Aku Pulang Hari Ini.

Sudah diputuskan, aku akan pulang hari ini, minggu-minggu terakhir yang amat buruk mungkin bisa dilupakan di kampung, persetan dengan tugas dan semua omong kosongku di kota ini, aku harus pulang.

Semua sudah dimasukkan, baju-baju yang ditata sekenanya, charger dan laptop yang rusak, juga foto lama ayah-ibu, aku selipkan di antara baju-baju itu. Terakhir ada tiket kereta senjakala tujuan Pemalang, akan berangkat pukul 18.38, tertulis jelas namaku tertera di atasnya.

"..Time to say goodbye, Paesi che non ho mai, Veduto e vissuto con te
Adesso sì li vivrò, Con te partirò
Su navi per mari..."

Ponselku berdering di atas meja, menderingkan "Time to Say gIoodbye"-nya Andrea Bocelli dengan nada-nada gospelnya yang biru, lagu yang kebetulan pas untuk momen ini, ini memang momen yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal, untuk kota ini dan semua yang ada di dalamnya, ada telepon masuk.

Dari Anggar ternyata,
"Alo?"
"Di mana?" tanyanya.
"Di kos"
"Kesini cepat, please"
"kemana?" tanyakug
"ke kosku, cepat"
"ya, tapi..."
"tut tut tut..."

Benar-benar tidak mau mengerti orang ini. Aku bawa tasku dan berpakaian seperti orang yang hendak melakukan perjalanan jauh, aku menuju kosnya, 300 Meter atau kurang.

Satu jam sebelum keberangkatan kereta, aku sampai di kosnya, berpagar putih tinggi mengingatkanku pada pagar-pagar yang sama di kastil daratan Inglaterra, di depan pagar terparkir mobil hitam mengkilat, nampak kontras sekali.

Aku parkirkan kendaraanku, motor butut G 5580 JW, tepat di samping mobil mewah itu, dari sela-sela pagar yang tinggi itu aku mendapati sesuatu yan hendak membuatku balik kanan dan langsung pulang ke Pemalang.

Ada cokelat berbentuk hati di meja, di sampingnya ada bunga-bunga musim dan sepucuk surat beramplop merah muda, juga ada seorang laki-laki dan perempuan duduk di antaranya, perempuan itu adalah perempuan menjengkelkan yang memaksaku ke sini, apa-apaan maksudnya? aku jelas enggan untuk masuk, aku kembali menstart motorku, dan

"hei Man, ke sini", sial ia melihatku.
"Ga ah, aku di luar saja" kataku.
"Cepat ke sini"
"baiklah", penurut sekali aku ini.

Lelaki itu menatapku dengan tatapan aneh, dari atas ke bawah berulang-ulang seperti menelanjangiku.
"siapa dia?", bisik lelaki itu pada si perempuan, 'siapa' di sana adalah aku.
"oh, dia namanya Teman, panggil saja, Man", kata perempuannya.
"Dia siapamu?". 
"Teman, aku ada janji dengannya, kamu mau ikut?"
"tidak"
"dia juga dari Pemalang loh, Man, apa nama daerahmu?", kata perempuan itu sambil menunjuk ke arah ku.
"Comal, pemalangmu mana, mas?", tanyaku.
"Belik". jawabnya acuh tak acuh.

Janji apa maksudmu?, tanyaku dalam hati, janjiku hari ini satu-satunya adalah dengan kereta senjakala, lagi pun aku tak pernah merasa perlu untuk membuat janji hanya untuk bisa ketemu dengan seorang menjengkelkan yang selalu memaksaku melakukan ini-itu, termasuk ini.

"Kamu yakin tak mau ikut?", tanya Anggar pada lelaki yang sekarang wajahnya semerah bungkus indomie rasa sop pedas itug. sebuah pertanyaan dungu!.
"tidak".

Kami bertiga berjalan seperti paskibraka di upacara bendera, kaku sekali keluar meninggalkan cokelat dan bunga-bunga layu di atas meja. Lelaki itu tanpa pamit pergi dengan mobil mewahnya, aku sempat hendak menyarankannya untuk tidak membawa mobil dalam keadaan marah, tapi rasa-rasanya itu saran yang idiot.

"Makasih ya mann", kata Anggar dengan wajah sumringah.
"Untuk apa?, ngomong-ngomong aku tak pernah merasa punya janji denganmu -.-". kataku.

"Pokoknya makasih, kamu udah buat dia pergi, aku traktir es krim mau?".
tiba-tiba aku merasa mual, aku menyadari sesuatu, suatu alasan,aku mendapati kenyataan bahwa aku adalah seorang pacar sewaan, dan jasa sewaku adalah es krim!, tidak lain es krim!.
"oke", kataku, aku tak pernah bisa menolak es krim.

Aku barusaja melihat penghancuran hati yang epik, aku adalah eksekutor bodoh yang mau-mau saja memenggal kepalanya, mencacah hatinya , tapi aku tidak tahu akan begini, aku merasa bersalah, namun aku mengingat bahwa dunia ini memang kejam, apalagi dalam hal cinta, dunia memang sangat kejam, aku tidak jadi merasa bersalah,

45 menit sebelum keberangkatan kereta, Motor butut G 5590 JW bergerak pelan ke arah berlawanan dengan mobil mewah hitam mengkilat itu, menuju kedai es krim murahan di bawah pohon rindang dekat auditorium kampus.

"Tadi itu siapa?", tanyaku.
"Dia itu xxx, anak psikologi yang sering aku ceritakan itu lohh".
"oh, dia orang yg ngejar kamu itu?". 
"Iya".
"dia keliatan baik, pake mobil lagi, kenapa suruh pergi?", tanyaku
"Dia terlalu baik man, aku ga matre tau!, pokoknya aku males sama dia".
"terlalu baik?".
"Ia, di mau nurutin semua apa yang aku minta meskipun harus ngorbanin diri sendiri".
"bukannya itu bagus, setauku wanita akan suka kalo digituin?".
"Aku tak suka man".
"aku tidak pernah mengerti wanita", kataku.
"wanita cuma ingin kenyamanan". katanya sambil menunggu es krim dan memandang lalu-lalang kendaraan.
"Yakin?, kalo ga salah Sigmund Freud permah berkata bahwa sebenarnya wanita itu tidak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan". kataku.
"...", Anggar hanya diam.
"Begitulah wanita, diberi mobil- mobilan dia menolak, diberi gula- gula dia minta balon, dikasih balon dia minta balon gas, dikasih balon gas dia minta gula-gula. tak dikasih apa-apa, dia minta mobil- mobilan. diberi mobil- mobilan dan balon, dia minta balon gas. diberi mobil- mobilan, gula-gula, balon, dan balon gas, dia tak minta apa- apa." aku bermonolog ria.
"hahaha, ngomong apasih kamu", katanya.
"Nggar, aku harus pergi, aku ada kereta pukul lima, lima belas menit lagi berangkat", kataku sambil menunjukan tiketku.
"tumben pulang, jadi kamu mau meninggalkanku, di sini, sendirian, mau hujan pula ?"
"Ia nggar, aku bukan lelaki baik"

Hujan deras tiba-tiba mengguyur Semarang sore itu, aku lari ke arah halte dan naik bus menuju Stasiun Tawang, meninggalkan Anggar, es krim yang belum datang, dan G 5590 JW yang aku titipkan kepadanya, aku pulang hari ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.