT, sebuah produk dapat menjelma sebagai sebuah sistem yang kompleks, yang menggabungkan hardware, sensor, penyimpanan data, mikroprosesor, software, dan kemampuan konektivitas.

Produk yang smart & connected (cerdas & terhubung) inilah yang kemudian kerap disebut-sebut dengan terminologi Internet of Thing (IoT). Bila kita melihat ke belakang, IoT merupakan fase ketiga dari revolusi teknologi IT. Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Harvard Business Review, begawan strategi bisnis Michael Porter, menjabarkan fase-fase revolusi IT sebagai berikut:

  • Gelombang Pertama (antara 1960–1970)

Ini adalah gelombang yang membawa perubahan dramatis terhadap aktivitas produktivitas, karena begitu banyak data baru yang bisa diambil dan dianalisa dalam setiap aktivitas. Misalnya saja: proses pemesanan, pembayaran tagihan, hingga Computer Aided Design. Revolusi ini juga memungkinkan dibuatnya standarisasi dari proses-proses yang terjadi dalam sebuah perusahaan

  • Gelombang Kedua (1980–1990)

Ini merupakan periode yang mengubah cara perusahaan terhubung dengan customer, channel, supplier dalam melakukan koordinasi dan integrasi tanpa terkendala dengan letak dan kondisi geografisnya. Dua gelombang awal dari revolusi ini dapat meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan bagi perusahaan, namun tidak terlalu berpengaruh pada produk itu sendiri

  • Gelombang Ketiga (Sekarang)

Pada fase ini, teknologi informasi menjadi bagian tak terpisahkan dari produk. Biasanya sensor, prosesor, software dan konektivitas merupakan sesuatu yang telah menyatu dalam produk. Oleh karenanya, komputer menjadi sesuatu yang disisipkan dalam produk, produk terhubung dengan cloud, data-data produk dapat dikumpulkan dan dianalisa, juga disertai dengan software yang mampu meningkatkan kemampuan dan kinerja produk tersebut di masa depan. Gelombang inilah yang akan mampu memicu lebih banyak inovasi, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi, ketimbang dua gelombang sebelumnya

Adapun Smart & Connected Product memiliki komponen/ elemen-elemen penting:

  • Komponen fisik

Adalah komponen yang terdiri dari unsur mekanik dan listrik dari sebuah produk. Misalnya: komponen blok mesin, ban, aki dalam kendaraan

  • Komponen ‘Smart’ (cerdas)

Adalah komponen yang terdiri dari sensor, mikroprosesor, penyimpanan data, control, software, sistem operasi , dan user interface. Misalnya: engine control unit, anti-lock braking system, sistem wiper otomatis dengan sensor hujan, display layar sentuh pada mobil

  • Komponen ‘Connectivity’ (konektivitas)

Adalah komponen yang terdiri dari port antena dan protokol sistem koneksi nirkabel. Aplikasi konektivitas dari produk juga terbagi menjadi:

- One-to-one (satu produk terkoneksi dengan satu user/ manufacturer/ produk lain)

- One-to-many (satu sentral terkoneksi dengan banyak produk), misalnya mobil-mobil Tesla yang terhubung dengan sistem pabrikan, yang memantau kinerja mobil dan menyediakan layanan remote service/ upgrade

- Many-to-many (banyak produk terhubung dengan produk lain/ sumber-sumber data eksternal lain)

Nah, pada prakteknya, smart & connected product ini memiliki empat tingkatan kemampuan:

§ Monitoring

Pada tingkatan ini produk yang dihasilkan memiliki kemampuan untuk memantau kondisi, operasi, serta lingkungan eksternal yang melingkupi produk, melalui sensor yang dimiliki. Produk juga mampu memberikan kemampuan kepada user untuk memahami lebih jauh karakteristik produk dan sejarah pengoperasiannya, serta memberikan notifikasi pemberitahuan (alert) terhadap kondisi-kondisi tertentu

§ Control

Produk bisa dikendalikan melalui instruksi dari jauh (remote) untuk merespon perubahan kondisi dan lingkungan yang melingkupi produk. Selain itu, software yang dimilikinya memungkinkan dilakukannya kustomisasi atas performa produk dan personalisasi atas bagaimana user melakukan interaksi dengan produk ini

§ Optimization

Pada level ini, produk dilengkapi dengan algoritma yang memungkinkan optimalisasi cara produk bekerja, dalam rangka meningkatkan kinerja produk, prediksi diagnostik, servis, maupun perbaikan. Pada sebuah turbin pembangkit listrik tenaga angin misalnya, mikrokontrolernya bisa menyesuaikan posisi setiap blade kipas untuk mendapatkan energi angin yang paling maksimal

§ Autonomy

Produk dalam tingkatan ini mampu beroperasi secara dengan otomatis, melakukan koordinasi otomatis dengan produk/ sistem lainnya, melakukan personalisasi dan peningkatan kinerja secara otomatis, dan melakukan diagnosa dan servis tanpa campur tangan pihak lain. Contoh sederhananya: robot pembersih iRobot Roomba, yang mampu membersihkan berbagai kondisi ruangan dengan mengandalkan sensor dan software, tanpa campur tangan operator.