Siklus

I

Fajar menyingsingkan kepulan embun yang terakhir.
Kau menyapukan jemarimu pada bidang pasir kuarsa itu,
mereka-reka aksara asing
demi sebuah metafora masa lalu
yang mengapung di sepasang sudut mata,
turut berkaca.

“Terlalu bias,”kilahmu,
ah, memang tak ada ambang batas antara bertahan,
dan berserah pada takdir yang menganyir,
“nanti gerimislah yang akan menghapus
barisan garis-garis ini.”

Dan engkau,
akan kerutan alis yang tak kian pudar,
kapankah segala prasangka itu hilang?

Lalu bulir-bulir bening yang entah darimana,
menghapuskan jejak sidik jarimu.

Pergi.

II

Sinar yang terik itu berhamburan ke segala penjuru.
Semesta membungkusnya dalam linangan batang air
mengeriapkan sebuah rindu yang tak tertulis.
Kita tidak pernah tahu akan arti ganjil dan genap,
mempertaruhkan nasib pada helai-helai kelopak yang layu,
“bukankah teramat gamang?”

Sebab sebuah perumpamaan yang paling sulit diterka artinya,
barangkali memang tidak pernah punya arti.
Dan kalimat manis sederhana,
menjelma untaian candu yang mengekang relung sanubari.

Maka aku
membiarkan angin membawa rimbunan kelopak itu.

Terbang.

III

Bulan bisa jadi iri pada sebongkah bola lampu yang rapuh.
Ia tak dapat menelusuri bilik yang terhalang tirai tebal,
apalagi kehampaan yang tak berdasar.

“Jangan bergantung pada apapun,”lirihmu,
saat sinar yang paling temaram berdenyut lemah pun lenyap,
segala bayangan turut menyamar dalam kekelaman.

Kutukan gerhana terlalu kuat,
jangan berolang-aling? Semesta sering mengolok,
namun gerak-gerik bumi selalu statis.
Surya sesekali dapat mencumbui rembulan,
“tak terelakkan.”

Lantas aku
mendobrak dinding-dinding pembatas,
sekadar bertanya pada Sirius.
Ia menunjuk sebuah bayangan yang belum memiliki nama.

Dan angin yang paling bebas pun,
hanya bergerak pada satu arah.

Pulang.

- Maria Isabella
Banjarmasin
4 Januari 2015


Puisi ini saya tulis sesegera mungkin, karena saya tidak bisa untuk menahan dorongan inspirasi setelah membaca puisi Ade’lia karya Wes John ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Maria Isabella’s story.