Dari Sajak Liar Makassar untuk kita.
========================
Ujung Pandang
---------------------------

Sebutanmu adalah Kota Daeng
Tak jauh beda dengan kota di negeri ini
Punya pantai hingga benteng
Yang masih perlu di perbaiki

Anganmu tertata rapi.
Dan tentu itu perlu api.
Bukan tumpukan caci.
Melainkan bara api.
Bara yang bernama perubahan.

Perubahan tanpa perlu badik berbicara.
Perubahan tanpa perlu Baca-baca(guna2) tapi perubahan yang mampu membuat kata "makassar kasar" menjadi "makassar sombere'.

Pertahankan adat "tabe" para leluhur
Yang mulai luntur
Karena generasi penerus telah hancur
Dengan berada di luar kultur

Oh.. maafkan generasimu Daeng mereka lupa pesan-pesan bijakmu, mereka lupa dari tanah mana mereka makan.

Adat dan seni budaya yang kaya.
Menggores warna bersama.
Saling santun dan sapa.
Dalam simponi layar kapal pinisi yang jaya.
Membawa harmoni ke timur indonesia.

Sultan Hasanuddin jadi kebanggaan
Di kala perang datang
Yang mana kan di kenang
Hingga di otakmu ia bersarang

Kami tidak garang.
Kami suka girang.
Kami belum karam bersama kerang.
Kami hanya sementara berenang.

Anak bura'nena gagah dengan badik di pinggang tapi tahu dimana mereka harus berkata tabe'. Tu lolona cantik dengan baju bodonya dan terlihat manis saat berucap Iye.

Dan lagi kubanggakan ayam jantanku
Beradu dengan badan kekarnya
Layak penghuni tanah daengku 
Kian beradu dengan akal cerdiknya

Stigma kasar tidak berlaku lagi.
Ini hanya adat istiadat.
Kami hanya melanjut.
Kota daeng yang dirajut nenek moyang

Harapku harapmu harapkami
Tetaplah menjadi tanah kebanggan
Dengan adat istiadat yang membumi

Dan tak luntur di makan waktu
Tetap menjadi rindu
Yang teranyam di Kota Daeng..

Ewako!

oleh: sajak liar Makassar-5 Agustus 2016

Like what you read? Give Agus Mawan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.