Kuli Tinta

Dokumentasi Pribadi

Aku meraung letih. Di dalam sini begitu sepi.

Cuma wajah-wajah asing yang berlalu lalang dengan traffic tinggi.

Aku berusaha mengingat beberapa diantara mereka. Mencoba melihat. Memperhatikan. Mengenali mereka dari warna.

Tapi sisanya cuma orang-orang tanpa nama, yang kebetulan, selama beberapa jam dalam kehidupan mereka dihabiskan di ruangan ini bersamaku.

Aku lebih tampak seperti zombie daripada manusia. Membaca dan menulis banyak hal. Tentang rakyat. Betapa ketidakadilan sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Kadang dengan bodohnya saya bertanya pada diri sendiri, mengapa tidak ada lagi yang peduli dengan nasib mereka? Mengapa segala sesuatu kini diukur dengan uang, dan bukan dengan rasa kemanusiaan?

Hidup ini adalah sebuah perjuangan. Namun, perjuangan semakin berat karena moral dan hukum sudah tidak ada lagi harganya di negeri ini. Moral dan hukum sudah MATI.

Hey, ini hidup! Setiap orang punya hak buat menghabiskan hidupnya dengan cara masing-masing.

Itu benar, namun setiap orang juga berhak untuk memiliki harapan akan kehidupan yang lebih baik. Harapan akan penegakan hukum yang adil untuk semua. Harapan akan generasi muda yang bermoral dan berbudaya.

Apakah salah untuk sekedar berharap? Ah, sudahlah…

Persetan dengan birokrasi!

Aku mau berbuat dengan tulus, setidaknya pada diriku sendiri. Berbakti sepenuh hati melewati sisa hari ini. Melupakan istirahat dan leha-leha. Besok-besok urusan nanti.

Like what you read? Give Manik Sukoco a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.