SURAT BER(PU)ISI JIHAD
=====================
Oleh : Manda'AM

Hari ini, jihadku telah usai,
Untuk memiliki mu hingga mati,
Esok hari, jalan yang dulunya lurus,
Akan terus kususuri walau jiwa ini kian diderus arus yang membawa kesesatan.

Intuisi ku akan tetap menjadi padang puisi, dan akan terus berdiksi hingga kata-kata itu selalu hadir di dalam benakmu yang berubah menjadi,
Sebuah pesan kasih, yang
Tak sempat kugantikan dengan ilusi.

Hari ini hingga kita saling melupa satu sama lain,
Tiap detik ketika aku mengingat-Nya,
Akan kupanjatkan Doa, agar
Kita berdua tak saling mengingat lagi dan tak saling mencari.

Saling berjauhan wajah, dan
Tak saling tatap mesrah, itu adalah jalan yang
Membawa tubuh kita ke arah
Kebencian yang penuh dengan amarah,
Yang menjadikan ini adalah titik akhir sebuah rasa.

Aku hanya ingin, meninggalkanmu dalam pengaruh kebencian,
Sehingga kita sadar dan terbangun dari pertanyaan;
Mengapa perpisahan adalah
Jalan terakhir untuk kita berdua?, dan
Tak mungkin bisa menjadi satu, yang akan
Bersaksi atas nama cinta,
Kita berdua.

Esok, Sang Maha Kasih,
Mulai merengkuh tubuh ku kembali,
Tanpa jelmaan seorang wanita,
Wanita yang kuberi nama; Kamu.

Hei bangunlah, 
Aku hanya ingin hilang,
Dan bersembunyi ditiap balik huruf,
Yang tak sempat kubersihkan,
Pada puisi yang terguyur tangisanku.

Padamu selalu akan kunanti,
Tiap setangkai Tutur kebencianmu,
Pada diri ini.

Dan satu lagi,
Untuk wanita yang dulu pernah menjadi,
Arah disaat aku sedang tersesat rindu,

Padamu akan kukakatan bahwa;
Perpisahan adalah cara terbaik, untuk
Mengisyaratkan, menjadi teman adalah kekecawaan pada keinginanku,
Untuk memilikimu sampai mati.

Bergegaslah basuh wajahmu dengan air,
Ketika kamu telah terbangun,
Dan semuanya kembali seperti semula,
Kau dan aku tak saling kenal.

Makassar, 20 November 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.