BIRAHIWATI

Amarah ini melebur.
Bersama birahi yang terhambur.
Kulitku haus bak kapur.
Berkeping karena hancur.

Perawanku membunuh.
Kebebasan, umur, dan patuh.
Sebab, Tuhan melarangku.
Lantaran aku harus tunduk pada Tubuh.

Nafsu bejat mesti terbendung.
Lantaran Dia anggap itu dosa.
Karena Aku memuja Maha Agung.
Maka aku bercinta pada dogma.

Aku butuh haus birahi.
Sebab keindahan tubuhku tak abadi.
Aku butuh lelaki.
Yang menuntunku pada ilahi.

Aku bingung mulai dari mana.
Sebab tak pernah kucoba.
Aku hanya wanita.
Yang lugu dan tua.

Aku menanti dibuahi.
Diranjang penuh dengan birahi.
Aku harus dosa.
Sebab aku muak dengan dogma.

Maafkan aku Maha Besar.
Aku telah mencoba melanggar.

Makassar, 7 Agustus 2016-Manda'AM

Pict: pinterest “J”