Menuliskan Tentang Cat Calling yang Mungkin Sudah Ribuan Kali Dituliskan Perempuan Lain

Photo Credit: Youtube

Kalian pernah merasa malas keluar atau melintasi jalan tertentu? Saya pernah. Meski tidak selalu malas, dan tidak selalu malas jalan kaki di trotoar, tapi ada sebuah jalanan besar depan gang tempat tinggal saya yang bikin saya mager. Alasannya sederhana, saya seringkali di-cat call di sana. Entah kebetulan atau tidak, saya merasa lelaki jalanan sekitar sini kurang ajarnya maksimal sekali.

[Anw, kalau ada yang belum tahu apa itu cat calling, sedikit penjelasan: semacam street harassment yang dilakukan di jalanan. Tindakan iseng laki-laki menggoda perempuan yang lewat, baik dengan siulan maupun kata-kata nakal]

Saya nggak tahu bagaimana cara menyebut pelaku cat calling itu sendiri, saya sih nggak mau menganggap mereka lelaki pada umumnya. Dalam kriteria saya, lelaki pada umumnya adalah kawan-kawan lelaki yang saya kenal –yang meski tak semuanya berbakat to treat me like a princess, tapi minimal mereka menghormati saya sebagai manusia, dan perempuan tentunya. Lebih jelas lagi, mereka takkan menggoda saya dengan godaan murahan seperti siulan nakal atau cewek, mau ke mana? Sendirian aja, neng?

Nope.


Jadi saya akan gunakan sebutan lelaki jalanan untuk pelaku cat calling, anggaplah mereka sebagian dari populasi lelaki tak terpelajar yang sialnya tak terpuji pula etikanya. Soalnya, banyak orang tak terpelajar yang bahkan masih tahu sopan santun dan tidak berlaku seperti demikian. Generalisir itu kan tidak baik.

Kembali lagi, mungkin apa yang saya tuliskan ini sudah basi, dan sudah dituliskan ribuan kali oleh ribuan perempuan di luar sana menggunakan ribuan sudut pandang pula. Tapi saya takkan bosan untuk menulisnya, saya pikir hal seperti ini memang sudah sepantasnya dituliskan dan terus dibagikan, agar lelaki tahu bahwa perempuan jijik dengan perlakuan demikian.

Saya pernah ingin ke minimarket biru yang ada di pinggir jalan, di depan gang. Tetapi siang itu saya malas sekali. Biasanya, tiap saya lewat jalanan sana, jarang luput dari siulan atau celotehan-celotehan sampah. Bahkan Idul Fitri kemarin, usai salat Ied saya lewat di pinggir jalan itu, ada dua orang lelaki masih berpakaian lengkap baju koko, sepulang dari masjid, melontarkan godaan murahan semacam, “priwit, ke mana neng?”

Photo Credit: stopstreetharassment.org

Mereka melintas cepat dan saya sampai tak sempat mencatat nomor plat motornya. Hari itu saya berpikir, tidakkah mereka jijik dengan diri mereka sendiri? Menggoda perempuan dengan cara murahan usai pulang dari rumah Tuhannya? Kalau saya, sih, selevel di atas jijik –tapi saya nggak tahu namanya apa. Ngapain coba puasa sebulan, susah-susah nahan lapar, salat Ied di hari lebaran, tapi bahkan menahan diri untuk nggak menggoda perempuan saja nggak bisa.

Itu hanya sepenggal kejadian, sih. Mungkin ada lebih banyak kejadian yang parah di luar sana. Dari pengalaman orang-orang yang saya baca, rata-rata mengatakan bahwa mereka kadang merinding, tapi juga kesal. Perempuan mungkin agak kesulitan mengungkapkan ini pada orang lain –bagaimana rasanya di-cat calling, atau bahkan dilihatin dari atas sampai bawah dengan tatapan aneh oleh lelaki berotak sampah di pinggir jalan?

Rasanya marah, kesal, jijik, pengin nabok.

Meski demikian, saya percaya bahwa tak semua lelaki seperti itu. Rata-rata kawan lelaki saya menghargai perempuan. Oh, ya jelas juga, sih. Sebab kalau mereka kurang ajar, mereka tak mungkin jadi teman saya. Saya tak pernah menuntut kawan-kawan saya harus memperlakukan perempuan selalu seperti seorang putri raja. Tak perlu mereka bukakan pintu ketika saya lewat, mempersilakan saya masuk duluan, atau hal-hal super amazing lainnya. Cukup hargai saya sebagai manusia saja, saya sudah senang. Bukankah memang seharusnya begitu? Meski ada juga beberapa lelaki yang suka ngasih bonus and treat you like a real princess, tapi percayalah hanya sebagian kecil populasi lelaki kayak gini di muka bumi. Hahaha.

Kembali ke cat calling, terkadang saya penasaran apa yang membuat mereka begitu betah bersikap seperti anak anjing yang terjulur lidahnya keluar, craving for food. Maafkan kalau analogi saya kurang ajar, saya jarang sopan sama manusia ndak sopan soalnya. Tapi ini beneran, saya pernah menemukan lelaki jalanan yang memandangi saya dari ujung rambut sampai ujung kaki –matanya terus mengikuti langkah kaki saya, seperti seekor anjing kelaparan melihat makanan, padahal saya sedang pakai celana panjang dan jaket. Jadi berhenti bilang bahwa perempuan digodain di jalanan karena pakaiannya. WTF, you guys, big NO! Itu sama sekali nggak ngaruh, jadi jangan kambinghitamkan pakaian kami.

Saya nggak tahu serendah apa jalan pikiran sebagian orang, sampai harus memandangi perempuan dengan pandangan semenyebalkan itu. Entah, saya beneran nggak tahu.

Dan belakangan semakin sering baca kasus cat calling atau bahkan pelecehan yang lebih serius di tempat umum lainnya. Oh, dan saya kadang juga penasaran bagaimana sesama lelaki menanggapi hal seperti ini? Suatu malam saya pernah melintas bersama teman di pinggir jalan, seorang tak dikenal menyentuh bokong teman saya dan kabur begitu saja (dia naik motor). Teman saya berteriak marah, tapi tukang ojek pangkalan di sekitar kami hanya tertawa-tawa, bukannya prihatin atau bagaimana. Saya jadi curiga sendiri, jangan-jangan mereka juga tukang cat calling di pinggiran jalan. Karena cuma sesama maling yang bisa tertawa dan mengagumi hasil kerja maling lainnya. Biasanya, sih, begitu.

Kadang lagi, saya berpikir, betapa tak nyamannya menjadi perempuan-perempuan dalam hal keamanan. Bahkan melintas di jalanan paling ramai sekali pun, seolah tak luput dari cat call dan pelecehan.

Like what you read? Give Mput a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.