Kita Abadi

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menuliskan semacam kisah yang mungkin kurang masuk akal ini. Karena kata-kata adalah sarana yang tepat untuk memenjarakan keabadian. Karena aku tidak ingin kau berangsur hilang, setidaknya dalam fragmen kecil ini. Aku bahkan tidak yakin, apakah imajinasi atau realita, bahwa kamu tidak akan pernah menyadari kamu sedang membaca tentang dirimu sendiri.


Sosok imajiner, mungkin. Sebenarnya, kamu adalah makhluk yang nyata, terlalu nyata malahan. Aku terlalu terkejut saat mendengar derap langkah kakimu. Saat mendengar sekilas suaramu. Saat retinaku menangkap selintas siluetmu yang melesat seperti bintang jatuh. Aku membenamkan kepalaku dalam-dalam di antara kedua tanganku, menahan ekspresiku agar tidak terlihat olehmu, yang masih berusaha mencuri perhatianku.

Kamu terlalu nyata. Lebih nyata dari sosok yang terdahulu. Namun, parahnya, percakapan antara aku dan kamu lebih banyak terjadi di dalam kepalaku daripada kenyataannya. Perlahan, imajinasiku yang mewujud terlalu nyata, terbelit kalah oleh realita yang ada. Kamu nyata, aku nyata, kita tidak nyata.

Aku bahkan tidak dapat mengerti sikapmu. Kamu nyata, sikapmu nyata. Tapi maksud dari segala sikapmu hanya seperti bayangan abu-abu, antara nyata atau tidak. Aku tergelak saat melihat tingkahmu yang lain dari biasanya, lebih lagi ketika menyadari bahwa hal itu hanya terjadi jika bayanganmu berada di dekat bayanganku. Tapi hal tersebut teramat abu-abu.

Aku mulai takut, bahwa apakah aku beranjak tidak dapat membedakan antara mimpi dan impian. Mimpi dan realita. Impian dan realita. Seolah jaring yang merangkai segalanya akan putus, hingga hanya menyerak serabut-serabut yang tak beraturan.


Kita berada dalam sebuah dimensi yang dipisahkan sekat-sekat kayu yang telah rapuh. Aku dapat mendengar bisikanmu yang menyelinap di antara celah-celah kayu itu. Kamu dapat merasakan hembusan nafasku yang mengendarai angin sekadar untuk menggelitiki pipimu. Namun kita terlalu malas untuk menembus batas itu. Anehnya, aku seakan menikmati batas di antara kita. Begitu pun kamu sepertinya, karena kamu juga tidak pernah mencoba mendobrak sekat kayu ini. Dengan cara yang tidak dapat dipahami orang lain selain kita, aku dan kamu saling berbagi imajinasi.

Jarak hanya menjadi satuan angka semu. Tidak ada definisi yang jelas tentang ruang yang melingkupi bayanganmu. Bahkan gelombang waktu seolah ikut berkomplot dengan jarak, mencurangi manusia-manusia yang menungganginya.

Alam tampaknya senang sekali berkonspirasi. Aku, maupun kamu, hanyalah pion yang terperangkap dalam sebuah dimensi yang sudah diatur sedemikian rupa. Terjebak. Antara membiarkan segalanya mengalir atau memberontak terhadap aturan permainan alam. Tetap saja, arus waktu terlalu deras untuk ditentang. Bumi berotasi, siang dan malam terus silih berganti. Siklus hubungan awan dan matahari masih begitu-begitu saja. Namun langit kian berhasil menjebak orang-orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati, ke dalam suasana yang serba melankolis.

Sementara itu, awan dan matahari sepertinya sedang bermusuhan. Menyebalkan. Matahari dengan egoisnya meyombongkan kilauan sinarnya. Matahari mungkin tidak mengerti, manusia yang terbiasa hidup di iklim tropis akan menghujat sengatannya yang berlebihan.

“Sinar itu merusak,” aku ingat celaan dari seseorang itu, kamukah?

Seusai aku mengulang kata-kata hinaan itu di dalam benakku, matahari seolah terluka, meredupkan cahayanya. Kali ini awan beraksi, tak kalah angkuh dengan matahari. Dari ketiadaannya, awan datang secara menggerombol. Namun sayangnya, tanpa matahari warna awan teramat menyedihkan. Abu-abu suram, kelam.

Canggung, bayangan, jarak, gelap, berat.

Perubahan langit yang secara mendadak ini mengingatkanku kepada kamu. Seolah kamulah yang mengomandoi langit sesuai dengan keadaan dirimu. Kamu mungkin berubah. Namun meski tak paham, aku menerimamu begitu saja. “Keharmonisan alam tidak dapat tercipta oleh satu benda langit saja,” itu salah satu bisikanmu dulu.

Yang terpenting untukku, senyummu, masih ada dan nyata, karenaku. Aku pikir mendobrak sesuatu yang sudah lama berada di hadapanmu memang akan membawa perubahan besar bagi dirimu.


Hatiku mencelos setiap kamu mencetuskan jawaban gaya Pavlov, bahwa kamu baik-baik saja. Kenyataannya kamu malah terlihat aneh karena bersikap terlalu jelas. Kamu berbeda dengan mayoritas orang di sekitarmu. Definisi tentang ‘lakon umum’, berbeda sekali antara kamu dengan orang pada umumnya. Spontanitasmu yang teratur tidak muncul. Kamu tahu kapan harus menaruh sikap serius atau tidak. Tebakanku terhadap tindak-tandukmu setelahnya, terbukti salah total. Jangan-jangan menjadi terlalu biasa secara tiba-tiba adalah salah satu keabsurdanmu yang belum aku sadari sebelumnya. Hebat sekali kamu, menyesatkan pikiranku, memutarbalikkan ilmu empiris dan secara tidak langsung menciptakan formula berpikir yang baru untukku.

Hei, kamu pernah bilang aku perlahan berubah. Layaknya dalam sebuah drama picisan di mana seorang tokoh berubah. Tokoh lainnya menyelamatinya jika tokoh tersebut berubah menjadi pribadi yang lebih baik berdasarkan moralitas yang berlaku. Tetapi, jika sebaliknya, tokoh lain akan berteriak secara dramatis, “Ini bukan diri kamu yang dulu!” Aneh yah. Dan menurutku tidak adil bagi tokoh yang mengalami perubahan itu. Dari mana mereka tahu, bahwa bagaimana dirinya yang sebenarnya? Pada dasarnya, manusia sulit untuk puas, cenderung menuntut kesempurnaan yang tidak akan pernah tercapai, sekaligus cenderung mencari pembenaran diri sendiri atas nama ego dan persepsi.

Aku maupun kamu sudah lelah sekaligus masih bersemangat dengan permainan alam ini. Kita hanya tidak tahu kapan harus berhenti bermain dan berlabuh. Kita selalu penuh dengan rasa ingin tahu apakah yang akan terjadi jika permainan dilanjutkan.

“Ayo kita membuat dimensi paralel!” Ide gila yang menakjubkan darimu.

Selayaknya karya komposer klasik yang menghadirkan keabadian sebuah ruang dan waktu, keeksistensiannya bertahan hingga akhir zaman. Mulailah kita, bermain imajinasi seperti biasanya. Kamu percaya bahwa segala suara yang pernah tercipta tidak akan pernah lenyap.

Suara-suara itu merangkak, berlalu-lalang sepanjang masa.

Kamu berbicara dengan lantang, menceritakan segala impianmu kepada angin kecil yang lewat di hadapanmu. Kamu sangat yakin, angin kecil itu akan berkelana ke seluruh penjuru dunia, menceritakan kembali impianmu sepanjang pengembaraannya, menjadikan impianmu nyata dan kekal.

“Ayo, cepat, cepat, ceritakan juga segala impianmu!”

Kamu memandangi kedua mataku langsung, tegas. Maka aku pun berbisik pada embun pagi, mengatakan segala impianku, berharap pada setiap awal hari yang baru, dunia akan mengenang hari ini. Di mana dua orang yang sama absurdnya, percaya bahwa keabadian impian akan menjadi nyata.


Sebuah tanah lapang yang diselimuti rerumputan hijau. Aku dan kamu sedang duduk di sebuah kursi panjang yang membelakangi sebuah batu besar berlumut. Kursi ini memiliki bentuk yang membosankan menurutku, terbuat dari papan-papan kayu yang dipaku sembarangan, dengan cat putih yang hampir semuanya terkelupas. Di seberang kursi ini, terdapat kursi yang hampir kembar dengan kursi yang sedang kita duduki. Perbedaannya hanyalah area di mana cat putih itu mengelupas.

Kita duduk di kursi yang sama, di kedua ujung yang berbeda. Kamu menatap sebuah genangan air luas yang memisahkan kedua kursi. Meskipun kamu memandang genangan air itu dengan keceriaan yang berlebihan, aku tahu kamu hanya mengistirahatkan pandanganmu pada titik hampa itu, tanpa pertimbangan sulit meletakkan titik itu begitu saja pada genangan air di hadapanmu. Sementara itu, aku sibuk memainkan ujung kakiku, mencapai lembut satu persatu tumbuhan Putri Malu yang hidup bergerombol, dan bersemangat ketika daun-daun itu menguncup, malu.

Kita sibuk dalam lamunan masing-masing. Entah apa yang kamu pikirkan. Aku hanya menikmati suasana sore ini, lalu menggumamkan sebaris melodi yang sedari tadi terperangkap dalam pikiranku. Aku berhenti bersuara, berhenti bergerak. Tak dinyana, kamu melanjutkan melodi itu dengan ritmemu yang khas. Begitulah, kita bergantian melatunkan bunyi, sampai akhirnya kita bernyanyi bersama tanpa lirik, menghasilkan satu kesatuan musik yang unik, dan secara bersamaan kita berhenti tanpa aba-aba dengan akhir yang menggantung.

Tiba-tiba kamu menghetakkan sebelah kakimu keras-keras pada genangan air itu, hingga air membasahi dirimu. Bahkan wajahku juga terkena sebagian kecil percikan air itu. Sesaat aku melihat bayanganmu yang terpecah di genangan air. Kamu menoleh ke arahku, lalu bangkit dan berjalan pergi meninggalkanku. Aku menyusulmu, namun gerakanmu terlalu cepat untuk diikuti. Sempat aku melihat, kamu melesat ke arah sana, yang dihalangi batu besar itu.

Hilang. Tanya.


Ribuan tanda tanya terus menyerbu tanpa ampun. Pernah kamu menggoreskan suaramu kepada jarum jam tua. Kita abadi, waktu fana.

Kamu menolak untuk mengikuti aturan alam yang ada, tentang keabadian waktu. Kamu memilih untuk tenggelam dalam imajinasimu sendiri, terpikat dengan ciptaan benakmu sendiri. Orang lain mungkin melihat hal tersebut sebagai sebuah kebahagian semu. Tapi kamu sengaja berusaha membalikkan sudut pandangmu, menukar kedua dunia yang saling bertolakbelakang. Di mana kamu ingin menjaring waktu, mengurungnya, lalu meniadakannya.

Kini tanda seru turut berebut tempat dengan tanda tanya dalam pikiranku. Aku berhadapan dengan cermin, benda yang paling kau benci.

Pantulannya terlalu jelas, meski semu dan terbalik.

Aku rasa kamu sebenarnya mengagumi kemampuan cermin, tetapi kecewa karena cermin hanya mengagungkan indera visual. Cermin itu, memperlihatkan bayanganmu, tepat berada di samping bayanganku. Kenyataannya, satu-satunya yang dapat kugapai di sampingku adalah udara.


Aku menghampiri batu besar berlumut itu, tempat kau terakhir terlihat. Tidak ada apa pun di sana. Baik sepasang kursi panjang hampir kembar, atau pun genangan air yang tadinya berada di sana. Bahkan Putri Malu yang dulu sangat rimbun, lenyap. Hanya batu itu yang tersisa, dengan lumut yang semakin banyak menyelimutinya. Lumut-lumut itu berkonspirasi, membentuk sebuah gambaran raut wajahmu dengan ekspresi datar.

Angin kecil, salah satu sahabatmu berseliweran di sekitarku. Tidak, belum saatnya, masih belum.

Tanya. Kembali. Gelisah.

Aku memejamkan mataku erat-erat, berusaha melenyapkan prasangka yang mulai bersarang di kepalaku. Terjadi semacam keributan melankolis, dan suaramulah yang satu-satunya bertahan dengan nyaring. Sayup-sayup, merengkuh.

Kita abadi, waktu fana!


Kamu sering menggunakan benda-benda mati sebagai metafora benda- benda hidup, selayaknya bicara dan bernafas. Kamu berkeras bahwa mereka semua memiliki jiwa, hanya saja dimensi realita memenjarakan gerak-gerik mereka. Karena itulah, kamu merayu mereka semua untuk bersekongkol denganmu, mengikutimu ke dalam sebuah paradoks yang kau ciptakan. Tanpa kamu ajak pun, tentu mereka setuju.

Aku sendiri merasakan daya pikat yang mengagumkan, menakjubkan, dengan kata yang tidak bisa aku ungkapkan. Di sana, kamu mengotoritaskan suatu kebebasan, mencairkan kekakuan realita. Seluruhnya saling berkaitan, sekaligus saling terlepas. Dalam realita, hal itu dapat dianalogikan sebagai dirimu sendiri.

Entah apa yang terjadi. Semua makhluk yang ada di sini menyadari kehilanganmu, tetapi satu pun tidak ingin mengakuinya. Satu demi satu, mereka hilang secara misterius, seperti dirimu. Kini tinggal aku berdua dengan matahari, dalam kekosongan dimensi ini. Matahari terus melaksanakan tugasnya untuk bersinar meski awan tiada. Seolah pekerjaannya yang paling penting hingga ia tiada ialah mempautkan dengan kuat, antara aku dan bayanganku. Tidak ada lagi angin kecil. Tidak ada lagi embun pagi.

Keteguhanku tentang keabadian impian-impianku dan kamu sedikit demi sedikit terkikis. Katamu kita abadi, tapi kamu pun menghilang. Aku sendiri turut menipis, menjelma sebuah siluet pudar.

Sakit.

Menurut desas-desus, matahari mengetahui sebuah rahasia kecilmu. Ah, tentu saja ia mengetahuinya. Di tempatnya ia dapat melihat segala sesuatu yang ada di dimensi ini dengan jelas.

“Aku akan memberitahumu keberadaannya kepadamu. Aku akan mematikan cahayaku, meniadakan diriku. Dengan begitu aku juga akan meniadakan bayanganmu, membuatmu senyata saat permulaan, menghadirkanmu dalam dimensi di mana ia berada sekarang.”

Oh, aku tidak tahu aku siap atau tidak. Meskipun matahari sering bertingkah menyebalkan, teramat pilu untuk membayangkan jika aku juga harus kehilangan matahari, satu-satunya yang tersisa. Atau mungkin aku hanya tidak sanggup untuk perlahan lenyap sendirian.

Matahari membujukku, “Aku bahkan tidak tahu kapan aku juga akan menghilang. Jika ia kembali, semuanya juga kembali.”

Matahari mulai meredup, lalu sirna. Aku tidak tahu senyata apa aku sekarang, berada dalam kekosongan yang begitu gelap. Aku berdiri tepat di mana aku terakhir melihatmu. Seketika itu juga, aku merasakan diriku seperti anak panah yang melesat bagai angin beliung. Seluruhnya terjadi terlalu cepat. Aku terbang meliuk-liuk dalam sebuah terowongan dengan banyak pusaran lubang di segala sisinya. Kemudian aku terpental menuju sebuah lubang kecil.

Aku melihatmu di sana, terbaring dengan mata terpejam.

Aku harap aku tidak terlambat.


Aku benci harus berdiam diri terus di sini, tidak berdaya. Aku tidak menyukai lirikan maupun bisik-bisik itu, tatapan dengan rasa kasihan yang dibuat-buat. Kadang aku mengendap-endap keluar dari ruang yang terasa seperti penjara ini. Biasanya itu akan berbuntut dengan amarah yang ditujukan kepadaku, katanya, demi kebaikanku sendiri. Aku harus tinggal di sini, mengulur ketiadaanku. Aku memberontak.

“Aku jauh lebih memilih kebebasan singkat daripada terkurung selamanya!”

Mereka malah menangis. Ah, serba salah.

Akhirnya kuputuskan, aku akan pergi sekaligus tetap tinggal. Aku masih memiliki pikiran yang sehat. Meski aku diam, batinku mengawang, terbang. Aku pergi pada sebuah kehampaan, di mana aku menciptakan dimensiku sendiri, berimajinasi. Betapa menyenangkannya! Aku mendambakan sinar matahari, dan matahari muncul! Aku bahkan dapat bercakap dengannya. Aku kembali membayangkan awan, angin, kursi di taman ketika aku menyelinap.

Aku harap selamanya bisa begini. Aku berusaha mengubah sudut pandangku, bahwa aku hidup di dimensi yang aku ciptakan, sementara dimensi semula hanyalah mimpi buruk yang terus bersambung. Aku ingin membagi duniaku dengan mereka, tapi mereka sepertinya tidak memiliki daya khayal yang menakjubkan sepertiku. Aku menikmati kebebasan yang aku miliki dalam dimensi paralel ini. Tapi ternyata, sendirian tidak terasa nyaman. Maka aku membayangkan sosokmu, cukup kamu. Aku tidak perlu orang lain. Di hadapanmu, aku tidak pernah berpura-pura.

Kamu adalah refleksi diriku sendiri.

Saat itu aku dan kamu sedang duduk berdua di sebuah kursi panjang. Salah satu masa paling damai dalam hidupku. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah hantaman berat di kepalaku. Aku meronta, memberontak. Hal itu mau tak mau menarikku pada realita yang sesungguhnya. Mulai saat itu, kesadaranku mulai menghilang. Bahkan sekarang, pikiranku turut bertentangan dengan diriku sendiri.

Aku sangka, tidak lama lagi aku pun akan hilang, baik dari imajinasiku sendiri atau realita ini. Waktu yang merasa telah dilecehkan, sebentar lagi akan meniadakanku.

Waktu abadi, aku fana.

Seketika saat aku selesai mengucapkan hal itu, aku melihat sebuah pusaran gelombang kecil. Dari dalamnya, aku melihat kamu. Ah, aku sudah berhalusinasi tentunya, karena kamu menghampiriku begitu saja tanpa otoritas imajinasiku. Tapi, tidak, sosokmu nyata! Imajinasiku hanya berpusat pada indera visualku. Sementara itu aku dapat merasakan sentuhanmu, mendengarkan suaramu. Kamu meraihku, mengajakku kembali pada dimensi yang pernah aku ciptakan.

Ajaibnya, saat aku mengiyakanmu, aku merasa benar-benar kuat. Aku mengikutimu, melewati lorong gelap yang berujung pada kehampaan ruang-ruang yang dibatasi oleh suatu sekat, persis ketika dulu aku pertama kali berada di sini. Hanya kali ini, aku memulai semuanya denganmu. Aku tahu, selamanya aku akan berada di dalam dimensi paralel ini.

Kali ini, aku benar-benar bebas dari segalanya.

Waktu tertawa getir.


Tulisan ini sebenarnya adalah gabungan dari proyek #7harimenulis yang iseng saya buat. Silakan nilai sendiri, apakah karya ini termasuk cerpen atau sajak atau cerpen yang dipuisikan atau puisi yang dicerpenkan. Entahlah. Selain saya muat di blog saya yang sebelumnya, tulisan ini juga dimuat di Banjarmazine.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.