Secangkir kopi asin
oleh Fitri Kamar Mandi & Manda' AM

Di meja tatapanku
Tak berpaling tak berguling
Di cangkir tatapanku
Pada wajahmu yang membias kopi ku

Dalam temarampun tak jua sirna
Aroma kopi ini sama denganmu
Yang setiap hari jadi candu
Dan tetap menjadi obat di kala malam bertemu

Tak indah kah?
Jika bulan kutatap lewat dua bola matamu?
Pada tiap wangi kopi yang bertalun
Sejak detik berkata rindu

Tak apa bila warnamu hitam pekat
Semuanya akan terus melekat
Bagaimana wujud tak jadi penghalang
Seperti kau yang terus terbayang

Aku menyelami lautan kopi ini
Harap kudapat kamu
Sedang merindukan aku
Yang siap menyeruput seluruh rindu digelas ini

Ku cari kamu hingga sisa ampas kopi
Yang tergenang di antara sisa-sisa malam ini
Tapi tak pula terlihat setitik hadirmu
Menjadi pelengkap dalam lembah peraduanku

Peraduanku yang pahit
Tanpa hadirmu
Titik!
Sebelum kita lekas menyapuh bersih sisa ampas kopi ini..

Makassar, September 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.