Kerancuan Konsep Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

Sumber: Illustration Magazine

Menurut Burhan Nurgiyantoro (1998), kurikulum memiliki kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktifitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Kurikulum dipahami sebagai suatu rencana yang sengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan itu.

Kehidupan dalam era global menuntut berbagai perubahan pendidikan yang bersifat mendasar. Perubahan-perubahan tersebut antara lain: perubahan dari pandangan kehidupan masyarakat lokal ke masyarakat global, perubahan dari kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis, dan perubahan dari pertumbuhan ekonomi ke perkembangan kemanusiaan.

Kita dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama untuk berkiprah dalam era kesejagatan, khususnya globalisasi pasar bebas di negara-negara ASEAN, seperti AFTA (ASEAN Free Trade Area), AFLA (ASEAN Free Labour Area), dan di negara-negara kawasaan Asia Pasifik (APEC). Era globalisasi dan pasar bebas telah menimbulkan berbagai kesemrawutan sehingga manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang sangat kompleks dan tidak menentu. Hal tersebut telah menimbulkan jurang pemisah yang mengakibatkan hubungan yang tidak linear antara pendidikan dengan dunia kerja (one to one relationship) karena apa yang terjadi di dunia kerja sulit diikuti oleh pendidikan. Bebasnya akses terhadap media massa terutama media elektronik dan jejaring internet juga merupakan tantangan yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu dan teknologi komunikasi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya.

Revitalisasi dan penekanan karakter dalam pengembangan Kurikulum 2013 diharapkan dapat menyiapkan SDM yang berkualitas sehingga masyarakat dan bangsa Indonesia bisa menjawab masalah dan tantangan yang semakin rumit dan kompleks. Hal ini penting karena dalam era globalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung begitu cepat. Berbagai masalah dan tantangan yang datang silih berganti dalam era globalisasi tidak lagi dapat dihindari. Bangsa Indonesia harus masuk dalam arus perubahan tersebut, ikut bermain, harus mampu mengambil peluang, dan memanfaatkannya demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.

Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk mempertinggi daya saing, memahami hakikat perubahan, memanfaatkan peluang yang timbul, mengantisipasi terkikisnya rasa nasionalisme dan erosi ideologi kebangsaan, serta mengokohkan kembali pendidikan karakter yang selama ini sudah dipandang hilang dari kehidupan bangsa Indonesia.

Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan dibangun atas dasar produk, proses, dan sikap ilmiah. Selain itu, ilmu pengetahuan dipandang sebagai proses, produk, dan prosedur. Sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan hasil proses berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah ataupun di luar sekolah ataupun bahan bacaan untuk penyebaran atau diseminasi pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan sebagai metodologi atau cara yang dipakai untuk mengetahui sesuatu (riset pada umumnya) yang lazim disebut dengan metode ilmiah (scientific method). Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik.

Proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Sayangnya, konsep serta langkah-langkah pendekatan saintifik masih simpang siur dan penuh ketidakjelasan.

Kerancuan konsep pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 dapat dilihat dalam ketidaksinkronan hirarki ilmiah dalam pendekatan ilmiah yang terdapat dalam Permendikbud 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Garuda, Lampiran Permendikbud 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, pandangan Prof. Mulyasa, serta dalam Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013.

Pendekatan Saintifik menurut Permendikbud 81A Tahun 2013

  1. Permendikbud 81A tahun 2013 tidak memberikan definisi yang jelas tentang pendekatan saintifik.
  2. Pada Lampiran IV, Bagian V, Sub Bagian B tentang Pembelajaran Langsung dan Tidak Langsung, terdapat pembahasan mengenai proses pembelajaran yang terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan
  3. Penjelasan ini dilengkapi tabel yang disusun dengan kurang hati-hati sehingga berpotensi menimbulkan multi tafsir dalam pelaksanaannya di lapangan. Penjelasan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Keterangan:

  • Pada kompetensi aspek mengamati, “mencari informasi” bukanlah kompetensi yang termasuk dalam domain aspek mengamati.
  • Tidak ada definisi yang jelas pada langkah pembelajaran ketiga. Mengumpulkan informasi disejajarkan/disetarakan dengan eksperimen, padahal kegiatan “mengumpulkan informasi” tidaklah sama dengan kegiatan “melakukan eksperimen”.
  • Kompetensi yang dihasilkan dari kegiatan “mengumpulkan informasi” dengan “melakukan eksperimen” tentulah sangat berbeda.

Pendekatan Saintifik menurut Lampiran Permendikbud 22 Tahun 2016

  1. Permendikbud 22 tahun 2016 juga tidak menyebutkan definisi yang jelas mengenai pendekatan saintifik.
  2. Lebih lanjut, dalam lampiran Permendikbud 22 tahun 2016 terdapat tabel mengenai gradasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam Kurikulum 2013. Lihat tabel 2.

Keterangan

  • Dalam ranah keterampilan, kini ada penambahan satu elemen, yaitu mencipta. Mencipta akan muncul dengan penerapan model pembelajaran penemuan (discovery learning). Model pembelajaran yang diterapkan di sekolah umumnya bukanlah model discovery learning. Lalu bagaimana cara memasukkan elemen “mencipta” dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)?
  • Penjelasan di atas semakin menimbulkan ketidakjelasan mengenai langkah-langkah baku dalam pendekatan ilmiah. Baik Permendikbud 81A/2013 maupun Permendikbud 22/2016 sama-sama merupakan perundangan yang hidup.
  • Pendekatan ilmiah diterapkan agar langkah-langkah atau proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan metode ilmiah. Jika metodenya saja tidak jelas, bagaimana penafsiran, pelaksanaan, serta hasilnya? Kata ilmiah haruslah merujuk pada sesuatu yang sifatnya baku dan memiliki nilai kebenaran yang diakui secara umum.

Pendekatan Saintifik menurut Modul Kurikulum 2013

Langkah-langkah dalam modul Kurikulum 2013 ternyata tidaklah sama dengan yang ada dalam hirarki peraturan perundang-undangan (Permendikbud 81A/2013 maupun Permendikbud 22/2016). Hirarki pendekatan saintifik dalam modul Kurikulum 2013 edisi revisi dapat dilihat pada Gambar 1.

  1. Hirarkinya yaitu: mengamati, menanya, menalar, mencoba, lalu membentuk jejaring. Ini berbeda dengan hirarki pendekatan ilmiah dalam Permendikbud 81A tahun 2013 maupun Permendikbud 22 tahun 2016. Demikian juga dengan materi pembahasan mengenai pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Padahal modul ini merupakan materi sosialisasi Kurikulum 2013 yang memiliki cakupan nasional.
  2. Ketidaksinkronan antara landasan operasional dalam Permendikbud 81A/2013, standar proses dalam Permendikbud 22/2016, serta materi sosialisasi dalam modul Kurikulum 2013, tentunya menimbulkan tanda tanya bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Pendekatan Saintifik menurut Prof. Mulyasa

Prof. Mulyasa adalah salah satu penyusun blueprint Kurikulum 2013. Untuk itu, kita perlu mengkaji pendapat Prof. Mulyasa mengenai pendekatan saintifik dalam pembelajaran.

Langkah-langkah pendekatan saintifik yang dimuat dalam buku “Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013” halaman 77–78 adalah: mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini.

Lagi-lagi hirarkinya berbeda. Kesimpangsiuran informasi mengenai hirarki serta prosedur yang digunakan, membuat penerapan metode saintifik semakin tidak jelas acuannya.

Daftar Rujukan Tim Penyusun Modul Kurikulum 2013

Berikut adalah daftar literatur yang menjadi rujukan dalam penyusunan Modul Kurikulum 2013, terkait pembahasan mengenai pendekatan saintifik:

Abdul Gafur, 2001. Perencanaan Pembelajaran PPKn Berbasis Kompetensi: Bahan Pelatihan Terintegrasi Guru PPKn SLTP. Jakarta: Direktorat SLTP.

Allen, L. (1973). An examination of the ability of third grade children from the Science Curriculum Improvement Study to identify experimental variables and to recognize change. Science Education, 57, 123–151.

Padilla, M., Cronin, L., & Twiest, M. (1985). The development and validation of the test of basic process skills. Paper presented at the annual meeting of the National Association for Research in Science Teaching, French Lick, IN.

Quinn, M., & George, K. D. (1975). Teaching hypothesis formation. Science Education, 59, 289–296. Science Education, 62, 215–221.

Sudarwan (2013), Pendekatan-Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran, Makalah pada Workshop Kurikulum, Jakarta

Thiel, R., & George, D. K. (1976). Some factors affecting the use of the science process skill of prediction by elementary school children. Journal of Research in Science Teaching, 13, 155–166.

Tomera, A. (1974). Transfer and retention of transfer of the science processes of observation and comparison in junior high school students. Science Education, 58, 195–203.

Zamroni, (2001). Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civil Society. Yogyakarta: BIGRAF Publishing.

  1. Rujukan asing yang dipakai oleh tim penyusun Modul Kurikulum 2013 adalah literatur tahun 1970–1980an. Sebagaimana yang dijelaskan DeBoer (2000) jika merunut sejarah, saat itu science dipandang sebagai sebuah ilmu yang sangat bergengsi, terutama karena sumbangsihnya dalam Perang Dunia II. Karenanya, metode ilmiah (scientific method) digunakan dalam riset yang sifatnya terbatas, hanya diterapkan oleh kalangan tertentu (peneliti & akademisi), serta dilakukan melalui prosedur yang luar biasa ketat.
  2. Rujukan dalam negeri yang dipakai oleh tim penyusun Modul Kurikulum 2013, adalah literatur yang telah dipublikasikan lebih dari 15 tahun yang lalu, itupun sebagian membahas persoalan lain, seperti demokrasi atau perencanaan pembelajaran. Hanya ada satu rujukan yang diterbitkan 4 tahun yang lalu, berupa makalah dalam workshop kurikulum, itupun dengan pembahasan yang dangkal serta membingungkan.

Sebuah Catatan

  1. Konsep science sebagai sebuah pendekatan (approach) dalam ranah social studies atau linguistic adalah konsep yang asing. Istilah pendekatan ilmiah (scientific approach) tidak begitu populer dalam publikasi jurnal ilmiah yang diakui secara internasional.
  2. Sebagai sebuah metode, scientific method merujuk pada metode baku yang dianut dalam melaksanakan penelitian ilmiah. Sebagian besar publikasi jurnal internasional mengenai metode saintifik, membahas mengenai langkah-langkah ilmiah dalam melakukan penelitian yang menjunjung tinggi prinsip kebakuan dan universalitas.
  3. Penerapan metode saintifik dalam ranah ilmu sosial dan bahasa, tidak memiliki acuan serta tolok ukur keberhasilan yang jelas. Secara teoritis, konsep ini sangatlah bagus. Namun, jika hirarkinya “dibalik-balik” atau “terbalik-balik”, maka proses pembelajaran atau pondasi keilmuan yang dibangun melalui hirarki tersebut, secara otomatis akan hancur.
  4. Konsep yang kini sedang populer dan sering diperdebatkan dalam dunia internasional adalah konsep science literacy (US) dan science competency (EU). Berbagai negara di kawasan Amerika dan Eropa mengadopsi science literacy dan science competency dalam kurikulum. Bidang studi lain menyerap konsep ini, dengan tujuan untuk meningkatkan literasi atau kompetensi masyarakat akan science. Di Amerika gerakan ini dimotori oleh STEM dan di Eropa oleh OECD. Melalui penerapan konsep tersebut, institusi diharapkan dapat memberikan informasi akan isu-isu kontemporer science (perubahan iklim, pemanasan global, serta isu lingkungan) kepada masyarakat umum supaya mereka memahami perlunya menjaga lingkungan dan mengetahui pengaplikasian science dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Perlu adanya kejelasan mengenai konsep yang diadopsi dalam Kurikulum 2013, apakah scientific approach, scientific method, science literacy, ataukah science competency. Jika yang diadopsi adalah scientific method, maka perlu dilakukan sinkronisasi antara landasan operasional, standar proses, maupun modul sosialisasi implementasi Kurikulum 2012. Selain perlunya sinkronisasi, metode saintifik yang diadopsi haruslah berpijak pada teori baku yang telah diakui secara internasional.