Variasi Hidup Mencari Makna dan Selalu Ada Harga Yang Harus Dibayar

Marfa U
Marfa U
Feb 16 · 4 min read

Tulisan ini tak akan hadir tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul kala berkendara motor di area Purwokerto dan Banyumas. Kadang, menjadi manusia berusia 22 tahun yang sedang berjuang dengan tugas akhirnya merasa sudah menjadi bijak dan dewasa. Padahal, makhluk kecil seperti saya belum ada apa-apanya dengan para orangtua yang berjuang dan berpikir keras untuk masa depan anak kesayangan di tengah himpitan kemiskinan. Belum ada apa-apanya dengan CEO-CEO muda dengan tekanan politik bisnis, atau bahkan rekan seperjuangan skripsi yang was-was menunggu ruang tunggu dosen dengan kertas penuh corat-coret di tangannya.

Semenjak memasuki semester tujuh, tiada hari tanpa terbangun tanpa memikirkan tugas akhir dan segala kemungkinan pasca wisuda nanti. Di tengah atmosfir yang warna-warni ini, menjadi pribadi yang belajar bijak adalah satu-satunya pilihan. Harus pandai memilah kata terutama kepada teman seperjuangan, harus bisa membuktikan kalimat motivasi dan niatan yang keluar dari mulut sendiri, dan menjadi pribadi yang penuh tanggungjawab akan tubuh dan pikirannya sendiri.

Ah, masalah hidup mahasiswa semester akhir mah gitu-gitu aja. Nanti juga terlewatkan, masih banyak rintangan lebih berat di depan.

Benar. Kalimat tersebut juga sempat saya amini dengan kemudian mengabaikan banyak teman yang mendahului seminar. Tentu saja hal tersebut adalah salah jika hanya meluruskan perspektif diri sendiri. Kita, atau berawal dari pengalaman saya sendiri misalnya bukan hanya perlu menengok sebentar siapa saja orang-orang yang mengharapkan lekas wisuda, namun juga duduk sejenak sembari berkontemplasi agar ketika kaki mulai melangkah lagi tak akan berpindah haluan fokus.

Mari kembali ke perenungan-perenungan. Tiba-tiba terbesit dalam kepala saya betapa manusia hidup adalah tentang pencarian makna. Pencarian tanpa ujung yang membuatnya (atau kadang memaksa) untuk terus berjalan. Toh, memang sepertinya pada akhirnya akan menemui titik yang serupa. Dalam lingkaran saya yang masih kecil ini, saya memahami betapa masing-masing individu manusia memiliki indikatornya masing-masing. Sekalipun bagi yang tak memegang prinsip mengikuti standar sosial.

Indikator-indikator tersebut adalah bentuk ukuran kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Masing-masing memiliki definisi akan sebanyak apa ukuran tersebut. Misalnya seseorang akan merasa kurang puas ketika seharian hanya bermain dengan gadgetnya yang sebenarnya sangat nikmat untuk dilakukan. Kemudian memaksa dirinya untuk banyak melakukan banyak aktivitas dan menurutnya hal tersebut lebih bermakna dan bernilai. Namun ada juga yang memilih untuk menyendiri di ruang kecilnya untuk menulis karya-karya kemudian memajangnya di media sosial dengan harapan dapat memengaruhi pemikiran orang lain. Hal tersebut, sekali lagi menjadi bermakna dan bernilai bagi masing-masing individu memang berbeda ukurannya.

Buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Catatan Seorang Demonstran, podcast Menjadi Manusia yang berjudul Menjadi Manusia Lamban dan Sabtu Pagi menjadi beberapa teman saya dalam mengolah pikiran. Untuk sekian jeda saya setuju dengan beberapa pendapat dan sisanya saya mengambil jeda lagi. Nampaknya, Tuhan sengaja menciptakan jeda untuk berkontemplasi lebih banyak agar lebih bijak lagi mengolah pikiran. Lantas timbul lagi pertanyaan seperti “apakah Tuhan sengaja menciptakan kemiskinan? Apakah untuk membentuk gerakan yang masif hanya melalui politik sebagai satu-satunya jalan”. Sambil ditemani lagu “Someday”nya Steve Earle yang sudah saya dengarkan sejak mengenal film Bridge to Terabithia saya berujar “hidup ternyata lumayan sekompleks itu ya”. Dari situ kemudian saya bukan lagi paham mengenai frasa memanusiakan manusia namun rindu menjadi manusia.

Mungkin, selalu ada yang harus kita bayar untuk memaknai menjadi manusia. Selalu ada, seminimalis apapun itu. Untuk tetap bisa berjumpa misalnya, individu harus lebih lama tinggal dan menunggu. Untuk mendapat pengakuan misalnya, individu banyak melakukan banyak hal meskipun putus asa — orang tak akan menganggapnya putus asa karena dia tak diam. Untuk menikmati kebahagiaan barang sedikit saja misalnya, individu harus membangun dan memiliki tameng yang begitu kokoh untuk memersiapkan perpisahan atau kemungkinan-kemungkinan terburuk. Menjadi bagian, menjadi pilihan. Karena demi apapun, orang-orang mungkin tak sepenuhnya peduli pada apa yang kita lakukan sekalipun hal tersebut bermakna dan bernilai bagi kita. Mereka juga mempunyai perkara proses masing-masing. Lantas, apa yang terus membuat kita tetap melakukan hal-hal tersebut? Sebuah alasan untuk tetap hidup dan maju? Menjalani peran atau lakon? Menjaga kewarasan? Perlu dan menciptakan hati yang diciptakan untuk besar dan ikhlas dalam menyikapi bahwa kita sedang bersama-sama berproses dalam romantisme perjuangan masing-masing.

‘Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan’ — Sutan Sjahrir

Marfa U

Written by

A lifelong learner who gets enthusiast in blogging (umimarfa.web.id), wandering, and finding the new circle in positive vibes ideas. [Podcast: bebasdefinisi]

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade