insiden

petang itu siapa yang tahu akan menjadi biru. pelan — pelan mengupas kesalahan, memeras tangis.

jagad tidak sebodoh itu untuk biarkanmu sembunyi. dalam derai badai bertubi — tubi, kau pasti ditemukan.

sentuhmu adalah gasoline terbakar dalam gubuk kecil, jauh, sangat jauh dari mata air.

kulit ini mengering kusam dijamu antartika. walau bermantel ratusan bulu domba, tetap darah ini membeku.

sekali bibir kita melekat, aku tahu itu gemuruh sebelum hujan. itu gaung pasifik yang mengetuk perut bumi. aku tahu itu landasan tajam bagi bala tentara yang ingin menyelamatkan. aku tahu itu ancaman bagi pagi — pagi mendatang.

aku tidak menyiakan luka goresan jemarimu. menekan seakan ku bertubuh tanah yang tentu kau jadikan apa saja. dan aku merekam dalam piringan hitam jerit namaku dalam teriakmu, desah memerah yang pecahkan keheningan terik hari, dan tolong kita yang tak berhenti dalam hati karena kita sama — sama tahu ini salah. namun tidak, tidak dengan maaf.

kita pernah menjadi satu tubuh. tidak usah khawatir. besok kau masih bisa memandangku serupa.