Jam Tidur Jungkir Balik, Emang Udah Ngehasilin Apa Aja?

Halo, apa kabar? Semoga selalu diberikan kebahagiaan yang melimpah ya!

Sebelumnya, selamat datang di postingan pertama saya di Medium ini. Awalnya sih mau cerita panjang lebar di blog pribadi, namun mencoba mampir ke sini dahulu. Sebelum jadi nyebar ke mana-mana bahasannya, mari kita berjalan mundur karena ini sebenernya lebih cerita ke keresahan dan kilas balik semester 7 di tambah begitu banyak hal-hal di kepala yang segera ingin saya catat di sini.

Iya, secepat ini saya sudah semester tua. Padahal rasanya baru kemarin merasakan euforia bahagianya menjadi mahasiswa baru dan lugu.
Semester 7 ini saya sebetulnya sudah mengambil mata kuliah skripsi, pernah ada ambisi ingin lulus 3.5 tahun. Semacam pengin membuktikan bahwa saya serius kuliah terutama dalam bidang akademis, kemudian juga didukung oleh ingatan yang selalu terlintas tiap bangun dan mau tidur: orang tua. Namun, tiga per empat dari diri ini memilih untuk sedikit bergeser, lebih mundur ke belakang lagi mengenal diri sendiri.

Saya selalu menjadi pemberontak.

Nyahaha bukan ke arah negatif ya, lebih ke penasaran dan questioning all the things tentang bagaimana saya menjalani hidup, hal-hal apa saja yang akan saya temui dan hadapi, apakah saya akan antusias, gampang mengeluh, dan lain-lainnya. Kata orang-orang disebut pendewasaan, namun kurang setuju juga karena adulting ternyata mau nggak mau kudu dealing with something you can’t suitable with. Baiknya sih jadi bisa lebih mikir lebih bijak dan pandai-pandai mengontrol apa yang dinamakan perasaan, dan egois. Pernah baca di Tirto kutipan tentang “yang fana adalah dewasa, kita bocah selamanya”. Hubungannya apa? Ya, sindrom semester atas yang mau nggak mau ngerelain jam main karena temen seangkatan udah mulai sibuk masing-masing baik skripsi maupun persiapan masa depan, ide untuk skripsi tak kunjung nyantol, atau justru kekhawatiran kehilangan gelar sebagai mahasiswa.

Jadi mahasiswa ternyata memang luar biasa, bagi yang benar-benar bisa menangkap peluang untuk menempa diri, dan memanfaatkan lahan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Benar kata salah satu dosen saya, kuliah 4 tahun untuk jurusan S1 nggak bakal kerasa bahkan kurang dalam artian belum matang. Bisa dibilang mungkin perlu tambahan 1 tahun hanya untuk ilmu teoritis, apalagi kalo dosennya asyik-asyik buat diskusi beuh betah. Ini sih karena saya di sastra mungkin jadi pasti ngomongin isu-isu kemanusiaan dan yang ada di sekitarnya.

Terus lagi, mahasiswa adalah masa-masa saya bisa benar-benar yang namanya idealisme. Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka, bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Menurut saya ada satu lagi, yaitu kepercayaan diri atau self confident. Karena seidealis apapun jika tak percaya diri, ya jadi nggak mewah. Nyahaha.

Apa sih, ngelantur.

Semester tujuh ini rasanya panjaaaaaaang banget namun saya benar-benar sangat menikmati semester ini. Banyak hal dan mimpi yang nggak terduga dan tertarget sebelumnya terjadi di semester ini. Namun tentunya, ada juga penyesalan-penyesalan ya. Didaftar ah biar inget terus:

Menunda parah. Iya, saya emang procrastinator abis. Harusnya nggembleng branding jadi pro malah kelewat procrastinator nyahaha. Ini satu doang tapi imbasnya banyak, kaya sampai mau akhir semester namun proposal belum dibikin juga, ketinggalan seleksi dan pendaftaran banyak acara, nunda bikin essay buat beasiswa, nunda-nunda olahraga, termasuk nunda buat ngebales pesan! Akibatnya emang bener-bener fatal, gengs. Ibaratnya kaya nolak rejeki di depan mata. Rejeki yang padahal tinggal dipancing dapet tapi lebih memilih mager-mageran. Astaga. Coba kalau rajin, mungkin sekarang udah rutin bahagia bimbingan skripsi, udah ikut banyak part time, udah dapet kemungkinan banyak acara kepemudaan, udah hidup sehat, dan kesempatan-kesempatan lainnya. Namun eits, jangan rakus, nyahaha sudah saatnya introspeksi dan beraksi. Dulu sebenernya juga saya udah nulis tentang procrastinate ini dan gimana biar nggak ganggu hidup kita di The Productive Procrastinator.

Melewatkan detail dan mudah terdistraksi. Ini juga yang saya sesali karena ngelewatin detail. Pernah ada tawaran kerja sama dengan blog namun lewat pesan Facebook. Kan masuknya pesan yang disaring gitu, jadinya baru tahu dua bulan kemudian. Lewat udah kan kesempatan itu. Kemudian juga jadi kurang bisa memrioritaskan, semua tawaran seakan saya terima dan ya-enjoy juga sih awalnya dan lama-lama capek sendiri nyahaha. 
Namun, kedua keteledoran di atas juga tetap memberikan kesempatan dan ruang untuk saya belajar. Semesta memang, kurang baik apa.

Semester ini bener-bener turun dan naik versi anjlog menukik. Buset ini bahasa apa sih nyahaha. Jadi setelah merasakan lagi apa yang namanya patah hati ew menye-menye kan jadi semacam krisis identitas alias jangan-jangan selama ini saya dan pribadi saya nggak bisa berdampak. Bahkan sempet tuh rasanya dari semester 6 skip KKN lulus dan cepet cari kerja alias udah nggak betah juga di kampus. Namun ya, KKN mengubah hidup saya benar-benar.

KKN itu kan di liburan mau ke semester 7 ya, kaya semacam healing buat saya dengan 9 orang asing lainnya, berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat desa, membicarakan mimpi-mimpi lama dengan rekan KKN. Nggak nyangka aja, dulu saya yang emoh KKN jadi malah kebalikannya. Sejak saat itu jadi bawa semacam perubahan, karena begitu masuk semester tujuh bukan kepikiran tugas akhir yang segera diselesaikan dengan tuntas namun malah:

“Kalau lulus, emang udah punya skill apa aja? Kerja apa yang bakal terus menjadikanmu aman dan stabil sampai setidaknya beberapa tahun ke depan?”

Deg! Scary dan kemudian merasa masih sangat kurang. Bukan menyesal juga karena semester-semester sebelumnya nggak ngelakuin apa-apa, tapi semua butuh yang namanya eksperimen. Kalau semester awal saya cuma muter-muter di area kampus, mulai semester ini saya mulai mencoba memperluas jaringan. Cakep. Dilema juga ngerasa pengin lulus cepet dan berproses kaya temen-temen lain namun lebih memilih belok ningkatin skill dulu. Pun di semester 6 yang harusnya otak padat teori itu saya malah merasa benar-benar kosong melompong, lupa, untuk itulah semester ini saya lebih memilih mengisi kembali otak untuk bekal.

Ke kampus udah nggak bosen lagi karena mata kuliah wajib cuma ada tiga dan saya ngulang 2 matkul, jadi ke kampus rasanya cuma safari dan tiap kelas yang saya datangi justru rasanya lebih antusias. Ada satu matkul yang saya sempat ragu mau ngulang, malu juga sama adik kelas kan nyahaha. Tapi di awal ngasih mantra yang hebat bahwa 14 pertemuan bakal segera berakhir. Then lagi-lagi unpredictable karena kelasnya jadi super asyik dan menghibur tiap Senin pagi.

Terima kasih, Tuhan.

Nah balik lagi ke yang memperluas jaringan nih, di semester 7 ini saya sungguh sangat-sangat beruntung dan bersyukur ketemu banyak orang-orang hebat. Nggak cuma ketemu tapi juga diskusi, yang saya akui ternyata interaksi itu gede banget efeknya. Ide jadi tambah banyak tambah antri, dan makin semangat tiap kali bangun tidur selalu antusias dengan kalimat “hei, hari ini mau ngapain nih, ayo bangun.” Ya, saya berubah dari manusia yang menyukai sepi menjadi manusia yang haus akan interaksi, kalo nggak jadinya stres nyahaha. Berubah jadi manusia yang selalu malu kalau kudu ketemu orang sekarang malah ANTUSIAS! Ya, meskipun belum talkactive banget sih.

Baca juga: GILA, SUSAH BANGET JADI INTROVERT

Sangat-sangat beruntung bisa belajar lagi apalagi tentang potensi dan skill. Ke sana ke mari dengan orang-orang yang suka dan antusias belajar juga. Seperti Youth Adventure Day, Pendakian Hari Pahlawan, Salman Spiritual Camp, dan Outing Class ke PB PMII. Hal tersebut membuka mata kembali dengan begitu banyak hal di sekitar saya aja yang saya nggak tau. Selain itu saya percaya banget yang namanya sata kekuatan doa, nah dari macam-macam kegiatan itu tuh suka banyak banget interaksi terus diakhiri dengan saling mendoakan untuk perjumpaan selanjutnya. Seperti “lancar ya proposalnya, lancar ya skripsinya, lekas wisuda ya”. Wah, amazing! Entah rahasia macam apa yang sedang semesta rencanakan.

Namun, namanya juga namjug manusia pasti datenglah suara-suara yang nyoba buat ngeruntuhin yang namanya semangat. Tiba-tiba kepikiran juga “jam tidur jungkir balik, emang udah ngehasilin apa aja?”. Deg, menohok ya karena proposal aja belum jalan, namun belum menghasilkan sesuatu yang berdampak pula. Hei, semuanya butuh waktu yang tepat, sekali lagi. Namun bukan berarti nggak berusaha ya, bukan juga semacam pembenaran karena ya setidaknya saya sedang berasa dalam suatu proses dan berprogress, bukan diam di tempat.

Asyik.

Intinya, saya masih juga menunggu hal-hal yang tak teduga itu datang selagi berproses. Kalo versi Dr. Ivan Joseph di TED Talknya sih selain latihan terus, kudu ada yang namanya persistence. Tetap semangat belajar namun memang harus paham waktu juga. Beri ruang, beri jeda, dan beri kesempatan untuk dirimu sendiri.

Salam!