Netizen Indonesia, Angka Literasi, dan Maraknya Hoax

Netizen Indonesia termasuk kategori yang aktif di berbagai sosial media (Sumber: Belawai).

Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang Indonesia aktif sekali menggunakan jejaring sosial, mulai dari Facebook, Youtube, Twitter, maupun Linkedin. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Michal Sadowski (Founder Brand24) untuk Socialmemos, Indonesia merupakan pengguna Twitter urutan kelima di dunia dan Jakarta merupakan kota dengan jumlah pengguna Facebook urutan kedua di dunia. Fakta yang lain adalah:

  • Ada 1.3 juta pengguna Linkedin di Indonesia.
  • Lebih dari 11 juta pengguna Facebook merupakan warga Jakarta.
  • Ada 29 juta warga Indonesia yang memiliki akun Twitter.
  • Warga Jakarta memposting 2.4% dari 10.6 milliar tweet di seluruh dunia.
Statistik pengguna Facebook, Twitter, dan Youtube (Sumber: Sosialmemos).
Statistik pengguna Linkedin di Indonesia (Sumber: Sosialmemos).

Survei yang dilakukan oleh Sadowski sejalan dengan data yang tersimpan di Twitter Counter. Situs ini mendokumentasikan statistik pengguna Twitter. Dari data yang saya peroleh hari ini (9/2/2017), dapat diketahui bahwa rata-rata orang Indonesia memposting 32 tweet dalam sehari. Adapun jumlah netizen Indonesia menurut data yang dihimpun Kompas, yaitu sebesar 132.7 juta jiwa.

Statistik pengguna Twitter di Indonesia (Sumber: TwitterCounter).
Statistik pelanggan telepon seluler di Indonesia (Sumber: Litbang Kompas).
Statistik pengguna internet di Indonesia (Sumber: Litbang Kompas).

Bagaimana dengan angka literasi penduduk Indonesia?

Aktifnya netizen Indonesia ternyata tidak didukung dengan minat baca atau besarnya angka literasi. John W. Miller dan Michael C. McKenna dalam bukunya World Literacy: How Countries Rank and Why It Matters yang diterbitkan oleh Routledge (2016) menerangkan bahwa minat baca Indonesia ada di urutan ke-60 dunia dari 61 negara yang diteliti. Minat baca penduduk Indonesia terletak di bawah Thailand dan hanya setingkat diatas negara Bostwana.

Peringkat literasi Indonesia (Sumber: John W. Miller dan Michael C. McKenna).

Data tambahan yang dihimpun oleh Litbang Kompas juga sangat memprihatinkan. Minat baca masyarakat Indonesia baru sebesar 0.001 persen dan rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 27 halaman buku dalam setahun.

(Sumber: Litbang Kompas).
(Sumber: Litbang Kompas).
(Sumber: Litbang Kompas).

Apa hubungan aktifitas Netizen, angka literasi, dengan maraknya hoax di Jejaring Sosial?

Saya jadi teringat dengan pepatah orang jaman dulu: Tong kosong nyaring bunyinya. Artinya, orang yang kurang ilmunya biasanya banyak bicara. Dari jumlah tweet rata-rata dalam sehari, netizen Indonesia bisa dikategorikan sebagai masyarakat yang banyak bicaranya. Lalu merujuk dari data mengenai literasi, bisa disimpulkan bahwa orang Indonesia masih kurang membaca. Orang yang kurang membaca pasti ilmunya sedikit. Apa kita bisa menyebut orang yang hanya membaca 27 halaman buku dalam setahun, sebagai orang yang banyak ilmunya/orang yang pintar? Apa sih yang bisa didapatkan dari membaca sebanyak 27 halaman?

Rendahnya angka literasi ini membuat orang Indonesia mudah termakan isu, tanpa ada keinginan untuk mengkaji kebenaran atas isu tersebut. Tanpa klarifikasi terlebih dahulu, jika melihat atau mendengar berita di FB atau Twitter, langsung saja di-like, di-share, di-retweet, kadang malah ditambah-tambahi dengan kata-kata yang provokatif. Berita yang provokatif ini lalu diterima oleh orang yang (juga) malas membaca, dan gampang terprovokasi. Akhirnya berita yang belum jelas kebenarannya ini, lalu disebarkan dari satu akun media sosial ke akun media sosial yang lain, sampai akhirnya menjadi viral. Inilah yang memicu maraknya hoax.

Saya sempat tertawa ketika melihat pendapat dari Pimpinan Muhammadiyah mengenai penduduk Indonesia yang dimuat dalam Suara Muhammadiyah (23/11/2016). Haedar Nasir menyindir keadaan masyarakat hari ini, yang lebih mudah diajak untuk berdemo dibandingkan untuk diajak ke perpustakaan atau mengembangkan ilmu pengetahuan.

Apa solusi atas kejadian ini?

Solusinya, perbanyak membaca dan belajar. Harapannya dengan banyak membaca, kita bisa membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang tidak benar (hoax). Jangan sampai kita sebagai orang Indonesia, tersohor di sosial media karena perannya sebagai penyebar hoax dan bukan karena kreatifitas, karya, atau kredibilitasnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.