Sayang!

Sayang.

Maaf.

Terima kasih.

Aku cinta.

Aku meminta maaf kepadamu, sayang. Aku telah mengingkari janjiku untuk terus -menerus menulisimu beragam macam surat yang berpusat pada cinta selama 30 hari. Adapun aku telah menulis tentang cinta yang begitu ilahi, betapa inginku kamu menjadi biji mata-Nya. Aku menulis surat tentang kecintaanku kepada musik. Aku bahkan menulis surat yang aku tidak yakin bisa dikatakan sebagai surat cinta.

Karena bagiku, sayang, cinta bagaimana pun uniknya adalah universal.

Namun kali ini, biarkan aku menuliskan surat cinta yang biasa dituliskan oleh khalayak umum. Segala yang berpusat pada seseorang.

Kamu, sayang.

Aku bahkan terlalu segan padamu, hingga baru menuliskan surat terakhir ini di menit-menit pada putaran jam yang teramat genting. Surat terakhirkah ini? Barangkali surat ini adalah titik balik untuk bertolak pada sesuatu yang akan melampaui segala macam surat. Aku pun tidak tahu sayang. Yang aku tahu, aku tidak ingin berpura-pura kepadamu. Segala yang aku tulis padamu mengalir begitu saja. Aku bisa saja memuisikan kamu, mengungkapkan segala hal yang menyangkut tentangmu secara tersirat, tapi aku tidak mau. Bagiku kamu adalah sosok yang terlalu nyata, gamblang begitu adanya. Kamu memang tidak sempurna, namun ketidaksempurnaan itu sudah cukup sempurna bagiku.

Pada kesempatan yang mungkin jadi yang terakhir, sayang, aku ingin membeberkan rahasia kecilku. Segala surat telah yang aku tulis, bisa jadi tidak dapat digolongkan ke dalam surat cinta. Namun segala surat itu, entah dari awal sampai akhir, atau secuil, selalu ada sepotong kamu yang aku selipkan, hingga aku yakin hanya kamu yang akan menyadarinya. Jadi, bila kamu menimbang-nimbang pikiranmu sendiri, apakah hal-hal yang aku tulis tidak sengaja mirip dengan sepotong hidupmu… Ya, aku sengaja melakukannya, menulisnya begitu rapi secara terselubung.

Kamu bisa jadi sedikit kecewa saat tahu aku sengaja menyelipkan sepotong kamu pada setiap suratku, namun pada akhirnya hanya menuliskan segelintir surat yang dapat dihitung dengan jari. Meski aku tidak menuliskan surat untukmu, bukan berarti aku berhenti memikirkanmu. Maaf. Aku tidak ingin membuat alibi apa pun. Jadi… maafkan aku sayang. Itu saja. Satu yang pasti, maafku kepadamu tulus.

Kalau pun kamu membaca surat ini, terima kasih banyak sayang! Nyatanya kamu dengan setia menanti suratku sampai akhir meski aku begitu lalai. Ah, kamu mau membaca suratku, sudah menjadi suatu berkat bagiku.

Sudahlah sayang. Sesungguhnya aku masih ingin menuliskan banyak hal tentangmu. Hanya saja aku takut kalau aku akan terlambat, hingga kau benar-benar tidak akan membaca suratku lagi.

Sayang, aku cinta!


Pada akhirnya saya hanya menulis 7 surat cinta, dan ini adalah surat yang terakhir. Saya tidak tahu apakah saya akan menulis surat yang sentimentil seperti ini lagi.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.