Kemarin, 18.

Hai. Seminggu lagi bulan September bakal berakhir. Kemarin saya berulang tahun yang ke-18. Sebuah ornamen kecil dalam hidup saya, di mana tanpa momen itu saya tetap baik-baik saja, tapi dengan kehadiran momen itu hidup jadi lebih berwarna. Satu yang tidak ingin saya lupakan, hal-hal baik datang dalam bentuk paket kecil.

Saya ingin menulis, tapi poin utamanya bukan tentang ulang tahun saya. Itu cuma prolog yang memicu inspirasi. Kemarin, saya mengharapkan sesuatu,tapi tidak ada ekspektasi besar tentang itu. Begitulah. Kemarin, saya mendapatkan sesuatu, yang bahkan tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Jika itu memang adalah ganti dari harapan saya, saya anggap lunas saja hal itu. Kemarin, adalah ulang tahun yang terlalu biasa, tapi saya menyukainya. Amat sangat. Ornamen kecil itu ternyata tersusun atas rajutan ornamen yang jauh lebih kecil. Menarik, mengesankan hati.

Kadang, ada suatu hal yang terlalu berharga, yang bahkan tidak ingin kita bagi dengan orang lain, seolah dalam dimensi yang kita tinggali hal itu hanya diperuntukkan bagi kita saja. Tidak untuk orang lain, bahkan di masa lain, sebelum atau sesudah keberadaan diri kita. Yang rasanya, hal itu adalah salah satu esensi dasar dari diri kita. Yang jika orang lain juga memilikinya, kita merasa sebagian dari diri kita hilang.

Beberapa waktu lamanya sebelum kemarin, saya merasa seperti ada sebuah ganjalan emosi. Seperti ada sesuatu yang besar akan terjadi, entah buruk atau baik, sampai saya pusing berulang-ulang mengitari pikiran saya sendiri. Kemarin, saya mengistirahatkan pengembaraan pikiran saya. Kemarin, hal itu menghampiri saya begitu saja. Pantas saja, saya tidak dapat menemukannya, karena hal itu sudah menyatu dengan diri saya sejak dulu. Saya hanya belum menyadarinya. Rasanya seperti sebuah lonceng berdentang 18 kali dan hanya saya yang bisa mendengarnya. Dan saya, sangat menghargai hal itu. Ada saatnya, kita harus diam menunggu untuk mendapatkan sesuatu. Mungkin saja, hal itu ada kaitannya dengan 18 tahun. Mungkin saja, dalam kasus kehidupan saya, 18 tahun adalah rentang waktu proses mutlak untuk menyadari hal itu.

Sekarang saya merasa jauh lebih ringan, jauh lebih bebas, lega.


Tulisan ini tadinya saya muat di blog saya yang sebelumnya, pada tanggal 23 September 2013.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.