Kemewahan Raja Salman dan Ekonomi Arab Saudi

Ilustrasi Raja Salman (Sumber: Bagus Permadi, Kumparan).

Kedatangan Raja Salman ke Indonesia semakin dekat. Persiapan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sangatlah banyak. Baik dalam penyediaan konsumsi dan akomodasi.

Sebagaimana yang diberitakan oleh Kumparan, rencananya, Raja Salman akan menginap di salah satu hotel termewah di Jakarta, Hotel Raffles. Rombongan akan disambut pula oleh pasukan berkuda Paspampres di Istana Bogor. Raja Salman dan 1.500 orang yang dibawanya, dikabarkan akan menggunakan tujuh buah pesawat sehingga kemungkinan besar Bandara Ngurah Rai akan ditutup. Masjid Istiqlal juga membangun lift serta memperbaiki fasilitas toilet yang mereka miliki.

Histeria masyarakat tak kalah besarnya. Pada hari Minggu (26/2/2017), Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) menyelenggarakan acara pawai suka cita menyambut kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz di kawasan Car Free Day. Mereka ramai-ramai membubuhkan tanda tangan diatas kain putih panjang, yang isinya adalah petisi dukungan terhadap kedatangan Raja Salman. Begitu juga komentar dan pernyataan suka cita dari netizen di jejaring sosial, sudah tak terhingga banyaknya.

Dibalik hingar bingar kedatangan Raja Salman, Head of Research Division PT. Indonesia Stock Exchange, Poltak Hotradero justru membahas mengenai kondisi perekonomian Arab Saudi saat ini. Tulisannya sangat menarik karena bisa memberikan pemahaman kepada kita mengenai kontradiksi kemewahan Raja Salman dengan kondisi perekonomian di Arab Saudi.

Menurut Poltak Hotradero (26/2/2017), jika dilihat dari statistik anggaran yang dikeluarkan oleh The Economist, posisi keuangan Arab Saudi sedang mengalami defisit 11,7%. Penerimaan Arab Saudi sebesar 587,6 Miliar Riyal, sedangkan pengeluarannya sebesar 887,5 Miliar Riyal. Sehingga defisit anggarannya mencapai hampir 300 Miliar Riyal. Defisit dibiayai dengan mencetak uang lebih banyak atau bisa juga dengan melepas cadangan devisa. Itu yang dilakukan oleh Arab Saudi.

Budget Arab Saudi (Sumber: The Economist).

Pencetakan uang yang besar akan memicu inflasi. Sebagai mana yang dilaporkan oleh Otoritas Statistik, pada Desember 2016 Arab Saudi mengalami inflasi sebesar 1,7 persen dan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Bulan Januari 2017 mengalami deflasi 0,4 persen (year on year/yoy) untuk pertama kalinya sejak tahun 2005.

Inflasi yang tinggi menunjukkan beberapa permasalahan ekonomi, begitu juga dengan deflasi yang rendah mengindikasikan adanya faktor negatif dalam perekonomian. Hal tersebut dapat memperlambat kegiatan ekonomi, karena beberapa orang akan menunda belanja hingga harga-harga turun.

Menurut Poltak Hotradero, sehancur-hancurnya ekonomi Indonesia Pasca Reformasi, belum pernah Indonesia mengalami defisit anggaran lebih dari 3%. Sementara defisit anggaran Arab Saudi mencapai 11%. Dari sisi anggaran, kondisi anggaran Indonesia lebih sehat dari anggaran Arab Saudi karena defisit Indonesia lebih rendah. Secara umum, semakin kecil defisitnya, semakin sehat keuangan pemerintahnya.

Budget Indonesia (The Economist).

Lebih lanjut, Poltak Hotradero mengatakan bahwa subsidi yang diberikan Arab Saudi kepada rakyatnya terlalu berlebihan. Akibatnya, rakyat jadi tidak punya kapasitas dan inisiatif. Ekonomi pun makin tergantung pada negara. Cadangan devisa Arab Saudi juga terus mengalami penurunan. Tanpa perubahan arah ekonomi secara radikal, cadangan devisa ini bakal ludes dalam 4–5 tahun.

Saudi Arabia Foreign Exchange Reserves (Sumber: Trade Economics)

Maraknya penggunaan energi terbarukan, juga berimbas terhadap ekonomi Arab Saudi. Permintaan minyak bumi turun karena China memperlambat ekonomi mereka, sekaligus membanjiri dunia dengan solar cell murah.

Cadangan minyak yang dimiliki Arab Saudi, tidak mungkin akan bertahan selamanya, sehingga jalan keluarnya adalah melakukan investasi. Setelah melakukan kunjungan bisnis di Indonesia, Raja Salman rencananya akan melanjutkan perjalanan bisnisnya ke Cina dan Jepang.


Show your support

Clapping shows how much you appreciated Manik Sukoco’s story.