pixelstalk.net

Kontemplasi Batin

Sebuah renungan diri untuk memaknai arti berbuat kebaikan.

Tulisan ini ku dedikasikan untuk orang-orang yang telah menginspirasiku untuk berbuat kebaikan. Terima kasih.


Beberapa waktu ini diriku mengalami paradoks yang menciptakan senyap di batinku sendiri. Seorang ENFP dengan hasil feeling yang mencapai seratus persen tidak lagi merasakan hangatnya dunia dengan perasaannya. Keseharianku dilakukan dengan berpikir, perasaanku pun hambar dan mati rasa.

Saat itu aku tidak lagi sedih melihat orang lain menangis, tidak merasakan apa-apa saat orang lain berbahagia, tidak berusaha memperbaiki masalah yang ada, bahkan tidak merasakan apa-apa ketika ada yang mengkritik. Aku sengsara, aku merasa seperti kerang yang berpindah cangkang yang tidak pas, bahkan aku merasa seperti robot yang tidak memiliki hati. Yang paling buruk, aku merasa diriku yang sebenarnya sudah hilang menyatu dengan angkasa. Entahlah, saat itu hatiku benar-benar mati rasa.

Betapa beruntungnya aku saat tiba-tiba ada seseorang yang datang dan pelan-pelan membantuku untuk memulihkan batin. Entah bagaimana, seseorang itu sangat sabar menghadapi diri tanpa hati ini. Kebaikan-kebaikannya turut menyadarkanku akan pentingnya hati. Dan yang terpenting, sikapnya membantuku untuk kembali ke diri yang sebenarnya.

Lama-lama aku merasakan orang-orang terdekatku dan semesta pun ikut membantuku untuk kembali ke cangkang yang pas. Diri yang sering memperhatikan orang lain pun kembali. Aku sering terinspirasi oleh orang yang berbuat kebaikan, maka saat kurenungkan hal tersebut, kuputuskan untuk menulis tulisan ini.


Yang pertama, dikhususkan untuk ayahku. Aku dididik oleh kedua orangtua yang terdidik dengan sangat keras, terutama ayahku. Dulu, aku terbiasa dengan bangun pagi yang kadang-kadang diteriaki, dengan patroli jam dua malam untuk melihat apabila aku belum tidur, dengan jemputan yang apabila satu menit saja belum keluar langsung ditinggal, bahkan apabila menangis malah tambah dimarahi.

Semua itu dilakukan untuk mendidikku agar menghargai waktu dan oranglain. Semakin dewasa, aku menjadi mengerti mengapa ayahku mendidikku dengan didikan keras, dan aku sungguh berterimakasih akan itu. Disamping itupun aku merasa ayah memberi kasih sayang seluas langit kepadaku. Seringkali aku dimarahi apabila tidak mengucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberi, tidak meminta maaf apabila aku melakukan kesalahan, atau tidak mengucapkan kata “tolong” apabila membutuhkan bantuan.

Banyak hal-hal kecil yang kulakukan berkat hasil dari didikan ayahku. Hal yang paling aku ingat adalah ayah beberapa kali membawa anak jalanan ke dalam rumah untuk makan bersama dan terkadang memintaku untuk mengajarkan pelajaran dasar, mungkin momen ini yang membuatku sampai saat ini tertarik untuk mengajarkan anak-anak yang kurang mendapatkan pendidikan yang layak.

Ayah selalu menekankan untuk menghargai oranglain dan waktu. Setelah menghargai, banyak-banyaklah memberi. Ayah merupakan role model utama ku dalam berbuat kebaikan. Semoga Ayah tenang disana. Aku sungguh rindu.


Yang kedua, untuk orang-orang terdekatku, termasuk di dalamnya keluarga dan teman-temanku. Selain dididik oleh ayah yang keras, aku pun dididik oleh ibu yang keras juga. Hal yang paling aku suka dari Ibuku adalah apresiasinya yang sangat besar dan kepribadian easy going-nya yang sangat terlihat. Walaupun memiliki watak yang keras, namun disisi lain, Ibuku sangat friendly kepada semua orang dari semua kalangan. Hal itu yang terus menginspirasiku untuk selalu ramah kepada semua orang dari semua kalangan.

Selain itu, banyak teman-temanku yang sungguh menginspirasi. Ada salah seorang teman yang suka sekali memuji oranglain, darisitu aku belajar untuk selalu melihat kebaikan di diri seseorang ketimbang kekurangannya. Lalu ada seorang teman yang sangat peduli terhadap orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, sesungguhnya aku sangat terinspirasi, karena sampai saat ini aku tidak mengenal orang yang tinggal di sebelah rumah tempat kosku.

Ada seorang teman yang selalu membuang sampah di tempatnya dan sering memungut sampah yang ada di depannya. Bahkan, dia sempat memungut dan membuang sampah yang dia temukan ketika sedang berlari saat mata kuliah olahraga. Ada teman yang sering mengajak berbicara orang yang pemalu dan seringkali sendirian. Bahkan ada seorang teman yang apabila dipanggil, tidak hanya menolehkan kepala, tetapi menghadapkan seluruh tubuhnya ke lawan bicaranya, kesantunannya sungguh menginspirasi.

Ada juga teman yang sampai saat ini menginspirasiku untuk selalu mengembalikan piring ke tempatnya apabila makan di kantin ataupun di pedagang kaki lima. Satu lagi teman yang sangat menginspirasiku, dia selalu menyapa semua orang yang dikenalnya, bahkan satpam, pedagang kantin, pedagang kaki lima, karyawan yang sering bebersih, dan yang lainnya. Semua hal ini sebenarnya hal-hal kecil yang berarti, yang mungkin juga tanpa sadar dilakukannya karena sudah mendarah-daging. Aku sungguh banyak belajar dari mereka.


Dan yang terakhir, untuk orang-orang di luar sana. Beberapa waktu lalu, aku melihat video seorang pria dari Finlandia menyumbangkan mainan yang sangat banyak untuk anak-anak di Aleppo, Suriah. Video itu sangat menyentuh karena dengan satu boneka kecil, satu anak di Aleppo mendapatkan secercah kebahagiaan untuk menjalani kehidupannya. Aku sangat bersyukur karena di dunia yang kejam ini masih banyak orang-orang yang terpanggil untuk membantu dengan bermodalkan hati nurani.

Sore ini aku melihat ada seorang remaja yang bernyanyi dengan gitar dikelilingi banyak anak-anak kecil yang melihatnya dengan penuh kebahagiaan. Serta inspirasi-inspirasi lainnya dari banyak orang yang tak terhitung jumlahnya.

Aku pernah berpikir bahwa mungkin apabila satu orang yang cukup mampu membantu satu orang lainnya yang kurang mampu, dunia tidak akan sesengsara ini. Mungkin saja tidak akan ada masalah kemiskinan di dunia, atau bahkan kelaparan, atau kehidupan yang kurang layak. Tetapi, mungkinkah?


Ternyata memang banyak hal-hal yang menurutku sederhana untuk dilakukan, tetapi berdampak besar untuk oranglain. Banyak orang-orang hebat di sekitarku dan di luar sana yang memberi inspirasi untuk selalu berbuat kebaikan. Banyak hal-hal kecil yang sebenarnya berdampak tetapi luput dari perhatianku.

Bahwa kebaikan menurutku seperti cahaya matahari, yang memancarkan cahaya ke dirinya sendiri, ke sekitarnya, bahkan ke tempat-tempat jauh menyentuh daerah gelap dan tertutup. Dan cahaya matahari itulah, yang selalu mengagihkan cahaya untuk orang-orang yang mencarinya.

Semoga di masa depan aku terus bertemu orang-orang yang selalu menginspirasi untuk berbuat kebaikan.


Bandung, 1 Oktober 2016

Marsha E. Miloen

Terima kasih telah membantuku untuk memulihkan batin ini.