NARASI SUNYI

Di kolong langit, langkah kubiarkan melangkah pada tanah yang tandus dan sepi.

Kutundukkan pandangan sejenak, pula dengan perjuanganku, satu yang tak kubiarkan beristirahat: Cinta.

Aku butuh cinta ditiap detik dalam detik, bersama nada yang kupetik.

Harmoni simponi cinta merangsang jari memetik lembut aksara, menggugah rasa untuk diolah, dihidangkan dalam hangatnya yang ditusuk oleh dingin.

Kata-kata mulai luka, butuh istirahat katanya, juga butuh semangat imbuhnya.

Mereka mulai meringkuk menuju peranjangan, tanpa menoleh dan pamit, ia lekas berlari mengambil sarung lalu mengenakannya. Padaku mereka berkata "Tuan aku butuh istirahat yang cukup, tolong sekalian bantu aku mengenakan sarung ini".

Telah kukenakan sarung pada tubuh mereka, kemudian kubacakan dongeng yang membuatnya terbangun.

Setelah terbangun, mereka menangis dan membiarkan ranjang basah.

"Tuan, kamu sepikah?" Katanya padaku.
Dan setelah aku tak mampu menjawabnya, kata-kata itu datang merengkuh badanku yang cungkring.

Dan jadilah puisi ini.

Makassar, 17 Agustus 2016-Manda’AM
Pict : pinterest "thorgirl"

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.