What do Your Mom Think About Your (Girlfriend’s) Virginity?

Dua hari yang lalu, di suatu sore yang agak mendung –dan tumben sekali saya tidak keluar, tiba-tiba saya terpikir sebuah hal yang menurut saya lucu. Saya lupa sedang apa ketika itu, mungkin membaca artikel feminis atau mengenai aborsi, atau apa. Saya tidak ingat, soalnya saya orangnya pelupa. Makan apa kemarin sore aja saya seringkali lupa, kok. Kemudian, saya membuat polling di Twitter, isinya kurang lebih demikian –sama seperti judul postingan ini. Kemudian jawaban terbanyak yang saya dapatkan adalah: she never talks about that.

T: @kopilovie

Sedangkan jawaban kedua terbanyak adalah: it’s really important!

Daaann bisa ditebak, jawaban bahwa ibu-ibu tidak bermasalah dengan keperawanan anaknya tidak ada suara. 0 orang yang memilih opsi tersebut. Dari sana saya bisa menyimpulkan bahwa memang di negara kita tidak ada ibu-ibu yang sesantai di barat sana. Setidaknya mungkin kalau pun ada, anaknya tidak membaca polling saya (lha, gimana?) Hahaha. Kemudian, saya berpikir lagi, seorang kawan saya pernah curhat dan bilang, “kamu tahu ndak, hal yang paling malas saya lakukan ketika melamar pekerjaan di kantor besar adalah tes kesehatan. Semuanya diobok-obok gitu, lho.”

Tapi bukan itu poinnya. Poinnya adalah tes kesehatan untuk masuk kerja. Sebab dulu seorang om saya pernah mengatakan kepada anak perempuannya, “kamu jangan macem-macem ya sebelum nikah. Nanti kerja di Jakarta itu dites lho keperawanannya, bakalan ketahuan kalau kamu macam-macam!” Ketika itu kami di Padang, dan sebagai anak ingusan yang belum mengenal kota besar dan sikon serta proses pencarian kerja di Jakarta, kami mengira itu benar adanya. Serem banget, batin saya dalam hati. Benarkah hanya untuk bekerja, semua perusahaan di Jakarta mewajibkan tes keperawanan bagi yang masih single aka belum menikah? Sejauh itukah?

Tetapi setibanya di Jakarta dan bekerja di sini selama beberapa tahun, saya seketika ingin menertawakan kekhawatiran saya yang terdengar bodoh jika diingat-ingat lagi itu. Yang benar saja, saya pernah interview ke sekian perusahaan, dan bekerja untuk tiga perusahaan selama selang beberapa tahun ini, tapi tak satu pun yang mewajibkan saya untuk tes serupa itu. Tes kesehatan nyata adanya di perusahaan-perusahaan tertentu, tapi murni untuk mengecek apakah kandidat memiliki penyakit dalam, alergi, dan sebagainya yang bisa memengaruhi kinerjanya di masa depan. Pure hanya untuk mengetahui penyakit dalam saja.

Dan saya berpikir lagi, masih berusaha mencerna ingatan saya yang samar-samar. Apa mungkin om saya melakukan itu untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak melakukan free sex, atau sex before married? Padahal setahu saya, om saya pun semasa mudanya bukan lelaki yang alim-alim banget. Termasuk anak muda dengan pergaulan bebas, bahkan hingga kini hidupnya paling santai di antara semua om saya. Tatoan iya, sedikit urakan iya, meski harus saya akui ia memang baik pula hatinya.

Tapi lagi nih, apakah ada perbedaan pandangan terhadap anaknya karena si anak adalah perempuan? Apakah orangtua memang memberikan pandangan dan didikan yang berbeda untuk anak perempuan dan laki-laki? Saya tidak pernah mendengar ada lelaki yang disuruh mempertahankan keperjakaannya. Mempertahankan keperjakaan lho, ya, bukan merusak keperawanan anak perempuan orang lain. Kalau disuruh kuat iman dan tidak merusak anak perempuan orang, mungkin beberapa anak lelaki pernah mendapat wejangan serupa ini. Dan tipikal manusia pada umumnya adalah semakin penasaran ketika dilarang melakukan sesuatu. Semakin ke sini saya semakin mendapatkan banyak cerita tentang kawan yang having sex before married. Waktu remaja, saya pikir ini hal yang menakutkan. Tapi sepertinya ketika orang dewasa melakukannya, dan ketika hidup mereka ada di tangan mereka sendiri, rasanya akan biasa saja. Mereka melakukannya dengan sadar dan tahu risikonya. Sementara di sudut-sudut konservatif lainnya –oke, kesampingkan masalah agama, akan kita bahas di bawah ini nanti, sementara sekarang saya membahas masalah pandangan orangtua saja, rata-rata orangtua masih ingin anak perempuannya perawan hingga menikah nanti. Padahal tak ada yang tahu apakah menantunya benar-benar perjaka ketika menikahi anak perempuannya. Kalau lelucon salah seorang kawan lelaki saya, menurutmu memang masih ada lelaki perjaka? Perjakanya lelaki pastilah sudah lama rusak oleh tangan mereka sendiri. Hahaha.


Dan tulisan ini mungkin akan diprotes beberapa orang yang melihatnya dari sudut pandang agama. Tapi yakinlah, 500 kata saya menulis tulisan di atas itu, saya tidak memasukkan unsur agama sama sekali. Jadi jika kalian menyangkalnya dengan pandangan agama, mungkin kalian tidak dapat poinnya :) mari kita bahas agama di poin ini, supaya adil saja. Tidak akan mendalam, sebab saya bukan perempuan yang terlalu religius. Saya hanya ingat, seorang kawan lelaki saya pernah bilang, “terkadang saya ingin menanyakan kepada si A, apakah di agamanya memang boleh berbuat seperti itu (sex before married)? Sebab di agama saya itu zina dan dosa besar, jelas tidak boleh. Senakal-nakalnya, tapi yang satu itu tidak boleh.”

Saya katakan padanya demikian: menurutmu apakah memang ada agama yang memperbolehkan zina?

Ia diam, kemudian saya menyambung lagi: saya tidak religius, tapi menurut saya agama yang baik pastilah tidak mengizinkan hal-hal seperti itu, termasuk sex before married.

Kemudian saya mengambil contoh dari point of view dunia barat dan budaya. Saya bilang, ini mungkin ada hubungannya dengan budaya masing-masing. Agama si A yang kami bahas itu sama-sama ada di Indonesia dan di Amerika, tapi mengapa pergaulan bebas sangat banyak terjadi di Amerika, dan sepertinya mereka sudah terbiasa saja dengan sex before married? Menurut saya itu budaya. Bagi mereka itu mungkin biasa saja, ketika seorang anak sudah dewasa, maka hak tubuhnya ada pada tangannya sendiri, bahkan saya pernah dengar bahwa anak-anak di sana ketika berumur 17 tahun ke atas dan keluar malam alias hangout akan disuruh bawa kondom oleh orangtuanya. Entah benar atau tidak. Sedangkan di budaya timur tidak seperti itu. Bahkan ketika umurmu tiga puluh tahun pun, selama kamu perempuan, hak atas keperawananmu masih bisa diatur keluarga. Jadi, saya katakan pada kawan saya itu, ini bukan masalah agamanya memperbolehkan zina, tapi bagaimana manusianya memaknai agama tersebut. Bahkan mungkin di sini, para penganut agama A dilihat lebih longgar kehidupannya ketimbang penganut agama B, dan itu menimbulkan pandangan yang aneh-aneh. Seolah agama A memperbolehkan/membiarkan penganutnya menjadi nakal, sedangkan agama B saklek dengan ajaran mereka dan memandang zina sebagai dosa besar.

Menurut saya ini bukan masalah agamanya, ini masalah manusianya. Sama prinsipnya dengan orang-orang yang berbuat jahat atas nama membela agama. Tuhan tak perlu dibela, kata Alm. Gus Dur. Jadi jika mereka menjahati orang lain, melontarkan kata kasar, fitnah, dan yang lainnya, apakah agama mereka memperbolehkan hal tersebut? Tidak. Sekali lagi, ini perkara manusianya, bukan agamanya.

Back to topic, dan entah mengapa saya merasa perempuan masih sangat dikecilkan dalam perkara ini. Perempuan tak punya hak bahkan atas tubuhnya sendiri. Jika ia tidak memenuhi keinginan orang banyak untuk tetap menjadi ‘manusia baik’ sesuai pandangan mereka, ia akan disalahkan, akan dicap bandel, dan sebagainya. Dan kita semua tumbuh besar dalam budaya yang semacam ini, menganggapnya biasa saja, dan membuat diri kita terus patuh atas keinginan orang lain, hidup dengan cara orang lain. Mungkin, sebab ini juga, banyak orang yang menemukan bahwa ia memang tak pernah menjadi dirinya sendiri.

Barangkali pula, ada yang akan menyangkal alinea di atas dengan kalimat: ah, kan kamu hidup berdampingan dengan manusia lain, jadi kamu tidak bisa hanya memenuhi keinginan dan kesenanganmu sendiri, dong!

Ya, itu ada benarnya. Kita hidup berdampingan dengan manusia lain. Tapi sampai batas manakah kita harus terus mengikuti rules orang lain dalam menjalani hidup hanya demi menyenangkan mereka?

Saya pikir, saya tidak.

Saya perempuan.

Saya suka membaca, menulis, dan jalan-jalan. Tapi saya tidak pernah suka hidup dengan cara orang lain.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.