l e p a s ?
pernah aku mendengar pepatah berkata,
hatimu jauh lebih kuat dari matamu.
Hatiku mendobrak pintu dadaku satu menit sebelum aku melihat punggung itu datang.
kebahagiaan secara instan datang — lagi-lagi tanpa perlu alasan.
hangat badanmu kala itu membuat hujan mengurungkan niatnya untuk memberikan rasa dingin kepada para penjelajah kesepian.
belum aku lihat wajahmu — aku yakin, kita akan bertemu di sebuah persimpangan hidup.
— — — — — — — — — — — — — — —
“kafein dari teh ini tidak akan ada maknanya kalau kamu masih menggerutu mengenai hujan yang masih membasahi syalmu.”
tidak, aku tidak menggerutu. justru aku berterima-kasih kepadanya.
karena secangkir teh ini membawa embun pagi di gurun pasir.
— — —
— — — — -
— — — — — — -
— — — — — — — —
— — — — — — — — —
dan secangkir teh ini, membawa kepergian yang tidak pernah aku harapkan.
***
menahun setelah kau pamit,
menahun aku menerima apa yang kau tinggalkan.
menahun aku mencoba untuk menjadi hidup.
menahun aku menitipkan rinduku pada malam,
menahun aku mengobati rindu kepada muara pantai penuh bintang.
terima kasih. sampai saat ini, saya masih menitipkan rindu kepada Luna — angkat kepalamu ke atas, dan kau akan tahu di mana rinduku berlabuh.