Fiona

Mario Christian Sumampow
Jan 15 · 3 min read

Lahir dan besar menjadi seorang wanita yang biasa-biasa saja. Dikelilingi keluarga semi-konservatif. Suka bermusik. Cinta melukis. Kini sedang menginjak usia yang dikenal oleh banyak orang sebagi usia mid-life crisis. Duduk menghadap komputer hampir 8 jam setiap harinya. Menghitung keluar masuknya uang. Terpaksa bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sebab orangtuanya masih menggangap kerja lepasnya sebagai seorang pelukis bukanlah sebuah pekerjaan.

Orang-orang memangilnya Fiona. Perempuan yang lebih senang mendengar daripada berbicara, tapi isi kepalanya selalu riuh. Ia juga seseorang yang sangat menyukai sepi tapi benci kesepian. Sejak kecil, tempat yang kosong tidak akan pernah kosong lagi jika tangan-tangan mungilnya mulai bergerak melukiskan cerita-cerita kehidupan yang ia tuangkan dari dalam kepalanya.

Terkadang, terlalu banyak melukis membuatnya muak. Itulah kenapa ia juga menyukai musik, melukis di atas kanvas kadang ia ganti begitu saja dengan melukis tangga-tangga nada untuk sebuah puisi. Jika suatu hari sedang melas-malasnya, ia hanya berbaring dan melukiskan awan-awan di kepalnya.

Pernah suatu kali, awan yang ia lukis menjadi sebuah dunia baru. Dunia di mana manusia-manusia hidup berasal dari kapas. Begitu putih dan bersih, tapi begitu ringan sehingga ketika lahir, sekejap kemudian hidupnya lenyap bersama angin.

Fiona selalu jatuh cinta dengan bulan Desember. Getaran, angin, suhu, hijaunya pohon Natal, bahkan hingga diskon-diskon. Bulan Desember adalah masa di mana waktu berjalan begitu lamban baginya. Membawanya pulang ke kampung halaman, kembali memeluk bantal-bantal lamanya yang selalu dicuci sang Ibu meski ia tidak ada di sana sepanjang tahun.

Desember adalah sebuah keceriaan dan kesedihan. Karena ia tahu, kedatangan Desember berarti juga sebuah kepulangan. Mau tidak mau Desember nanti harus pergi menjauh. Kembali membiarkan manusia-manusia menerima kembali kenyataan. Membuat manusia-manusia kembali bekerja sembari berpikir apa makna hidup mereka.

Di setiap malam bulan Desember yang hangat Fiona selalu melukis kemudian selepas itu ia menangis, karena baginya bisa saja esok atau seterusnya dingin akan datang. Ia hanya tidak ingin hangat lupa untuk kembali, sesederhan itu.

Ketika bertemu teman-teman lama, mereka selalu meminta Fiona untuk melukiskan wajah mereka. Sama halnya seperti ketika teman seorang anak jurusan psikologi langsung ditodong untuk membaca sifat mereka, anak jurusan bahasa bahasa Jepang yang ditanyai sudah menonton anime apa saja, atau anak jurusan komputer yang juga langsung ditanyai apakah bisa menginstal ulang komputer dan ‘apa anti virus paling bagus?’

Namun, ia selalu menolak untuk melukis teman-temannya. Di dalam hatinya, ia bersyukur bahwa kehadiran teman-temanya lah yang justru melukiskan bunga-bunga matahari di dalam dirinya. Kemudian bunga matahari itu semakin tinggi hingga bunga itu berubah menjadi matahari sungguhan yang menghangatkan setiap ruang di dalam dirinya.

Ada dua hal tentang sesuatu yang kita cintai, yaitu pergi terlalu cepat atau tidak akan pernah bisa kita miliki. Desembernya Fiona, pergi terlalu cepat. Tanpa pamit ataupun meninggalkan apapun kecuali cerita-cerita yang siap ia bungkus, Desember pun pergi. Sepagi itu, matanya seberat baju-baju belum diperas yang penuh dengan air. Satu lagi Desember yang pergi. Selamat datang kembali para penjahat hidup, batinnya.

Seperti harapan yang dilayangkan banyak orang entah kemana, Fiona yang rambutnya hari ini bertambah sedikit panjang, entah bagaimana mempercayai satu hal mengenai sebuah zat di luar sana yang mampu menampung, mendengar, dan mengabulkan.

Terlepas dari banyaknya syukur dan maaf di dunia yang akhir-akhir ini menjadi hal sepele, bumi yang dipenuhi teriakan omong kosong, hilangnya empati, dan keserakahan yang berkeliaran; sekali lagi, Fiona ingin kembali melukis doa-doa untuk siapa saja yang sedang kesepian pun merasa hidup sia-sia.

Terkadang, kita tidak tahu untuk apa dan siapa kita hidup. Lelah dan berhenti kadang menjadi kata terdepan yang mungkin bisa saja kita ambil. Namun, terlepas dari itu semua, hidup kita adalah keajaiban tanpa jawaban. Besok, aku ingin lebih banyak bercerita, bercita-cita lalu bercinta daripada harus layu, malu, menjadi sepatu kayu yang bergerak beradu mengkikut dadu.

Kemudian, Fiona beranjak dari tempat tidurnya. Menuju toilet dengan langkah yang sangat ringan. Bisa saja pagi itu, saat itu juga, merupakan buang air besar yang paling membahagiakan bagi Fiona ketika ia tahu bahwa dunia ternyata masih baik-baik saja. Setidaknya begitulah yang ada di dalam kepalanya.

Tulisan ini juga diterbitkan di bersukario.wordpress.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade