Tepi.
Saya suka menyebutnya, tepi.
Tidak sedikit jalan yang bisa kita ambil sebagai makhluk di bumi ini. Mau jadi ini, itu, begini, begitu, ke sana, ke sini, semesta sudah berbaik hati memberikan sebuah kata: terserah. Tapi ya, namanya juga manusia, barangkali takut salah, jadi cari amannya selalu jawab: saya manut.
Ya, manut. Akhirnya manut sama arus. Orang-orang ke kanan, lalu ke kanan. Orang-orang ke kiri, lalu banting stir ke kiri. Akhirnya muncul istilah “normal” dan “aneh”.
Duh “aneh” terlalu kasar. Ya, kita sebut aja “unik”.
Mungkin banyak yang sadar kalau “unik” itu “aneh”, jadi semua mencoba menjadi tampak normal. Mengikuti arus deras di tengah jalan. Tampak nyaman dengan zona serba aman di sana. Kalau kesusahan, ya ada orang-orang normal lain disana.
Dan saya, mungkin yang “unik” hanya menyaksikannya di sebuah tepi.
Yang “unik” selalu kebingungan. Yang “unik” selalu tergoda “nyemplung” ke ramainya arus di tengah. Karena sepertinya, hidup akan terjamin jika kita masuk dalam arus itu.
Segalanya adalah perihal menjadi diri sendiri. Karena terkadang menjadi diri sendiri menciptakan benteng tantangan sosial di depan mata yang… harus kita lewati. Sendiri.
Sendiri?
Iya, karena kita berada di tepi.
