Perjalananku Menjadi Penjual Bakmi!

(Beli Mesin Pembuat Mie)

Pagi ini saya bangun lebih pagi untuk menjemput Eka di rumahnya lalu berangkat bersama-sama ke Gelanggang Remaja Senen untuk membeli Mesin Mie.

Mungkin bagi sebagian perempuan/ laki-laki, saya yang menjemput Eka di Jakarta Utara dari Bintaro adalah hal yang aneh/ merendahkan sebagai seorang perempuan. Tapi bagi saya hal ini biasa saja. Saya dan Eka memang sejak awal berpacaran membuat kesepakatan bahwa setiap minggu kami akan bergantian mendatangi pasangan kita di rumahnya. Karena menurut saya, tidak lah adil apabila Eka diharuskan untuk menjemput saya terus-terusan. Apa karena dia Pria otomatis uang bensinnya berlimpah? Apa karena saya Perempuan, otomatis saya terlalu lemah atau terlalu “mahal” untuk menjemput pasangan saya? Apa salahnya berkontribusi dengan seimbang dalam suatu hubungan terlepas jenis kelamin masing-masing.

Pukul 09:30 saya berangkat dari Bintaro, dan akhirnya sampai di rumah Eka di daerah Mangga Besar pada pukul 10:45. Jalanan pada hari Sabtu memang cenderung padat walau berangkat cukup pagi. Jika berangkat di hari Minggu, biasanya saya bisa sampai di rumah Eka lebih cepat.

Sesampainya di rumah Eka, saya lihat ada yang membuka pintu ruko keluarga Eka. Saya pikir itu Eka, rupanya itu Mamanya, Tante Sisca. “Maria, parkir di sebelah saja dulu”, teriak Tante Sisca. “Pagi tante, oke tante”, jawabku langsung memposisikan mobil menuju parkiran di depan sebuah ruko yang terletak di sebelah ruko keluarga Eka. Ternyata Tante Sisca juga sedang bersiap-siap mau berangkat pergi bertemu temannya. Saya tidak turun mobil karena telah berjanji dengan Toko Iwa Gas penjual Mesin Mie akan sampai sekitar pukul 11:00 di tokonya, jadi saya berharap langsung berangkat sesampainya di rumah Eka. Saat Eka sampai di Mobil, Eka langsung menawarkan untuk mengemudikan mobil agar saya bisa beristirahat.

Eka langsung mengemudikan mobil ke arah Masjid Al Arief di Senen. Menurut Pak Iwa pemilik Toko Iwa Gas, lokasi tokonya terletak dekat sekali dengan Masjid tsb. Saya diminta menelpon saat sudah sampai di Masjid. Sesampainya disana, kami baru sadar tidak ada lahan parkir yang tersedia, sehingga saya memutuskan untuk turun duluan di depan Masjid, sedangkan Eka memarkirkan kendaraan di Gelanggang Remaja Senen yang berlokasi di seberang Masjid Al Arief. Kemudian saya menghubungi Pak Iwa pemilik Toko Iwa Gas. Pak Iwa bilang dia sudah berada di depan Masjid Al Arief tapi tidak melihat saya. Saya berinisiatif mengangkat-angkat tangan,”Pak saya yang angkat-angkat tangan, lihat ga Pak?”. “Oh iya saya sudah lihat Mba”, kemudian telepon kami putus dan saya pun melihat seorang Pria mendekati saya.

Masjid Al Arief Senen

Awalnya saya agak ragu, Pria yang mendekati saya ini perangainya agak keras dan tubuhnya agak besar berotot. Tapi kemudian dia memanggil nama saya,”Mba Maria?”. Sepertinya kecil kemungkinannya saya bisa bertemu orang jahat di daerah Senen yang mengetahui nama saya. Walau tetap waspada, saya tetap mengikuti Pak Iwa berjalan ke dalam pasar di belakang Masjid Al Arief.

Ternyata tokonya tidak jauh di dalam. Letaknya dekat dengan tangga menuju lantai 2 pasar dan persis di sebelah warung rumah makan masakan Padang. Pak Iwa kemudian mengangkat beberapa dudukan kompor di atas tangga, lalu memindahkan sebuah kardus yang sebelumnya tertimpa dudukan-dudukan kompor ke dekat kaki saya. Ia bilang, kardus tersebut berisikan Mesin Mie yang saya pesan. Yaitu mesin pembuat mie merek Matrix tipe Elektrik.

Mesin Pembuat Mie merek Matrix tipe Elektrik

Ukurannya tidak jauh berbeda dari sebuah Printer rumahan, namun agak lebih tinggi sedikit. Dengan sok taunya saya perkirakan beratnya juga akan mirip. Ternyata tebakan saya meleset jauh. Printer rumahan pada umumnya seberat 3 Kg. Berat mesin mie merek Matrix tipe Elektrik ini…….32 Kg. Artinya, sama saja dengan mengangkat 10 unit printer sekaligus!!

Untungnya Pak Iwa bersedia membantu mengantar mesin pembuat mie sampai ke mobil. Dengan nada prihatin saya bertanya,”Serius pak mau membawakan ke mobil sendirian? Nanti encok lho pak”. “Enggaklah, ga usah khawatir, nanti saya kan pakai lori. Nah pas banget!”, Pak Iwa tiba-tiba merebut lori temannya yang sedang lewat depan tokonya. Saya agak kaget dan berpikir akan melihat langsung adegan berantem antar teman karena rebut-rebutan lori. “Ah elu, daritadi kek kalau mau pinjem. Gue udah capek-capek bawa kesana kemari mau mulangin jadi sia-sia deh”, ternyata temannya Pak Iwa malah senang karena lorinya direbut.

Pak Iwa kemudian menunjukkan cara memasang dan melepas pisau pemotong mie pada mesin mie. Ia menyalakan mesin mie, lalu memasukkan kertas koran ke dalam mesin hingga terhisap kemudian keluar dari bawah dalam bentuk potongan-potongan mie kertas koran. Jadi terpikir jangan-jangan begitu juga sebaliknya, paper shredder bisa dipakai untuk membuat mie? hehehe

Setelah yakin mesin mie yang dijualnya dalam kondisi baik, saya diberikan nomor rekening BCA milik toko sebelah untuk mengirimkan uang pembayaran pembelian mesin mie yaitu Rp 2.100.000. Memang terasa sekali pertemanan antar pemilik toko di dekat toko Pak Iwa begitu erat. Dari rebut-rebutan lori hingga transfer-transferan uang pun mereka sudah saling percaya. Saya tunjukkan ke Pak Iwa bukti transfer pembayaran yang telah saya lakukan menggunakan Mobile Banking Mandiri di HP saya, lalu saya kirimkan via WhatsApp ke nomor Pak Iwa. Memang pada dasarnya Pak Iwa ini mudah memercayai orang lain. Bukannya mengecek kebenaran transferan saya dulu, ia malah langsung mengangkut mesin mie ke atas lori dan berjalan ke luar pasar untuk mengantar mesin ke mobil saya. Perangai yang keras dan tubuhnya yang kekar sepertinya berhasil mengecoh siapapun yang baru mengenalnya. Ternyata Pak Iwa begitu terbuka dengan siapapun, bahkan kepada saya yang baru dikenalnya 3 jam lalu.

Pak Iwa di depan Toko Iwa Gas

Eka sudah menunggu saya di depan Masjid Al Arief. Tadinya ia ingin masuk ke dalam pasar untuk membantu saya mengangkat mesin mie. Tapi kata Pak Iwa tidak usah karena takutnya Eka tersasar di pasar karena belum familiar dengan lorong-lorong pasar ini. Saya berteriak memanggil Eka agar ia berjalan ke arah saya yang sudah di Zebra Cross mau menyeberang ke arah Gelanggang Remaja untuk mengantar mesin mie. Eka mendengar ada yang memanggil namanya tapi hanya celingak-celinguk mencari sumber suaranya. Mau tidak mau saya kembali menggunakan jurus andalan saya yaitu mengangkat dan melambai-lambaikan tangan. Mungkin karena saya pendek, jadi di keramaian harus angkat-angkat tangan supaya kelihatan. Eka akhirnya melihat saya dan berlari ke arah saya.

Pak Iwa memasukkan mesin mie ke dalam bagasi mobil tanpa bantuan Eka. Katanya tidak usah, dia sudah biasa angkat sendirian. Rupanya badan kekarnya ini hasil angkat beban 10 printer sekaligus setiap hari. Saya ucapkan terimakasih sekali lagi kepada Pak Iwa, kemudian saya dan Eka pamit. Kami memasuki mobil, lalu berangkat menuju tempat makan siang kami yaitu Bakmi Aboen! Yeay :D

Kartu Nama Toko Iwa Gas
Like what you read? Give Maria Malau a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.