Khianat

tiadakan cengkeram getar takut akan warna aslimu

perlukah masih kelim kilau riwayat bualanmu

tatkala langit sudah berhias elang mengiris tulang petir

samudera saja bergemuruh nyaring akan awan memijar

pelita itu telah lenyap terludas amarah pasir hisap

tidak, mainkan terus serulingmu, arahkan hatimu

gugus gemintang telah menuliskan takdir pilu meruri

jeruji tak mampu memberantas riak gelisah buih mungil laut

meski jala masih terus menggurat pergolakan waktu

pola yang sama mendustakan jerih semu kerang kosong

kau sudah biasa termenung bongkahan batang kelapa

terlambai helaian rambut selaras siulan memancing maut

ayunan kaki merenung kibas segala angkuh derita

menciprat tawa girang lirik masa lampaumu

saat kepala masih menyandar tenang kawan berpangku air

mana bisa segenggam nyanyian sumbangmu mengupas ombak

atau kendalikan dentaman angin dengan tarian gilamu

kau berharap tiap gerak-gerikmu menjelma bahasa alam

tidak lagi semesta percaya riuh kobar perbincanganmu

salahmu bila kau menabukan hamparan buah-buah itu

- Maria Isabella

30 Juli 2014

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.