Pulang

Di persimpangan belah tiga itu, kau termenung. Dari masa lalu, menuju bulir-bulir yang terkekang. Meriba perselaan tetesan mata dan keringat, kau mengingat sekias corak memento. Maaf. Maaf. Maaf. Kotak tersebut telah terserak. Lirih memompa kotak kosong, dengungkan kesahajaan sebuah ironi yang terinai. Kau pertautkan kelopakmu dengan sebilah gering. Tidak hiraukan jalan, kau mewujudkan setapak, lurus meniadakan segitiga. Sisa-sisa bunga kuning mengaduh. Tidak cukupkah kasih surya dan permohonan tanah? Maaf! Maaf! Kotak menimbrungi dengan loncatannya yang khas, meminta muatan apapun selain kehampaan. Pergi! Pergi! Ke mana lagikah arah angin yang menarikan bunga-bunga kering yang telah fana? Kepada julang anak-anak tangga nirwanakah atau kesia-siaan? Aku masih harus terus berjingkat!

- Maria Isabella
November 2014

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.