Serangan terhadap Pemberantasan Korupsi

Ilustrasi Novel Baswedan (Sumber: Bagus Permadi, Kumparan).

Kasus kekerasan yang dialami penyidik senior KPK, Novel Baswedan bukanlah hal yang baru di dunia. Di negara lain ancaman pembunuhan bahkan sampai hilangnya nyawa sudah beberapa kali terjadi.

Di Yaman misalnya, serangan menimpa jurnalis investigatif, Mohammad Al Absi. Ia mati diracun ketika sedang menyelidiki kasus korupsi yang dilakukan oleh perusahaan minyak yang dipimpin Houthis & Saleh.

Selama beberapa tahun sebelum kematiannya, Al Absi rutin menerbitkan laporan terkait dengan korupsi dalam industri energi serta kaitannya dengan kesepakatan perdagangan senjata. Al Absi wafat saat menyelidiki tentang perusahaan minyak dan gas yang diduga beroperasi di pasar gelap.

Al Absi saat melakukan liputan (Sumber: Baraa Shiban, Instagram)

Di Inggris pada Bulan Maret 1987, Daniel Morgan, seorang detektif swasta ditemukan tewas dengan luka bekas bacokan kapak di Sydenham, London Timur Laut. Morgan pada saat itu berniat untuk mengekspos skandal korupsi, perdagangan narkoba, dan perampokan yang dilakukan oleh aparat kepolisian Inggris.

Kejadian ini membuat heboh warga Inggris. Masyarakat setempat pun menandai tragedi itu sebagai kenangan buruk dari tindak korupsi di Layanan Polisi Metropolitan karena kasusnya tidak terpecahkan. Selain sering dihambat kurangnya bukti, banyak polisi yang membantah terlibat dalam perencanaan pembunuhan Morgan.

Daniel Morgan, penyidik swasta yang terbunuh saat meliput skandal korupsi (Sumber: The Guardian).

Hal memilukan juga terjadi di Rusia yang menimpa pengacara Nikolai Gorokhov. Ia terluka akibat jatuh dari apartemennya. Gorokhov merupakan kuasa hukum keluarga Sergei L Magnitsky yang berhasil menguak kasus korupsi pajak di Rusia pada tahun 2009.

Magnitsky tewas di penjara dan meninggalkan tanda tanya besar di kalangan publik. Pengungkapan kasus ini menjadi tugas berat yang harus diselesaikan Gorokhov. Pada akhir Maret lalu, Gorokhov diduga didorong dari lantai empat apartemennya di Moskow sehingga terjatuh dan mengalami luka serius. Kejadian ini hanya terjadi sehari sebelum sidang di pengadilan Moskow digelar.

Gorokhov berencana untuk menunjukkan bukti baru atas kasus Magnitsky di persidangan. “Ini bukan sebuah kecelakaan,” kata William Browder. Browder adalah pendiri Hermitage Capital Management tempat Gorokhov bekerja. Ia mengatakan kepada The New York Times bahwa kasus Magnitsky memiliki risiko besar karena taruhannya nyawa. Dia sendiri bahkan diancam akan dibunuh, baik secara langsung atau tidak langsung. “Di Rusia, preman itu memakai jas dan bekerja untuk pemerintah,” katanya.

Karangan bunga di pemakaman Sergei Magnitsky. Gorokhov, merepresentasikan keluarga Magnitsky sejak tahun 2011 (Sumber: Mikhail Voskresensky, Reuters).

Berdasarkan data yang dirilis oleh Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), sebanyak 27 jurnalis di India juga tewas dibunuh sejak 1992 atas aksi mereka mengungkap kebobrokan pemerintah dalam skandal korupsi.

Wartawan lepas Jagendra Singh tewas dibakar oleh oknum polisi pada Juni 2015 setelah menyelidiki tuduhan keterlibatan pejabat lokal dalam kasus pencaplokan lahan dan pemerkosaan. Umesh Rajput juga terbunuh ketika menyelidiki keterlibatan seorang anak laki-laki politisi India dalam kasus judi ilegal. Akshay Singh sedang meliput kasus yang terkait dengan skandal korupsi sebesar US $ 1 juta, ketika ia meninggal secara tak disangka-sangka pada Juli 2015.

Menurut laporan Reporters Without Borders (RSF) yang diterbitkan April 2016, India adalah negara yang paling mematikan di Asia, diatas Pakistan and Afghanistan dalam hal kebebasan pers.

Di Brasil, jurnalis bernama Mario Randolfo Marques juga tewas ditembak pada 2012 setelah setahun sebelumnya, dia ditembak lima kali dan sempat koma.

Mario Randolfo Marques, jurnalis yang menjadi korban penembakan di Brazil (Sumber: jornalistas.org.br)

Insiden pun menimpa Teori Zavascki, seorang hakim agung Brazil yang memiliki peran sentral dalam mengawasi penyelidikan korupsi besar-besaran yang mengguncang negara Amerika Latin. Ia wafat dalam sebuah kecelakaan pesawat misterius di luar kota Paraty, sebuah kota pesisir yang populer sekitar 155 mil (250 kilometer) barat Rio de Janeiro.

Kematian Teori Zavascki menimbulkan tanda tanya publik terhadap kelanjutan investigasi kasus korupsi yang melibatkan Perusahaan Minyak Petrobras.

Di Indonesia serangan terhadap pemberantasan korupsi dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari pendekatan personal (rayuan), kriminalisasi, ancaman teror melalui sms atau media sosial, tabrak lari, penjemputan/penangkapan/penahanan/penggeledahan, ancaman terhadap keluarga, ancaman pembunuhan, penarikan penyidik KPK, ancaman bom, ancaman pembunuhan, ancaman tindakan indisipliner oleh instansi asal, ancaman santet atau guna-guna, sampai dengan fitnah yang bertubi-tubi (Kumparan, 11/4).

Sebagaimana dikatakan oleh Bambang Widjojanto di Kumparan (16/4), setidaknya ada 3 (tiga) hal penting guna mengantisipasi agar kasus NB tidak terulang kembali.

Pertama, para penyidik dan fungsional KPK harus terus menerus melatih kepekaannya atas potensi intimidasi yang potensial terjadi atas dirinya. Tentu saja, mereka juga menyiapkan dirinya agar memiliki kompetensi sehingga mempunyai kesiapan dan kemampuan menghadapi sitasi buruk yang menyergap dirinya.

Kedua, pimpinan KPK harus merumuskan standar pengamanan maksimal bagi para penyidik otentik KPK dan fungsional lainnya yang karena fungsi dan jabatannya selalu diintai oleh “gang and network” para koruptor yang sakit hari dan nurani.

Ketiga, masyarakat harus terlibat aktif dalam sistem pengamanan ini. Ada fakta umum, para penyidik dan fungsional KPK hidup dan berada di lingkungan masyarakat. Bila ada hal dan pihak mencurigakan yang berkaitan dengan penyidik dan fungsional KPK maka masyarakat harus melakukan langkah taktis agar tidak terjadi lagi tindakan teror seperti itu.

Semoga ke depan, tindakan anarkis dan barbar yang menimpa Novel Baswedan tidak terulang kembali. Serangan yang massif terhadap pemberantasan korupsi tidak akan pernah dapat mematikan atau menyurutkan semangat perjuangan melawan korupsi, namun justru malah memperkuatnya.


Originally published at Kumparan on April 16, 2017.