Antara Selera Membaca dan Nafas Menulis

Saya percaya setiap penulis punya nafasnya sendiri dalam karya-karyanya. Entah hanya menekuni genre tertentu maupun mengusung tema atau memiliki pola cerita yang selalu sama, dan sebagainya. Ada penulis yang selalu berkutat dengan realisme dalam karyanya, tidak menambah pun mengurangi detail historis yang melatarbelakangi cerita-kebanyakan berkisar di zaman pascakolonial. Ada juga yang senang bermain-main dengan unsur magis nan super imajinatif, sebut saja Haruki Murakami. Lain lagi dengan Sidney Sheldon, yang ceritanya rata-rata tentang perjuangan hidup seorang wanita independen, alpha female tepatnya.

Saya akui, selera membaca saya banyak dipengaruhi oleh perputakaan SMP saya dulu. Saya bersyukur karenanya saya bisa membaca buku-buku Alfred Hitchcook (saya bisa melahap dua serial trio sekawannya dalam satu hari). Saya berkenalan dengan Sidney Sheldon (mungkin The Sands of Time adalah yang pertama kali membuat saya tidak tidur sama sekali untuk menyelesaikannya). Kemudian novel-novel sastra yang pada umumnya banyak diketahui masyarakat seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sukreni Gadis Bali, Siti Nurjanah, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Ronggeng Dukuh Paruk, dan sebagainya. Sudah lama sekali, dan saya jadi rindu untuk membacanya kembali.

Akhir-akhir ini saya menggandrungi tulisan-tulisan Eka Kurniawan. Awalnya saya biasa menikmati tweets dari M. Aan Mansyur, saya suka gaya bahasanya. Lalu saya membuka blog nya (belakangan Aan Mansyur sudah pindah lahan menulis ke sini) dan terpancing untuk membeli Kukila. Saya puas. Saya pun memutuskan buku-bukunya yang lain lagi. Untungnya saya tidak dikecewakan. Maka saya pun memercayai penulis-penulis yang kumpulan cerpennya direkomendasikan Aan Mansyur di sini. Mirisnya, kota yang saya tinggali saat ini hanya memiliki dua toko buku dengan brand yang sama, jadi pilihan buku tidak sebanyak di kota-kota besar. Anda pasti tahu toko buku ini. Ketika saya berkunjung ke sana, novel ciptaan Eka Kurniawan yang mencuat di situ. Dengan budget terbatas saat itu, saya membeli novel Lelaki Harimau. Saya sama sekali tidak dikecewakan. Saya memang menikmati tulisan Aan Mansyur, namun Eka Kurniawan yang membuat saya cemburu dengan gaya bahasanya dalam menuturkan narasi cerita. Entah pelan atau deras seperti air terjun, namun alirannya tak pernah macet (yep, selera bacaan saya sepertinya paling banyak dipengaruhi oleh gaya bahasa). Maka saya semakin penasaran dengan Cantik Itu Luka yang katanya Maman S. Mahayana seperti air bah. Ehm, saya setuju saja dengan komentar air bah itu, namun dalam konteks yang positif. Karena saya tak bisa membendung ataupun memilah keinginan antara menikmati Cantik Itu Luka dalam-dalam atau terus membalikkan halaman demi melahapnya habis. Eka Kurniawan sukses membuat saya semakin cemburu sekaligus jatuh cinta dengan tulisannya. Ini gila! Sebab dengan manusia saja saya belum pernah mengalaminya.

Ketika saya berkunjung dan mencermati blog Eka Kurniawan, saya mendapati satu persamaan saya dengannya, anggapannya dulu: “bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak diciptakan untuk percakapan. Ini bahasa untuk dituliskan”. Saya pernah menulis cerita, dan sedikit pula percakapan yang terdapat di dalamnya. Pantas saja saya menikmati Lelaki Harimau dan Cantik Itu Luka. Memang kedua novel tersebut apalagi Lelaki Harimau hampir seluruhnya terdiri dari narasi. Persis kata Aan Mansyur, seperti juru dongeng yang lihai.

Nyatanya, masa kecil saya dari TK hingga SD sedikit-banyak tersita oleh kumpulan cerita rakyat, cerita anak yang berasal dari lokal maupun dongeng-dongeng mancanegara. Toh, waktu SMA pun saya masih membaca Charles Dickens. Sampai-sampai saat saya kelas 3 SD saya pernah mengkhayal dan menulis cerita Asal-usul Pisang Mas dan Bukit Barisan. Ceritanya tentang Raja rakus yang suka makan pisang dan Ratu tamak yang gila akan emas. Singkat cerita, sepasang Raja dan Ratu itu dikutuk oleh Dewa karena menyengsarakan rakyatnya ketika Raja dan Ratu itu melakukan perjalanan dengan kereta. Sepasang Raja dan Ratu ini dikutuk menjelma benda kesukaannya yang menjerumuskan rakyatnya dan bersatu: Pisang Mas. Keretanya membatu: Bukit Barisan. Lihat! Saya dulu telah menggerumit ranah surealisme dan mempermainkan logika formal! Sayang sekali, dongeng saya ini tidak lolos untuk terbit di majalah Bobo. Hmm, lupakan, lupakan.

Omong-omong tentang Haruki Murakami, saya tidak menemukan Haruki Murakami berdasarkan rujukan penulis atau orang lain yang saya percayai rekomendasinya. Saya hanya asal comot seri pertamanya, tertarik membaca sampai akhir setelah membaca satu bab di tempat. Seusai membacanya saya diliputi bingung-takjub-haus, maka saya segera membeli seri kedua dan ketiganya tahun 2013 yang lalu. Saya googling nama Haruki Murakami, ehm, ternyata dia penulis yang…. ah, silakan anda googling sendiri kalau belum tahu. Masa itu adalah masa yang konyol dan suram menurut saya, karena saya memutuskan membeli buku hanya dengan membaca bab-bab awal (meskipun metode itu masih saya gunakan kini kadang-kadang kalau saya haus akan bacaan baru namun tidak memiliki target bacaan yang pasti). Oya, saya kalau tak salah menemukan Paulo Coelho dengan metode itu juga. Ironis.

Rasa-rasanya saya masih suram dan meraba-raba segala kelindan dunia kesusasteraan ini. Tak apalah, yang penting saya masih haus membaca dan merasakan efeknya, yaitu keinginan untuk menulis. Toh, Sapardi saja juga tidak tahu-tahu dengan penyair kenamaan saat beliau masih muda dan giat menulis.

Saya sadar bahwa saya masih sangat kurang membaca karya-karya sastra. Jika Eka Kurniawan telah berhasil menaklukkan kesulitannya dengan menuliskan percakapan dalam novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas Tuntas”, maka saya pun harus menaklukkan ketidakpercayaan saya pada online shop. Lho? Yak, saya begitu lapar dengan banyak bacaan yang nyatanya tak ada dijual di kota ini. Alih-alih, jurusan kuliah saya saat ini mengharuskan saya untuk lebih menyelami jurnal-jurnal ilmiah (ini sungguhan, bukan sekadar dalih kosong). Tidak begitu menyebalkan, sih. Anehnya, saya belum pernah menuliskan satu pun science-fiction. Saya malah sering menuliskan kisah yang begitu absurd, hingga berujung pada satu jenis karya sastra yang begitu bebas: puisi.

Bagi saya puisi itu membebaskan. Segala macam bentuk seni sebenarnya membebaskan. Dan karya seni tak pernah mati.

Selain menjumpai diri saya lapar untuk membaca, saya juga sering terpancing kemudian tertuntut untuk menulis walaupun saya tak tahu apa yang ingin saya tulis. Ide-ide di kepala saya berloncatan dan saya menuliskannya begitu saja, lebih-lebih menyerupai mengumpulkan potongan kain perca, lalu mari lihat apa saja yang bisa dibuat dari bahan ini. Baju? Taplak meja? Sapu tangan? Singkat kata, saya berusaha menjalin ide-ide tersebut menjadi karya yang dapat dinikmati. Setidaknya oleh saya sendiri. Terkadang pula, ide tersebut mengalir secara runut hingga saya tidak terlalu kesulitan menelusurinya.

Menulis pada akhirnya adalah perkara tentang keterampilan.

Saya harap karya saya yang secuil itu juga dapat memancing orang lain untuk menulis, sesedikit apapun itu. Nyatanya, tidak ada yang sia-sia (ah, lagi-lagi saya melakukan tawar-menawar dengan diri saya sendiri).

Dan saya harap, saya dapat mengetahui, atau menyadari nafas yang mendasari segala tulisan saya.


Postingan kali ini terpancing setelah saya membaca satu wawancara Aan Mansyur dengan Eka Kurniawan tentang Eka Kurniawan sebagai pembaca. Begitu menarik untuk dibaca dan menambah wawasan, untuk yang super pemula dalam membaca apalagi menulis seperti saya. Silakan langsung klik di sini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.