Cermin

Kamu mana mungkin memahaminya sayang, akan sekias renjana yang patut diselami, namun terlalu tabu sebagai alat berkaca. Seluruh insan pasti maklum pada gelisah, terlebih pada corak kelabu yang sarat kekejian.

Sabarlah sayang, aku yang akan mengusir ia. Ia yang bernafsu mendadukan nasib. Oleh karena kekeliruan ia, kamu begitu lalai memperbincangkan kepastian filsafah-filsafah itu. Dengan gerangan iba, aku ingin bersua kalbumu yang masih suci.

Sabarlah sayang, aku yang akan menjadi tameng. Sajak ini jadi saksi. Segala yang klise belum tentu musnah oleh kelangkaan langkah. Kamu ingin menyemat puing-puing kata ia terdahulu? Tidak perlu sayang, biar aku merajut alinea baru untuk jiwamu.

Bilamanakah kamu, sayang, masih mengerutkan keningmu? Tiap kali lirihmu menggelegak, sang sunyi menenggelamkan seruanku. Hanya saja, tolong, jangan matikan pelitanya. Ia tak boleh luput dari rantai karma.

Kali ini saja, sayang, biar kita bertukar peran!

- Maria Isabella
Banjarmasin
25 Januari 2015

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.