Gaudeamus Igitur
Di altar kampus tua, satu sore yang teduh, daun-daun akasia jatuh pelan-pelan tertiup angin ke arah sinar matahari yang mulai menjingga.
"...Gaudeamus igitur, Juvenes dum sumus. Post jucundam juventutem Post molestam"
Gaudeamus Igitur baru saja selesai digaungkan menandai akhir dari sebuah perjuangan, musim semi juga baru saja dimulai, mahasiswa-mahasiswa bertabur bunga-bunga senyum. Mereka histeris, menari dan bernyanyi di altar itu, namun dua orang di antaranya hanya duduk-duduk saja, dengan kesepiannya masing-masing.
"Jika kau ingin pergi, maka lakukanlah seperti matahari terbenam", kata Nanti sambil menyeka daun-daun yang gugur di matanya, di balik kerudung warna magenta itu, tak ada yang tahu apa yang ia rasakan kecuali dirinya sendiri.
"Tidak, tidak akan aku meninggalkanmu", kata Sukasrana.
Ia mencoba memandang wajah Nanti, ia mencoba memahami maksud kata-katanya, tapi nyatanya hatinya selalu berpaling, hatinya tak mengizinkannya untuk menatap Nanti secara langsung, berkali mencobanya namun, ia gagal.
"Nanti, aku tahu maksudmu, aku mengenalmu lebih dari siapa pun"
"Maksudmu..?"
"Bagiku sendiri, kesucian cinta justru akan rusak oleh pernikahan"
"..."
"Aku pun juga mendengarnya di surau-surau kampungku, juga di masjid kampus kita, retorika itu,tramai aku mendengar bahwa jika kau cinta seorang perempuan, maka ia harus di halalkan atau ditinggalkan saja, untuk menjaga kesuciannya".
"Nanti, kadang aku berfikir, halal untuk apa? Untuk dapat 'berhubungan’?, cinta bukan melulu tentang 'hubungan’, Nanti, cinta lebih dari itu, mereka telah salah menafsirkan cinta".
"Lalu apa tafsir cinta suci, versimu?".
"Nanti, aku akan menikahimu".
Hari menjadi gelap, lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan itu, di restoran-restoran seberang jalan, di kendaraan-kenaraan yang lalu-lalang, mereka seakan bergerak lambat di mata Nanti, seakan membentuk sebuah diorama yang puitis.
"Aku pergi dulu". Sukasrana pergi tanpa jabat, tanpa pandang, dan tanpa ciuman perpisahan. Dengan jubah panjang hitam berleher senja, ia pergi meninggalkan Nanti, ia terus berjalan ke masa depan, ia jinjing topi hitam yang aneh itu, juga medali-medali. ia terus berjalan, meninggalkan kampus tua itu untuk selama-lamanya, ia lulus.
"Sampai jumpa lagi", Nanti berkata lirih sekali, ia terus memandang punggung Sukasrana. Langit makin gelap, Sukasrana lenyap di antara sesilau lampu jalanan, juga pohon di tepi-tepinya, ia berjanji akan kembali.