Segelas Sirup untuk Hidup, dan Udara yang Kau Hirup.

Sumber ilustrasi: https://img3.goodfon.com/wallpaper/big/d/d0/devushka-stena-unynie-sayonara.jpg (Goodfon)

Peradaban manusia dari tahun ke tahun sudah semakin berkembang. Ada yang membuat manusia kaya dengan uang dan ada pula yang membuat manusia semakin gemar terlilit akan utang. Yang kaya akan menang dan yang miskin tetap saja sampai kapanpun menjadi pecundang. Tak pelak, banyak dari mereka yang tak merasakan senang pada akhirnya memilih opsi terlarang: mereka menyabut nyawa mereka sendiri.

-0-

Aku, tiba-tiba membuka mataku. Di suatu pagi.

Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku terjaga di sebuah ruangan.

“Sudah sadar?”

Tampaknya seorang dokter dan dua suster lainnya berbicara padaku.

“I-ini di mana??”

Mataku masih agak berat untuk memandangi kamar yang sepertinya merupakan bagaian dari ruang sebuah rumah sakit.

“Ah. Syukurlah. Apa kamu tak ingat apa-apa sebelum di bawa ke sini?”

“Anu….”

Kepalaku tiba-tiba saja menjadi sakit dan aku langsung tak sadarkan diri kembali.

-0-

Aku sepertinya terbangun (lagi) dan kali ini rasanya bagaikan sebuah mimpi. Tak ada lagi ruangan di hadapanku, yang ada hanyalah sebuah padang pasir yang begitu terhampas luas. Demi apapun, tak mungkin aku tiba-tiba dapat terdampar ke Gurun Sahara bagaikan cerita dongeng! Namun, perasaan ini benar-benar terlalu nyata bila dikatakan bahwa ini hanyalah khayalan semata.

Aku terus berjalan menyusuri padang pasir itu perlahan-lahan, tak ada apapun. Temanmu hanya tiga: apa-saja-yang-ada-di langit, hembusan angin, dan tentu saja padang pasir itu sendiri. Aku terus berjalan. Terus berjalan. Tak peduli arahnya apakah itu utara, barat, timur, ataupun selatan. Sinar matahari begitu membuatku kepanasan. Kira-kira, sudah sejam aku tempuh tanpa adanya jawaban pasti ke mana aku harus pergi. Aku bingung, bingung sebenar bingung. Dalam hati, aku masih mencari pertanyaan yang sungguh sederhana sekali, tetapi akan mengungkap apa yang aku alami saat ini:

“Mengapa aku bisa ada di tengah padang pasir ini?”

Saat pertanyaan itu terlintas di benakku, tiba-tiba aku melihat sebuah ‘warna hijau’ berada di ujung pandanganku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari ke sana, sepertinya aku akan mendapatkan ujung yang bahagia.

Tiba-tiba saat aku hendak mencapainya, aku menjadi tak sadarkan diri.

-0-

“Airi! Bangun! Bangun! Cepat pergi ke sekolah! Ibu sudah menyiapkan sarapan!”

Ha? Airi? Sejak kapan namaku menjadi Airi? Lalu yang lebih anehnya lagi adalah, ini bukan rumahku! Orang yang sepertinya disebut Airi sebagai “Ibu” ini tampaknya begitu perhatian kepada anaknya meskipun tadi rasanya agak terdengar membentak. Aku melihat ke cermin.

“Cantiknya Airi. Pasti para pria jatuh hati padanya.”

Aku mulai mengambil langkah untuk bersikap normal. Sungguh kucegah niat ‘nakal’ untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai badan Airi. Setelah aku mandi dan mengenakan baju seragam SMA, aku langsung turun ke bawah untuk menikmati sarapan buatan “Ibu”. Hanya ada aku berdua di rumah dan dalam hatiku berkata “Mana sang ‘Ayah’”? Aku coba untuk bertanya kepada “Ibu”.
 
 “Hmm… Ayah di mana ya?”

O. Seketika “Ibu” terdiam. Ia benar-benar terdiam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun setelah itu. Ya, apa boleh buat.

Aku benar-benar tak tahu “di mana aku bersekolah”. Karenanya, aku mencoba untuk melihat informasi dari gawai seseorang yang memiliki nama “Airi” ini. Aku pada mulanya merasa sungguh “lucu” untuk melihat galeri seorang gadis setelah aku mendapatkan informasi dasarnya. Foto ia berkumpul bersama dengan temannya dan catatan tugasnya juga sungguh sangat rapi. Namun, semua itu berubah saat aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Pantas saja, “Ibu” tadi terdiam saat aku menanyakan perihal “Ayah”. Aku entah kenapa berakhir pingsan di tengah perjalananku menuju ke sekolah.

-0-

“Sudah sadar?”

Gila, Pertanyaan ini lagi yang terdengar. Kali ini suara yang kudengar begitu bergema dan rasanya seperti di dalam sebuah lapangan kosong di daerah yang ta berpenghuni. Saat aku melihat di sekelilingku, yang ada hanyalah ‘warna hitam yang begitu kelam’ dan aku berdiri di atas permukaan sebuah batu yang jika aku lengah sedikit saja, habislah nyawaku.

“Sudah tahu kenapa kau bisa ada di sini?”

APA. Makin merinding aku.

“APAKAH KAU SUDAH TAHU MENGAPA KAU BISA ADA DI SINI?”

Suara yang timbul malah makin besar lagi dan nyaris memecahkan gendang telingaku. Aku dengan pasrah hanya bisa menjawab dengan satu jawaban saja:

“Tidak! Aku tidak tahu!”

Tepat saat aku mengakhiri balasanku, suara gemuruh terdengar begitu kencang. Blaaaaaarrr!!!!!!!!!! Semakin ketakutan rasanya aku.

“JAWABAN SEPERTI APA ITU? TAK ADAKAH KAU MEMILIKI JAWABAN YANG LAIN?”

“Aku tak tahu apa-apa, sungguh!”

Petir selanjutnya pun muncul dan saking dahsyatnya suara dari petir itu membuatku lagi, dan lagi, tak sadarkan diri. AKu bahkan belum sempat tahu apa, atau siapa, yang menanyakan pertanyaan itu kepadaku sebelumnya.

-0-

SEBENARNYA

AKU

INI

SIAPA?

-0-

“Selamat, kamu telah selesai menjalankan Ujian Sebelum ke Alam Baka!”

Ha? Aku ada di mana? Apa pula itu Ujian Sebelum ke Alam Baka?
 
 “M-Maaf, ini di mana ya?”

“Tidak usah takut, kau sebenarnya sudah meninggal sebelumnya. Beberapa pemandangan yang kau lihat sebelumnya itu hanyalah ilusi saja. Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sistine, salah satu malaikat maut yang ditugaskan untuk menjemput nyawamu.”

Sistine tampak begitu cantik parasnya sebagai seorang malaikat maut. Sepintas aku pernah melihat Sistine di suatu tempat… tetapi aku samar-samar mengingatnya.

“Kalau boleh tahu, kenapa aku bisa sampai meninggal?”

Sistine diam tersenyum. Ia malah bertanya balik kepadaku.

“Coba kamu mengingat dulu apa saja yang kamu lihat dan rasakan sebelumnya!”

“Aku tiba-tiba barada di ruangan, tersesat di gurun, masuk ke dalam badan seseorang yang bernama Airi, dicecar pertanyaan dari langit, dan itu sejauh yang ku ingat sebelum aku ada di sini.”

“Kamu tahu apa artinya itu?”

“Ti-tidak. Aku benar-benar bingung dan tak mengerti!”

Aku sungguh mengharapkan jawaban dari Sistine.

“Kau meninggal dengan cara yang memalukan! Kau melakukan bunuh diri!”

APA?

AKU MENGAKHIRI… NYAWAKU… DENGAN TANGANKU SENDIRI…. Tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin, tak mungkin!

“Jangan bercanda. Aku yakin semasa hidup aku adalah orang yang religius, taat pada ajaran agama, aku juga yakin tak memiliki masalah dalam hidup! Tak mungkin! Kau berpura-pura saja ‘kan menjadi malaikat maut! Iya ‘kan? sambil keluar air mataku dan kupegang bahu Sistine seraya sesekali mendorongnya dengan penuh emosi.

“Hahahahahahahha! Hahahahaahahahah! Religius katamu??? Lucu sekali aku mendengar jawaban ini dari seseorang yang telah membunuhku!!”

APA? Aku membunuh malaikat? Lucu sekali! Lucu!

“Kamu ‘kan malaikat! Bagaimana bisa aku membunuhmu? Kamu mengarang-ngarang cerita saja!”, aku membentak dengan penuh tangisan.

Sistine menceritakan apa yang ia ingin ceritakan.

“Dulunya, sebelum menjadi malaikat, aku adalah seorang manusia biasa. Aku adalah seorang gadis yang ceria sampai aku berumur 17 tahun. Saat itu ayahku meninggal dunia karena jatuh saat di kamar mandi. Aku sangat bersedih atas kepergian ayah. Lalu, tiba-tiba saja ibu mengatakan ingin menikah lagi. Aku pun diperkenalkan dengan calon ayah tiriku. Ia adalah seorang tokoh agama terpandang di kota tempat tinggalku. Awalnya, aku begitu senang menyambutnya, …”

“Apakah ayah tirimu itu adalah aku??” aku entah mengapa langsung memotong pembicaraan Sistine.

“… Bukan! Dengarkan dulu sampai selesai! Lalu, ibu dan ia menikah dan aku merasa bahagia sekali mendapat ayah tiri yang sangat baik dalam memperhatikanku sebagai seorang anak tunggal hingga menjelang kematianku, ternyata ada sesuatu yang salah. Ayah ternyata memiliki istri simpanan dan ia tak membicarakannya selama ini, Dan istri simpanan itu adalah engkau!! Aku masih ingat senyum iblismu itu saat membunuhku dengan tidak memberikanku makan dan minum selama berminggu-minggu!!”

APA. AKU. ADALAH SEORANG WANITA YANG JAHAT DULUNYA??

“Masa iya?? Aku membunuhmu. Kalaupun iya, karena apa?”

“Kamu mengincar harta dari ayahku! Karenanya, sebelum engkau sempat membunuh ibu, kau membunuhku dulu dengan cara yang kejam. Kau menculikku ke suatu tempat nun jauh dari rumah. Aku masih ingat, aku diperlakukan bagai babi tanpa adanya asupan makanku di sana sampai aku tewas begitu saja! Kamu dengan hebatnya mengatakan kabar palsu kematianku kepada ayah!!”

Sistine masih menyambung perkataannya.

“Kamu tahu apa saja pemandangan yang kamu lihat tadi? Yang pertama kali kau lihat itu pasti adalah ruang rumah sakit? Iya ‘kan?”

“Hmm. Iya, Apa maknanya itu?”

“Itu adalah tempat di mana kau dilahirkan. Saat dalam fase itu, kau masih suci tanpa noda, fase 0, kau baru saja melihat apa yang disebut dengan ‘kehidupan’.”

“Lalu bagaimana dengan gurun?”

“Oh itu, itu adalah gambaran perjalanan kehidupan yang sesungguhnya. Mengapa pemandangan yang kau lihat adalah gurun pasir dan kau ada sendirian di sana? Itulah gambaranmu semasa hidup. Kau itu adalah orang yang kesepian, lagi meneydihkan dulu. Bahkan setelah membunuhku pun kau tetap saja begitu hanya karena satu hal, kau itu tak pernah puas dengan apa yang kau dapatkan sehingga kau selalu iri hati terhadap orang lain! Yang kau rasakan untuk bahagia itu hanyalah dirimu sendiri di dalam duniamu! Persis dengan gambaran di gurun pasir yang kau alami!”

Aku hanya bisa terdiam. Sebegitu mengerikannya aku saat masih hidup.

“Sudah jelas ya, lalu untuk gambaran kedua, Kau tiba-tiba masuk ke dalam tubuh seseorang yang bernama Airi. Airi itu adalah engkau di saat hidup! Ya, namamu adalah Airi! Kau sebenarnya kembali ke masa lalumu!!!”

APA? Aku adalah Airi?? Bicara apa lagi ini Sistine.

Sistine terus melanjutkan ocehannya.

“Ya, kau adalah Airi itu sendiri. Saat masih SMA, kau masih ‘lurus’. Jadi, kau sebenarnya diajak nostalgia ke masa lalu!”

Aku seketika teringat dengan apa yang kubuka di gawai Airi. Aku ingat betul sebelum aku tumbang, aku menyaksikan hal yang sedih di sana. Ia, benar-benar mencintai ayahnya. Ayahnya menjadi korban dari kecelakaan sebuah pesawat. Ia menyimpan banyak tangkapan layar (Screenshot) dari berita kecelakaan itu di dalam galerinya. Hal itulah yang mengagetkanku di saat itu.

Jadi, begitu rupanya kisah ayahku dan mengapa ibu -bukan lagi “ibu”- begitu terdiam saat aku menanyakan perihal ayah.

“Sudah jelas ‘kan. Sekarang masuk ke yang terakhir. Inilah yang membuat dirimu menjadi ‘rusak’. Masih teringat akan pertanyaan dari ‘langit’?”

“Ah iya. Aku ingat betul!”

“Itu adalah suara dari pria yang dulu mengajakmu ke jalan yang salah! Setelah kau lulus SMA, kamu berjumpa dengannya di sebuah kafe karena dia adalah teman sejurusanmu. Kamu yang tadinya anggun akhirnya mulai beberapa kali melakukan ‘hal itu’ dengannya, ‘batu tempat berpijakmu’ itu adalah ranjang dan ‘malam kelam’ yang kau lihat merupakan ruang kamar dengan lampu yang dimatikan untuk melakukan ‘itu’, dan kau tak ada rasa malu sedikitpun untuk mengumbarnya ke teman-temanmu! KAMU BENAR-BENAR BERUBAH SEMENJAK SAAT ITU! Tidak hanya dia, kau bahkan sudah menjadi ‘wanita panggilan’ yang stay di depan gawaimu untuk mendapatkan bayaran dari para pria hidung belang di luar sana dan apa? Kau tak mendapatkan satupun kebahagiaan!! Untung saja, kau belum pernah dibuat hamil oleh mereka! Kau akhirnya menangis, meronta, meronta, dan akhirnya pergi menemui ayahku. Di sanalah, ayah kasihan padamu dan mengangkatmu sebagai istri simpanan untuk kemuliaanmu. Namun, apa yang kau perbuat! Kau tak pernah puas dengan hidupmu! Kau malah melakukan hal gila yang belum pernah kau lakukan sebelumnya, berniat menghabisiku dan ibuku! Hanya karena kau ingin sebuah kebahagiaan yang instan!! Tak mungkin, tak mungkin!!1”

Seorang malaikat itu, menangis, hilang rasa ke-malaikat-annya. Maafkan aku, Sistine. Begitu parahnya kehidupanku.

“Lalu, karena kau takut ketahuan yang sesungguhnya, akhirnya setelah nyawaku melayang kau malah memutusukan untuk bunuh diri dengan menelantangkan badanmmu di rel kereta api! Sungguh, cara matimu itu sangat-sangat cara mati seorang pengecut!”

Begitu bodohnya aku mati? Begitu hinanya aku meninggalkan dunia? Hanya karena ketidak puasanku semata? Gila. Sebegitu parahnya aku hidup di dunia?

Puncak emosiku pun tiba. Aku menangis sejadi-jadinya.

“HUAHUHUHUHUUAHUHUHUHUHUHUHUHUHUAHUAHUAHUHAUHUADIUQBIQSVFQIYFVWUFOUWQFBOUWQFGBOUQWFBOQUSBFOUQBFCOUQWFBOQUWFOUWHDOUQWFHOUWQFGUOQWGFUQWGFOUQWFHOQUFHOUQSHDOUQSFOUQSFOQUFGOUQSGFUQSFGUQGFISQGFIUQGSFUQGFUQOGFPUQGFSDOYQBGWCYQWDUYQWFBDUHUAHUHUHUHUUAHUHUHUHUHUHUHUHUHUAHUAHUAHUHAUHUADIUQBIQSVFQIYFVWUFOUWQFBOUWQFGBOUQWFBOQUSBFOUQBFCOUQWFBOQUWFOUWHDOUQWFHOUWQFGUOQWGFUQWGFOUQWFHOQUFHOUQSHDOUQSFOUQSFOQUFGOUQSGFUQSFGUQGFISQGFIUQGSFUQGFUQOGFPUQGFSDOYQBGWCYQWDUYQWFBDUOASFOIFHWQIEFHIQFHOQIFOIQ9XB649726B47126X1764B932764CB9283649B82634BC726349C8B236498BC62948C6B23948C6298356CB29356C23896BC293756CB237965CB923765CB72365CB72365CB729365BC972365CB927365CB92765BC47956B92765CB927465BC724965CB29765CB79456CB24756CB24765CB293756CB98235CB85692365C9B27365BC2965792C46B9756C92764B47265C2765CB24975C6B29756BC29756CB2975C6B924756C249756CB247956CB79465CB724965CB279465CB279456CB27456CB274965BC279456CB27956CB247965CB279456CB79456CB297456BC279635CB79635C92B7902T….”

Sudah tak jelas apa yang kuucap. Anehnya, Airi mencoba untuk menenangkanku.

“Sudah, sudah, Sekarang kamu sudah tahu semuanya ‘kan?”, sambil mengelap air matanya.

“Hari ini, aku sudah izin ke Pengawas Langit agar diberi kesempatan satu hari ini saja merasakan emosi sebagai seorang manusia. Jadi, mohon maklumi itu. Sebab, aku juga sudah bahagia di Langit setelah aku meninggal.”, Airi tersenyum kepadaku.

“Aku .. benar-benar meminta maaf, aku benar-benar meminta maaf… AKU BENAR-BENAR MEMINTA MAAFFF!!!!!!!!!”, aku langsung melakukan posisi sujud kepada Airi.

“Hmm… aku sudah memaafkan semuanya yang terjadi. Sungguh. Aku tadi hanya ingin agar engkau mengingat berbegai hal yang kau perbuat saat kau hidup dulu”.

Ia mencoba memelukku. Maafkan aku Sistine. Maafkan aku.

“Ngomong-ngomong, aku memberikan kabar baik untukmu, Airi.”

“Apa??”

“Kau bisa bereinkarnasi sekali lagi dalam hidup sebagai individu yang lain dengan catatan kau melupakan semua kejadian hidupmu di kehidupan sebelumnya dan omonganku barusan.”

APA? AKU BISA BEREINKARNASI. TERIMA KASIH LANGIT. Terima kasih langit. Aku ingin memulai kehidupan menjadi seseorang yang baru lagi! Aku tak ingin lagi mati konyol bunuh diri!

“Bagaimana caranya???”

Sistine tampak mengeluarkan sesuatu dari jubah malaikatnya, dan setelahnya terlihatlah sebuah gelas dan botol sirup.

“Ini adalah Sirup Penebusan Dosa. Rasanya sungguh sangat pahit, sepahit dosa yang telah kau lakukan pada kehidupanmu sebelumnya, dan ini ada sebuah gelas. Kau harus menuangkan sirupnya ke dalam gelas ini, kemudian meminumnya sebanyak satu kali saja, sudah cukup. Dengan begitu, aku dapat memberikan perintah agar kau dapat bereinkarnasi.

“Tak masalah! Aku akan meminumnya!”

..

Baru teguk pertama saja, sungguh sangat pahit. Aku sampai merana dibuatnya untuk meminum sirup dari Langit ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, aku tak ingin gagal mencapai Nirwana karena cara kematianku yang amat tolol itu, plus kesalahanku saat hidup juga begitu banyak. Aku menganggap ini impas. Malah, jauh lebih ringan dari apa yang ku khawatirkan.

-0-

Setelah sembilan jam waktu Langit, atau 23 tahun waktu normal di alam dunia. Aku selesai meminumnya dengan penuh perjuangan menahan segala pahit yang ada. Aku tak menyadari bahwa aku sudah beruban, sudah menjadi tua. Aku masih terikat dengan alam dunia, sementara Sistine abadi seperti itu dan tetap terhitung satu hari baginya.

“Selamat! Satu gelas sirup telah berhasil selesai diminum! Kini aku mengucapkan selamat tinggal Airi! Semoga engkau mendapatkan kehidupanmu yang lebih baik lagi. Aku benar-benar telah memaafkanmu! Selamat tinggal!”

Aku…. tiba-tiba saja kembali menangis, tetapi ini adalah tangisan haru….. dan tiba-tiba saja Sistine menghilang dari hadapanku, dan aku pun juga ,,, kepalaku rasanya berputar… dan seketika….

-0-

“Selamat, bayi ibu sudah lahir!”

“Wah lucunya, pa! Mau dikasih nama apa ini pa??”

“Hmmm… nama ya. Mungkin Airi saja. Arti namanya cukup bagus, apalagi dia ini kan perempuan!”

“Wah, benar sekali. Semoga kelak dia akan menjadi gadis yang sehat dan membahagiakan kedua orang tuanya.”

“Duh anak mama, sini, tuh nak, lihat ini ada papa! nah, itu tuh kipas angin! Ada angin, ada udara yang kamu rasain! Duh, pokoknya mama sama papa senangggggg banget. Gak sakit lagi nih mama abis ngelahirin kamu abis lihat kamu lahir dalam keadaan sehat begini!”

-TAMAT-