Ide, Perilaku, Karya

Tiga hal yang saya gunakan sebagai judul adalah skema dasar kebudayaan. Semua orang yang mempelajari ihwal budaya dan antropologi tentu dengan mudah menjelaskannya.

Pada suatu masa Tuhan menciptakan bahasa agar mahluk (yang kemudian disebut manusia) paham akan nama-nama. Berangkat dari dogma agama, bahasa adalah anugerah langit, pada mulanya. Kemudian ia berkembang ke segenap link kehidupan. Bahasa jadi terkotak-kotak menirut penggunaannya. Ada bahasa poliitik, sosial, agama, bahasa ndeso, kota, bahasa gaul dll. Yang tidak fungsional teralienasi.

Bahasa indonesia konon lahir karena kesadaran kebangsaan bernama indonesia. Suatu wilayah yang dihuni ratusan suku dengan fam bahasa khas masing-masing. Atas nama ke-bangsa-an mencoba meleburkan diri dengan berjanji berbahasa satu. Satu lho ya bukan kesatuan.

Dan emboh bagaimana dongengnya, bahasa indonesia tidak menjadi mata pelajaran di sekolah dan seakan diremehkan pada ujan nasional. Dan tidak ada semacam ujian toefl untuk bahasa indonesia kan?

Manusia-manusia yang berasal dari ratusan suku yang tinggal di wilayah indonesia, termasuk saya menjadi kagol menghadapi bahasa indonesia. Lihat saja bagaimana orang jawa menggunakan bahasa indonesia, atau orang papua dan daerah timu lain menggunakan bahasa indonesia. Lidahnya kayak dipaksa dan lintang pukang.

Kesalahan berbahasa adalah kesalahan cara berpikir. Teori ini tidak bisa dipaksa gunakan begitu saja pada kasus bahasa indonesia. Saya, kawan papua, dan kawan dari berbagai suku yang notabennya tinggal jauh dari ibukota tidak bisa menjadi terdakwa salah cara pikirnya. Tiap suku punya bahasanya masing-masing dengan logika khas masing-masing.

Ini bukan kebencian terhadap bahasa indonesia. khawatir adalah tanda cinta bukan?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.