Apa-Mengapa-Bagaimana

Kau duduk di atas bongkahan batu yang bersudut-sudut, lalu meraba-raba batu itu dan tersadar. Di salah satu sisi batu itu terdapat satu sudut tumpul yang tak terlihat ujungnya, menjorok jauh ke dalam. Lama kau termenung. Tak lama kemudian kau melihat berkas cahaya terakhir pada hari itu. Kau menari-narikan tanganmu, berusaha meraup spektrum merah keoranyean. Sedang sinar itu membiaskan udara, lalu sirna terhisap pada sudut tumpul batu itu. Kau dengan sigapnya meloncat, mengebas-ngebaskan debu di kakimu. Penuh rasa ingin tahu, kau menengok, mengintip pada celah kecil itu. Tiba-tiba kau pun turut terhisap masuk ke dalam celah kecil sudut tumpul itu, melewati pusaran yang memenjarakan segala macam gerakanmu.

Kau jatuh tersungkur pada suatu ujung kayu memancar keemasan, satu-satunya sumber cahaya di antah-berantah ini. Perlahan kau meniti kayu itu dengan konsentrasi tinggi akan keseimbangan tubuhmu, seolah di segala sisimu adalah jurang yang menganga. Ujung kayu itu masih tak terlihat dan kau mengingat satu perkataanku. Waktu berhenti ketika kau tidak menghitungnya. Maka pelan tapi pasti kau terus meniti, namun seakan-akan kayu itu tidak memiliki ujung. Derap langkahmu bagaikan suatu bentuk pemberontakan terhadap lirih derak kayu. Kau mulai putus asa, menghentikan gerakan kakimu dan memandang ke segala arah. Percuma, gelap gulita. Sambil mengepalkan kedua tanganmu, kau melekatkan erat-erat kedua kelopak matamu. Kau memilih untuk terjun bebas, entah pada sisi yang mana. Semua sama saja dalam kegelapan itu.

Kau merasakan sayup-sayup panggilanku, akan namamu. Kau terbangun dan menceritakan segalanya. “Ah, syukurlah kau tidak sampai pada ujung kayu itu!” seruku. Kau bingung, dan bertanya apa-mengapa-bagaimana. “Tentu saja,” kataku, “Aku masih menginginkan, membutuhkan keberadaanmu, dan aku belum dapat ikut kesana. Di ujung sana ada kematian, surga maksudku.”

Oktober 2013.
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.